AFI

Category Archive : Perspektif

MARI BELAJAR MEMBACA ALQURAN (LAGI)

Oleh: Dr. R. Lukman Fauroni, M.Ag.

Sumber foto: https://images.app.goo.gl/yK7eyvBfJ3Vr751w6 |https://m.industry.co.id/read/64113

Setiap bulan Ramadhan salah satu televisi swasta nasional menayangkan Hafiz Indonesia. Tayangan ini menyuguhkan lomba kepiawaian para hafidz-hafidzah cilik dari seluruh penjuru negeri hasil seleksi per wilayah. Menonton tayangan ini di samping menyenangkan, terselip juga rasa penyesalan diri, terutama aspek hapalan Alquran. Betapa, anak-anak usia belia telah dapat menghapal Alquran dengan bacaan yang cermat, lancar, melapalan huruf-huruf dengan tepat dan hukum bacaan (ilmu tajwid) yang terjaga dalam lantunan irama yang syahdu.


Sewaktu di sekolah dasar atau madrasah Tsanawiyah dulu, dikisahkan oleh para guru, bagaimana para imam mujtahid seperi Imam Malik, Imam Syafii, Imam Hanafi, Imam Ahmad bin Hanbal dan lain-lain telah piawai menghapal Alquran 30 juz juga memahami kandungan isinya pada usia 7-9 tahun. Ketika sedang menggandrungi pemikiran-pemikiran rasional saat mahasiswa, informasi seperti itu kurang menarik perhatian. Tetapi kini justru sebaliknya. Menghapal di usia menjelang senja, dirasakan tidak mudah, meskipun sudah dibantu dengan memahami terjemahnya.


Alhamdulillah di negeri kita, telah bertabur bintang-bintang cilik para hafiz Alquran. Di zaman yang serba mekanis bahkan materialis, suguhan tayangan televisi hafiz Indonesia, seperti oase di padang pasir. Terbayang bagaimana senang dan bahagianya menjadi orang tua dari anak-anak penghapal alqur’an. Tanpa disadari di ujung bagian kedua mata sudah sembab oleh air mata.


Bangga atas religiusitas di Nusantara yang telah sejak lama mengedepankan dan memberi apresiasi tinggi terhadap para pembaca dan penghapal Alquran melalui berbagai even. Musabaqah tilawatih quran (MTQ) misalnya kini semakin banyak digelar untuk berbagai kalangan dan berbagai tingkatan yang semakin digemari. Bahkan telah dilombakan pula musabaqah syarhil quran yaitu lomba memahami kandungan dan makna ayat-ayat Alquran.


Dalam kenikmatan menonton tayangan itu 3-4 hari lalu, tiba-tiba teringat enam kelas mahasiswa, tiga mata kuliah yang diampu pada semester ini dengan pembelajaran daring atau jarak jauh. Teringat pula sewaktu menguji dan melakukan pendampingan standar kompetensi lulusan Alquran (SKL) setiap tahun yang ternyata lebih dari 70% mahasiswa tidak lulus otomatis ujian membaca Alquran. Faktor latar belakang pendidikan SMA, SMK MA non pesantren, sering disebut oleh penguji ketika evaluasi. Betulkah?


Rasa-rasanya faktor pendidikan dasar dalam keluarga inti atau bathih yang paling menentukan. Jika ayah atau ibu mengajari langsung membaca Alquran sejak kecil, insya Allah hasilnya akan berbeda. Masalahnya adalah, pembelajaran hal-hal dasar seperti baca tulis Alquran, fikih ibadah, seringkali dipasrahkan ke pihak lain. Terkesan, jika sudah belajar di TPA, ustadz, madrasah atau pesantren, lalu tugas orang tua dinilai selesai. Yang terpenting adalah memenuhi biaya pendidikannya.


Corona telah menjadikan setiap rumah sebagai sekolah, perguruan tinggi sekaligus pesantren. Dan kiainya adalah para ayah. Sebaik bacaan qariah nasional, bukankah sang ibu tidak dapat menjadi imam shalat berjamaah? Ayah benar-benar dilantik menjadi pemimpin yang harus menjalankan kepemimpinannya dengan adil dan bijak dalam keluarga inti. Keseharian dalam serumah; memasak, makan bersama, menyapu, mencuci, berada dalam kepimpinan ini dan dapat menguatkan relasi keluarga dalam balutan kasih sayang. Suatu kelekatan yang tidak mudah didapat, terutama bagi para orang tua yang bekerja atau berbisnis di luar kota.


Pertemuan minggu ini, sengaja saya memberi tugas yang tidak memberatkan. Setiap mahasiswa merekam dengan aplikasi yang dimiliki, bacaan beberapa ayat Alquran yang terkait dengan materi mata kuliah teologi Islam moral ekonomi dan akhlak tasawuf. Diikuti terjemahan dan kesimpulan kandungan ayat-ayatnya. Rekaman itu diupload kelas online per mata kuliah. Satu-persatu rekaman bacaan mahasiswa disimak dengan ekspektasi awal, bacaan mereka mirip-mirip atau paling tidak mendekati bacaan para hafiz cilik itu.


Pada aspek memilih ayat-ayat terkait materi mata kuliah, Alhamdulillah nyaris tidak ada yang keliru. Demikian pula ketika menjelaskan kesimpulan kandungannya. Namun pada aspek dasar bacaan ayat-ayat Alquran, rasa husnudzdzan saya ternyata tidak terpenuhi. Hingga refleksi ini selesai ditulis, bacaan rekan-rekan mahasiswa itu masih terngiang-ngiang.


Teringat jelas di benak penulis, pesan para dosen senior, bahwa tugas mengajar itu bukan semata transfer of knowledge. Yang terpenting adalah transfer of values and attitude agar menjadi pemantik, pendorong bangkitnya kesadaran dari dalam diri mahasiswa untuk move on dan bangkit, menjadi agent of social change based on morality. Dan juga ini – yang sangat tidak mudah- menjadi teladan nyata, dalam ilmu, sikap dan perilaku nyata. Merupakan kerugian nyata bagi para dosen dan juga institusi, bila motif mahasiswa mengikuti kuliah hanya untuk mendapat nilai semata. Semua mata kuliah di IAIN bagaikan pelita yang tidak pernah padam, sebagai penunjuk arah dalam perjalanan malam hari yang pekat gulita.


Ayo, Tidak Ada Kata Terlambat


Saat ini secara sadar, saya tidak menetapkan ekspektasi bacaan Alquran para rekan mahasiswa seperti hafiz cilik itu. Melainkan cara baca Alquran yang lancar dan tertib dalam makhraj dan tajwidnya. Tidak apa-apa, tanpa alunan yang syahdu. Seperti rasa mengendarai roda dua atau roda empat di jalan hotmic yang halus dan lurus. Begitu kira-kira.


Mungkin ada di antara mahasiswa yang “protes”, apa hubungannya mata kuliah yang penulis ampu dengan baca ayat Alquran? Atas pertanyaan itu, resapi perumpamaan ini; Bagaimana akan sampai ke tujuan, jika sopir masih keliru antara menginjak pedal gas dan rem juga persneleng. Para penumpang, memilih pindah kendaraan yang lain. Jika suatu bangunan rumah, tembok dan atapnya bagus dan kokoh, namun fondasinya lemah, bagaimana nasib rumah itu?


Rata-rata kekeliruan umum bacaan rekan-rekan mahasiswa atau yang belum baik adalah, panjang pendek bacaan, mad thabi’i dan mad-mad lainnya. Tekanan berharakat tasydid pada kata kedua. Berhenti atau bernapas di tengah ayat (bukan pada waqaf). Cara berhenti di antara kalimat yang tidak ada waqafnya dan cara mengulang bacaan. Sebagian makharijul huruf alias pelapalan beberapa huruf hijaiyah dan bacaan hukum tajwid seperti idzhar, ikhfa, iqlab, antara tafhim dan tarkik, membaca huruf-huruf muqata’ah dan lain-lain.


Rekan mahasiswa, saat ini dan sampai masa depan, ekspektasi masyarakat terhadap mahasiswa dan lulusan IAIN sangatlah besar. Tugas menjadi imam shalat di sebagian masjid, khotib jum’at, baca do’a dalam aneka pertemuan akan diserahkan pada rekan-rekan. Dan jangan menolaknya. Hal itu merupakan kepercayaan. Di banding lulusan perguruan tinggi lain, rekan-rekan lebih memiliki otoritas dalam bidang itu.


Tidak ada alasan sama sekali. Semua program studi di IAIN bahkan UIN adalah sama dalam pandangan masyarakat. Memiliki kelebihan dalam penguasaan ajaran-ajaran Islam. Itu adalah modal dasar yang taken for granted dan jangan disia-siakan. Penguasaan keilmuan keislaman semakin ke depan akan semakin dibutuhkan. Rekan-rekan dapat membayangkan. Apa jadinya bila kita dalam menghadapi covid-19 lepas dari ajaran agama kita?


Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, saya mengajak, ajar rekan-rekan yang dibanggakan dapat menggunakan waktu di pesantren rumah masing-masing untuk memperbaiki dan melancarkan bacaan Alquran. Pola sorogan atau setoran bacaan kepada orang tua atau saudara yang dinilai memiliki bacaan Alquran yang lebih baik adalah metode yang paling tepat.


Dengan metode sorogan bacaan yang belum tepat dapat langsung dikoreksi dan diberi contoh, sehingga kekeliruan bacaan tidak menjadi kebiasaan. Perkuat metodo belajar ini dengan aplikasi-aplikasi tata cara membaca Alquran. Yakinlah, dengan keinginan kuat dan usaha yang sungguh-sungguh insya Allah dalam beberapa hari hasilnya akan terlihat nyata. Menurut Syufyan at-Tsauri dalam Ihya ulumuddin Al-Ghazali; “Ketika seseorang membaca Alqur’an, maka malaikat mencium di antara kedua mata pembaca Alquran. Ayo belajar belajar lagi.* Lukman Fauroni, 28/04/ 2020.

Setelah Corona


© Original artwork by Jonat Deelstra

Semenjak Corona Virus Desease 2019 atau yang sering disebut dengan COVID-19 datang melanda dunia khususnya Indonesia, banyak sekali kemudian berita, unggahan-unggahan dalam berbagai media baik berupa video maupun tulisan yang berkaitan dengan Corona. Mayoritas masyarakat mulai berlomba-lomba mencari, mempelajari hingga berbagi informasi kepada sesama lagi-lagi seputar Corona. Tak ketinggalan anak-anak dan remaja yang gemar bermain game hingga Tiktok juga ramai memutar lagu remix yang digubah dengan lirik Corona. Jika benar ada dunia lain selain dunia manusia, jangan-jangan Corona pun menjadi trending topic  diantara mereka.

Dari sekian ancaman dan bahaya Corona yang menjadi kewaspadaan publik, baik fisik, psikis, sosio-politik, ekonomi, dsb ada hal utama lain yang juga menjadi perhatian adalah bagaimana mengatasi keadaan setelah Corona berlalu. Beberapa keterangan dari berbagai sumber yang disampaikan seperti munculnya reaktifasi virus atau reinfeksi pada pasien yang telah dinyatakan sembuh dari Corona, serta bagaimana kedepannya masyarakat dapat menyesuaikan diri kembali dengan keadaan. Mengingat bahwa tidak sebentar masyarakat (semasa pandemi) tengah dihadapkan dengan pola hidup baru diluar kebiasaan mereka selama ini, seperti kerja dari rumah masing-masing (work from home), belajar dari rumah, pembatasan sosial (social distancing), hingga menjaga higinitas dan proteksi diri dengan pola hidup bersih dan sehat.

Berada pada komunitas yang sebagian besarnya seringkali enggan beranjak dari ‘zona nyaman’, maka bisa dibayangkan jika ‘gaya hidup’ baru saat ini terus berlangsung dalam waktu yang tidak sebentar, maka perlahan masyarakat akan mulai terbiasa, menerima dan merasa nyaman dengan rutinitas baru, seperti orang Jawa mengatakan ‘witing tresno jalaran soko kulino’, karena sudah terlanjur kulino dengan beraktifitas hanya dari rumah saja, bebas tanpa berseragam, tanpa atribut, tanpa berhadapan dengan atasan atau menghadapi komplen massa secara langsung (bagi yang bekerja pada layanan publik), sehingga masyarakat akan semakin melekatdengan ritme kehidupan yang baru tersebut.

Dengan demikian, harapan segera berakhirnya masa pandemi ini bukan hanya sekedar agar terbebas dari ancaman bahayanya, tetapi juga agar menjadi perhatian bersama apabila kondisi ini berlangsung lebih lama maka (sebagai bentuk antisipatif) kita akan menghadapi tantangan nantinya berupa penyesuaian diri kembali, moving on from the new to ‘neo-normal’ lifestyle, karena ada banyak kebiasaan baru yang baik untuk tetap dipertahankan sehingga justru harapannya bukan kembali normal ‘seutuhnya’ seperti sebelum Corona, tetapi menjadi manusia dan kehidupan ‘normal’ yang baru dari pelajaran Corona. (AHM)