AFI

Category Archive : Kolom Mahasiswa

Dialektika Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Oleh: Ibnu Nurrohim

Sumber foto: https://www.google.com/amp/s/theconversation.com/amp/pentingnya-data-iptek-di-indonesia-bagaimana-meningkatkan-kualitas-dan-kebaruannya-104000

Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia tidak bisa terlepas akan peran suatu ilmu. Bahkan, praktik pola hidup manusia dari waktu ke waktu berjalan seirama dengan perkembangan ilmu itu sendiri. Manusia dan ilmu pengetahuan akhirnya menjadi dua entitas yang tak bisa saling dipisahkan. Selain itu, kemajuan dan perkembangan ilmu juga akan mengakibatkan manusia haus dengan ilmu, karena perkembangan akan selalu memberikan gairah baru bagi umat manusia. Semakin manusia mengerti, maka semakin pula ia mendalami.

Seiring berjalannya waktu, hegemoni ilmu dan pengetahuan telah sukses menghasilkan kemajuan signifikan di bidang teknologi. Adanya teknologi membuat manusia di era modern saat ini tentu akan sangat terbantu aktivitasnya. Kemajuan ilmu dan teknologi dari masa ke masa yang saling ‘kait-mengait’ ini, ibarat mata rantai yang tak terputus satu sama lain. Satu hal dengan hal lainnya dalam proses pemajuannya saling berhubungan. Kemajuan ilmu dan semakin canggihnya teknologi akan senantiasa bersinggungan.

Fakta di era pandemi sekarang ini, tak bisa dipungkiri bahwa teknologi benar-benar mengalami puncak eksistensinya, di mana baik dalam lingkup dunia pendidikan, ekonomi, maupun tata kelola pemerintahan, semuanya menggunakan teknologi sebagai medium paling efektif untuk menjalankan aktivitasnya dalam pekerjaan. Termasuk dalam mekanisme dunia pendidikan.

Tetapi di samping positifnya teknologi dengan segala kemudahan yang ditawarkan, juga memiliki dampak negatif bagi manusia. Meski aktivitas manusia terbantu, tetapi sadarkah kita bahwa teknologi juga memiliki efek candu bagi para pengguna. Candu di sini dalam artian bahwa manusia ketika ia sekali saja telah menggunakan teknologi tersebut, maka ia akan selalu mengkonsumsinya setiap hari, seperti halnya obat ketika ia dikonsumsi terus maka ia mempunyai resiko terhadap organ manusia, terutama dalam wilayah syaraf psikologis manusia (dopamin). Tak beda halnya dengan teknologi, sifat teknologi terkhusus handphone dan sejenisnya ia memiliki radiasi yang akan menggerogoti otak manusia.

Tak hanya itu saja, pastilah di setiap kehidupan manusia terutama di era modernisasi semua orang akan menggunakan media sosial dengan adanya itu kerap banyak orang mengalami depresi dikarenakan pengaruh media sosial. Seperti ketika banyak kabar hoaks tersebar di media sosial.

Teknologi Informasi dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan

Pengaruh dan peranan teknologi terhadap individu maupun kelompok telah menimbulkan berbagai perubahan dalam aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun perubahan yang berhubungan dengan media terhadap masyarakat, tetapi dengan adanya teknologi dapat mempermudah penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan secara universal.

Pada tahun 1937 seorang insinyur dari Amerika bernama Howard Aiken, merancang IBM Mark 7 yang merupakan nenek moyang dari komputer mainframe pada masa kini. Komputer tersebut dahulu hanya menggunakan tabung vakum dan elektromekanik dan bukan tombol-tombol elektronis. Komputer pertama yang sukses secara komersial adalah UNIVAC. Komputer yang dirancang oleh Eckert dan Mauchly yang diperkenalkan pada tahun 1951. Kemudian teknologi komputer, termasuk perangkat komunikasi semakin lama semakin berkembang sampai saat ini.

Komputer juga telah mengubah peradaban barat modern secara drastis sejak tahun 80-an. Pada awalnya komputer hanya sebagai “otak elektronis’’ yang mampu melakukan bermacam-macam kegiatan dengan tingkat kesulitan berbeda-beda. Komputer juga telah memasuki wilayah komunikasi interaktif dalam bentuk internet, penggunaan internet ini berawal dari adanya kebutuhan militer pada masa perang dingin sekitar tahun 1969 di mana Departemen Pertahanan Amerika Serikat membutuhkan sebuah jaringan untuk menghubungkan semua komputer untuk mengantisipasi adanya serangan nuklir.

Namun, di saat perkembangan selanjutnya banyak dari universitas bergabung, sehingga dilakukan pengklasifikasian dua bagian yaitu untuk sistem para militer dan non militer, kemudian keduanya digabungkan dan awalnya disebut DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency) internet dan kemudian setelah berkembang akhirnya dikenal sebagai internet saja. Kemudian internet pun dikembangkan hingga saat ini dengan berbagai perlengkapan dan fasilitasnya yang terdapat di dalamnya.

Dengan adanya perkembangan teknologi tersebut ilmu pengetahuan pun mulai menemukan penemuan penemuan baru, terutama dalam dunia sains, berkat bantuan teknologi yang sebenarnya hasil ciptaan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ini menarik, di satu sisi ilmu pengetahuan menciptakan teknologi sedangkan di sisi lain teknologi itulah yang membuat ilmu pengetahuan berkembang pesat.

Jika melihat perkembangan ilmu yang semakin pesat dengan melihat temuan para ilmuwan sains di dalam berbagai bidang salah satu contoh dalam bidang partikel elementer. Di mana pada abad ke-5 sebelum masehi, Democritus, filosof Yunani telah menemukan bahwa semua jenis materi dapat dipecah menjadi partikel yang kecil yang disebut sebagai “atom”. “Atom” adalah sebuah kata dari Yunani yang memiliki arti ‘tidak dapat terbagi’ .

Perkembangan ilmu pun semakin maju dan beberapa percobaan dilakukan kemudian teori teori baru mulai bermunculan untuk menguatkan bahwasanya atom adalah partikel paling kecil, tetapi pada faktanya ditemukan bahwa atom bukanlah partikel paling kecil. Dalam atom masih terdapat sejumlah partikel dasar atau yang lebih kecil yaitu elektron, proton, dan neutron. Bila ingin melihat lebih jauh lagi, maka sekarang ditemukan pula yaitu quark sebagai bagian dari proton dan neutron sehingga saat ini yang disebut sebagai partikel elementer adalah  quark  dan  elektron.

Dengan ditemukannya partikel lebih kecil dari atom tersebut adalah salah satu contoh bagaimana teknologi membantu untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, sebenarnya, teknologi yang membantu berkembangnya ilmu ataukah ilmu pengetahuan yang membantu agar teknologi maju dengan pesat? Atau ada sintesa lain? Mari kita pikirkan bersama-sama. []

Post Truth : (Dis)Informasi Di Masa Pandemi

Oleh: Abdul Wahid

Sumber foto: https://www.suaramerdeka.com/nasional/pr-04386927/lawan-hoaks-di-tengah-pandemi-kominfo-medsos-sumber-disinformasi?page=all

Sekarang menimbang fakta seakan menimbang sesuatu yang nihil. Pun jika mencarinya kita dituntut untuk menyelam ke dasar lautan informasi. Informasi yang dilahap dengan emosi melahirkan kejumudan dan kekerdilan. Informasi menenggalamkan manusia. Siapa pun yang tidak mau belajar berenang akan mati (kehendaknya) olehnya  diarahkan untuk kepentingan – kepentingan terselubung.

Saat ini, informasi datang dan pergi silih berganti, benar dan salah tergantung emosi, fanatisme mengarahkan kebenaran golongan, menyalahkan liyan. Benar dan salah tak mempunyai demarkasi yang jelas. Abu-abu. Hanya emosi golongan dan liyan yang ditonjolkan. Hanya aku dan bukan aku, kita dan mereka.

Fitnah, ujaran kebencian, hoax, kebohongan, hasutan berseliweran di kehidupan kita. Lewat teknologi dan media yang sekarang mudah diakses membuatnya mudah dikonsumsi secara mentah. Kementahan itu yang mengakibatkan racun (informasi) diserap otak membuka pintu emosi (nafsu) dan menggerak tindak.

Kita ingat di tahun 2016 ketika Donald Trump memenangi pemilihan presiden. Ia membuat disinformasi yang masif dan terus menerus diulang. Teknik agitasi ini terbukti ampuh. Di tahun yang sama pula kata Post Truth dalam kamus Oxford menjadi kata yang paling populer.

Kata Post Truth pertama kali dicetuskan oleh Steve Tesich pada tahun 1992. Kemudian Ralph keyes dengan komedian Stephen Colber pada 2002 kurang lebih sama mencetuskan kata truthines yang mengacu pada “sesuatu yang dianggap benar, padahal tidak sama sekali”.

Kamus Oxford mendefinisikan kata Post Truth dengan “kondisi dimana fakta tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini individu atau masyarakat ketimbang emosi dan keyakinan”. Tak pelak hoax yang tak lain merupakan disinformasi menurut Haryatmoko SJ sebagai anak kandung dari Post Truth. (Irwan Julianto, Kompas, 28 Juni 2021).

Tidak salah juga kita menamai jaman yang “banjir” informasi (dan disinformasi) ini dengan jaman Post Truth. Jaman dimana informasi yang salah atau disinformasi yang terus menerus diulang bisa menjadi benar mempengaruhi bawah sadar. Kebenaran pada jaman yang disebut Post Truth ini terlampaui atau bisa disebut pasca-kebenaran sehingga yang ada hanya ngapusi semata.

Disinformasi yang deras mengalir dan dengan mudah didapat melalui tekonologi dan media ini menjadikan kita terombang-ambing. Orang – orang yang terbawa arus akan mudah sentimen dan menambah disinformasi yang lain sehingga menambah kekeruhan.

Disinformasi dan Pandemi

Saat ini dunia sedang dilanda pandemi akibat covid – 19. Informasi mengalir deras. Di Indonesia sendiri masih banyak yang menyangkal virus ini. Akibatnya hingga saat ini klaster penularan di Indonesia terbilang masih cukup banyak. Parahnya banyak disinformasi yang ditelan oleh kita mengakibatkan penanganannya sulit.

Kita dibuat bingung dan panik. Pandemi yang di barengi disinformasi mengakibatkan fakta akan kebenaran kabur, keruh dan terkubur. Kita dibuat jeri, percaya dan tidak percaya akan covid – 19 ini bercampur baur meninggalkan keruetan.

Saat ini disinformasi yang masif meriap dan dengan frekuaensi yang tinggi menyebabkan bahaya pandemi terkalahkan oleh bahaya disinformasi. Selain harus menghadapi ancaman pandemi, kita dihadapkan dengan ancaman kejiwaan kita yang mulai tidak tenang dan kedegilan tersebab disinformasi.

Ketika vaksin sudah ada dan vaksinasi mulai digaungkan, kita masih dibingungkan dengan keamanannya. Jean Couteau dalam Kompas 27 Juni dan 18 Juli 2021 mendedarkan bagaimana pentingnya vaksinasi. Tulisannya yang berjudul “Tangkislah Serangan Covid” dan “Dapatkah Vaksinasi Seperti Dua Ratus Tahun Lalu” ini secara persuasif mengajak kita untuk melakukan vaksinasi.

Pada tulisannya yang pertama, ia secara metafor menggambarkan pentingnya vaksin. Dan di tulisannya yang kedua, ia membandingkan wabah cacar yang terjadi pada dua ratus tahun lalu dengan pandemi yang sekarang. Pada tulisannya yang kedua ini, Jean Couteau membawa keluh akibat masih banyak orang indonesia yang takut vaksin.

Di era pandemi ini, informasi yang kredibel sangat dibutuhkan. Tetapi laiknya mata uang yang memiliki sisi baik dan buruk, informasi yang deras akan membaurkan fakta yang benar dan salah. Oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mudah menyebarkan hoax (disinformasi) secara mudah. Saat ini kita dihadapkan dengan Pandemi dan disinformasi.

Menyaring Informasi Dengan Logika

Saat ini kita mengahdapi lawan pandemi dan disinformasi. Informasi yang semakin deras ini mengakibatkan kita jadi linglung dan bingung. Adanya media elektronik yang semakin masif menjadikan hoax atau kidzib (disinformasi) mudah meriap dan terdisrupsinya informasi yang kredibel.

Dalam Islam pun disinformasi atau kidzib merupakan perbuatan yang nista. Kidzib merupakan lawan dari Siddiq yang merupakan sifat wajib yang dimiliki Rasulullah. Maka dari itu kita sebagai umat islam mengharuskan mempercayai yang haq (benar) secara mutlak.

Ibnu Sina mengatakan bahwa kebenaran hakiki itu harus dibuktikan pada sesuatu wujud (yang ada) melalui kebenaran wahyu dan akal (logika). Maka kita dituntut untuk berhati – hati terhadap informasi yang kita dapat. Tidak secara mentah ditelan.

Dengan logika kita dituntut untuk menyaring informasi yang kita dapat. Berpikir secara jernih dan tidak tergesa-gesa membuat kita lebih bisa untuk membedakan informasi yang benar dan salah.

Peran emosi dalam menanggapi sebuah informasi sebaiknya  tidak dijadikan sebagai titik pijak. Karena disinformasi memainkan emosi sehingga menciptakan ilusi. Ilusi ini akan menghalangi logika bekerja dengan baik. Sehingga kecermatan kita untuk memahami informasi jadi tidak keruan.

Orang – orang yang tidak menggunakan logikanya saat mendapat informasi akan dibawa pada waham dan delusi yang tidak berdasar. Membuat pandemi dan disinformasi semakin ruet tertangani. Tenggalam dalam banjir informasi dan mengambang hanyut terbawa olehnya.

Logika harus menjadi penyelamat kita menghadapi pandemi dan disinformasi ini. Kita harus bisa melampaui Post Truth atau yang menurut Haryatmoko SJ disebut dengan “Post “-Post Truth atau “Pasca” – Pasca kebenaran. Hal ini tidak menjadi utopis belaka jika kita bisa menggunakan logika untuk menyaring (dis)informasi yang kita dapat.

Orang – orang yang mengesampingkan logika dan menggunakan emosi dalam menyikapi informasi akan mudah terhasut dan terpedaya dengan ilusi dan delusi. Sehingga informasi–yang belum tentu benarnya–ditelan mentah dan dipercaya saja. []

Bias Gender: Ketidakadilan Posisi

Oleh: Setiyani Eky

Sumber Gambar: http://yayasanpulih.org/2020/06/perubahan-peran-gender-selama-pandemi/

Perempuan dan laki-laki seringkali terikat pandangan umum masyarakat mengenai peran perempuan dan laki-laki yang berasal dari norma sosial dan budaya. Misalnya, peran perempuan sebagai ibu rumah tangga dan laki-laki sebagai tulang punggung keluarga atau pencari nafkah, seringkali membatasi baik perempuan maupun laki-laki dalam memenuhi potensi diri masing-masing. Adanya pelekatan peran seperti inilah yang menjadi akar dari suatu bias gender.

Untuk memahami akan makna dari bias gender, maka perlu diketahui hakikat gender itu sendiri. Gender merupakan perbedaan secara sosial untuk menggambarkan semua atribut yang diberikan secara sosial antara lain peran, kegiatan, dan tanggung jawab atas laki-laki dan perempuan dalam masyarakat tertentu. Gender merujuk pada hubungan antara laki-laki dan perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan, dan bagaimana hubungan sosial tersebut dikonstruksikan. Biasannya gender ditentukan oleh tempat dan budaya masyarakatnya. Peran gender bersifat dinamis dan dapat berubah antar waktu. Banyak orang yang salah mengartikan bahwa gender itu merupakan jenis kelamin, maka di sini perlu digaris bawahi bahwa gender itu bukanlah jenis kelamin melainkan sifat—lebih tepatnya sifat bentukan. Ada yang “feminis” dan ada yang “maskulin”.

Sifat feminis bercirikan lemah, lembut, dan keibuan sedangkan sifat maskulin bercirikan kuat, keras, tangguh, dan gagah berani. Sifat feminis tidak melulu harus dimiliki oleh perempuan dan sifat maskulin juga tidak melulu harus dimiliki oleh laki-laki karena sifat atau gender ini dibentuk oleh manusia itu sendiri. Gender dapat diubah dan ditukar, karena sifat merupakan bentukan yang dibuat oleh manusianya masing-masing. Misalnya, perempuan tidak selalu bersifat lemah, lembut, dan halus tetapi banyak juga diluar sana perempuan bersifat kuat, berani, dan keras atau biasa disebut dengan istilah tomboy. Begitupun sebaliknya dengan sifat laki-laki yang tidak harus keras, kuat, dan gagah.

Kemudian ada satu pertanyaan yang sering ditanyakan dan harus diperjelas, apakah gender itu termasuk kodrat? Jawabannya adalah bukan. Gender dan kodrat itu dua hal yang berbeda. Kodrat adalah sesuatu yang ditetapkan oleh Tuhan YME, sehingga manusia tidak mampu untuk mengubahnya ataupun menolaknya. Kodrat dari setiap perempuan yaitu menstruasi, hamil (melahirkan), dan menyusui sedangkan kodrat laki-laki ialah mempunyai sperma. Kodrat sifatnya universal (tetap sepanjang hayat dikandung badan) sedangkan gender lebih menekankan pada pembagian peran dan tugas yang diatur oleh manusia (masyarakat) dan setiap masyarakat satu dengan masyarakat lainnya itu berbeda, bahkan dalam suatu masyarakat pun senantiasa mengalami perubahan seiring berjalannya waktu.

Pembagian peran dan tugas inilah yang banyak menyebabkan salah arti mengenai kodrat. Banyak masyarakat awam mengatakan bahwa kodrat perempuan itu harus di rumah melayani suami, memasak, mengurus anak, mengurus rumah, dan lain sebagainnya. Namun, hal itu tidak dapat dibenarkan, karena sejatinya kodrat seorang perempuan itu hanya ada tiga, yaitu menstruasi, hamil (melahirkan), dan menyusui. Selebihnya dari itu, laki-laki pun bisa melakukan pekerjaan domestik seperti memasak, mengurus rumah, belanja kebutuhan dan untuk mengurus anak sekalipun.  

Terlebih di masa pandemi ini, menjadi perempuan seperti harus memanggul dunia. Perempuan dituntut untuk menjadi istri, ibu, sekaligus guru dan seseorang yang harus mengurusi kehidupannya sendiri. Belum lagi jika kebutuhan dan ekonomi keluarga belum tercukupi. Seorang perempuan juga harus ikut terjun dalam dunia pekerjaan. Beban seorang perempuan menjadi berlipat ganda bahkan dua kali lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Hal itu dikarenakan adanya salah arti mengenai kodrat dalam masyarakat tadi yang mengharuskan seorang perempuan mengurus pekerjaan domestik sepenuhnya.

Nah, dari keharusan itulah para perempuan merasa adanya ketidakadilan sehingga terciptalah bias gender. Apa itu bias gender? Bias gender terjadi apabila salah satu pihak dirugikan sehingga mengalami ketidakadilan. Ketidakadilan yang dimaksud adalah apabila salah satu gender lebih baik keadaan, posisi, dan kedudukannya. Bias gender dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi di Indonesia ini, bias gender lebih banyak dirasakan oleh kaum perempuan.

Perempuan kerap kali dipandang sebagai masyarakat kelas dua, diperlakukan berbeda daripada laki-laki terlebih dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Seringkali diragukan karena dianggap tidak mampu dan tidak layak. Pada akhirnya terjadilah banyak ketimpangan yang dialami oleh kaum perempuan. Dimulai dari finansial ketika perempuan bekerja. Upah bagi perempuan lebih sedikit dibandingkan dengan upah laki-laki, perempuan juga lebih cenderung terkena PHK atau terancam karirnya dibandingkan dengan laki-laki. Faktor norma sosial pun seringkali menuntut para perempuan untuk bisa mengambil alih lebih banyak pekerjaan domestik dibanding laki-laki karena dianggap sudah menjadi kodratnya. Dalam pengambilan keputusan dan kepemimpinan pun perempuan masih di nomorduakan.

Lantas bagaimana kita menyikapi adanya isu bias gender ini? yang perlu dilakukan sebagai upaya merespon isu kesetaraan gender ini adalah dengan memperjuangkan keseimbangan gender, menghapus ketimpangan gender atau bias gender ini, memberikan kesempatan yang sama pada kedua gender, saling menguntungkan kedua gender, serta menegakkan keadilan bagi kedua gender. Karena munculnya tuntutan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan ini perlu direspon secara proposional baik oleh laki-laki maupun perempuan. Jika tidak maka tetap saja isu bias gender atau kesetaraan gender ini hanya akan menjadi suatu wacana yang tak berujung.

Jangan sampai kita alergi terhadap pembahasan kesetaraan gender ini, karena akan memberikan dampak negatif bagi penyumbatan pembangunan secara utuh. Oleh karena itu, perlunya menyikapi isu bias gender ini sebagai wujud kepedulian kita terhadap berbagai aktivitas hidup yang mendukung terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang harmonis. []

Perselisihan Umat Beragama: Salah Agamanya atau Umatnya?

Oleh: Muhammad Fatkhur Rokhman

Sumber Gambar: https://haziemnafan.wordpress.com/2018/12/09/kemanusiaan-yang-menyatukan-semua-agama/

Kebanggaan sebagai orang yang beriman seringkali menjadikan orang tersebut memandang rendah agama lain. Terang saja hal ini membuat kita sedikit gelisah mengenai agama yang seharusnya menjadikan manusia berbakti dan berbudi pekerti luhur, justru melahirkan iblis versi mereka. Ini mengingatkan saya kepada beberapa insiden mengenai penyerangan terhadap agama tertentu.

Contoh dekat seperti yang terjadi pada bom Bali yang banyak menewaskan warga asing yang notabene pada saat itu sedang berwisata di Bali. Latar belakang pengeboman ditengarai dikarenakan orang-orang yang mengaku diri beragama Islam itu mempunyai anggapan buruk mengenai barat yang membenci Islam dan bahkan memerangi Islam. Juga ada lagi peristiwa di luar negeri juga pernah ada seorang secara terang-terangan membantai seluruh jamaah sholat jum’at di suatu masjid di Selandia Baru yang sempat viral di media sosial dengan motif ingin meminimalisir dan menanamkan rasa takut kepada para penjajah yang diidentikkan dengan orang islam dan Eropa lainnya (mengutip dari liputan6.com).

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah dengan tanpa adanya agama manusia akan baik-baik saja? Menurut informasi di atas bahwa sentimen antar pemeluk agama atau kepercayaan sering terjadi. Dan, pembahasan mengenai agama juga merupakan sesuatu hal yang sangat sensitif. Terutama pada suatu negara yang memiliki banyak pemeluk agama dan kepercayaan yang bermacam-macam seperti Indonesia. Dengan agama Islam sebagai agama dominan dan agama-agama lain menjadi minoritas membuat agama Islam harus menjadi se-toleransi mungkin, namun banyak yang mengaku tidak sepenuhnya mengerti dan hanya ikut-ikut saja terkadang menjadi sasaran empuk untuk dimasuki doktrin-doktrin kebencian terhadap agama lain yang menghadirkan tindakan terorisme. Itu juga berlaku untuk agama yang lain karena saya percaya bahwa tidak ada satupun agama yang membenarkan kekerasan dan pembunuhan massal.

Namun, benarkah jika tidak ada agama maka pertikaian atau sentimen terhadap agama satu dengan yang lain akan hilang atau tidak pernah terjadi?

Saya akan mengutip dari Karl Marx yang mengatakan bahwa “agama adalah candu”. Maksudnya di sini bukan mengatakan bahwa agama adalah salah. Tapi menurut Marx, agama bagi masyarakat hanya sekedar obat penenang yang mana ketika masyarakat sedang berada dalam kesusahan mereka akan berlari kepada agama yang akan membuat mereka merasa ditenangkan. Dan bahkan, kecanduan ini kadang menjadikan para pemeluknya tidak sedikit yang terkekang dan tidak bisa memajukan peradabannya dengan majunya ilmu pengetahuan.

Candu yang dimaksudkan oleh Karl Marx, menurut saya tidak sepenuhnya jelek, bahkan dalam terapi kejiwaan agama juga menjadi alternatif yang bisa diambil untuk pemecahan masalah mengenai kejiwaan. Namun, kecanduan tersebut juga akan sangat tidak menguntungkan ketika orang tersebut terlalu fanatik terhadap agamanya. Orang-orang menyebutnya fundamentalis, sebagai penamaan atas terlalu ketatnya dia dalam beragama.

Sekarang masalahnya, jika tidak ada agama atau suatu kepercayaan apakah itu sesuatu yang bagus? Jawabannya tentu tidak. Memang benar apa yang dikatakan Marx, bahwa masyarakat cenderung membuat agama hanya sebagai pelampiasan ketika mereka sedang mengalami kesedihan hati. Terutama jomblo-jomblo yang sering ditolak lamarannya sama gebetan. Begitu patah hati langsung taat agama, bahkan tahajjud atau sholat di sepertiga malam. Ketika jaman dulu ada yang bilang “cinta ditolak dukun bertindak”, sekarang jadi beda “cinta ditolak Allah bisa berkehendak”.

Jika dipikirkan lagi “kebucinan” memang sudah merajalela, bahkan ada yang rela hujan-hujan demi kata “maaf” dari gebetan. Yang lebih parahnya lagi gara-gara bucin sampai berani bunuh diri. Ini membuktikan bahwa mental health itu dibutuhkan oleh setiap orang bukan hanya para bucin dan agama menyediakan hal itu.

Kembali lagi, tentang moral dan etika terhadap sesama yang sudah dibahas terlebih dahulu seperti yang diatas bahwasannya sentimen antar agama sering terjadi bahkan sampai memakan korban jiwa. Itu pun setiap agama pasti melarang adanya pertikaian dan perang. Jadi, coba bayangkan ketika tidak ada agama yang melarang mengenai pertikaian dan perang. Sudah barang jadi akan banyak peperangan dan moral etika pun tidak akan terbentuk dengan baik. Jika ada yang bilang bahwa kebijakan manusia bisa mengatasi permasalahan moral dan etika, maka juga perlu dipertimbangkan mengenai Hak Asasi Manusia seberapa banyak hal tersebut berdampak terutama bagi ras yang sering ditindas yaitu ras kulit hitam yang sampai sekarang masih belum mendapatkan kemerdekaannya dari prasangka buruk.

Islam datang membawa solusi bagi bahwasaannya dalam tubuh agama Islam sendiri meniadakan satu dan banyak hal yang merupakan akar dari perselisihan seperti larangan menggunjing, menghargai setiap orang, berpikiran positif, mewajibkan berbuat baik kepada banyak orang tanpa melihat status orang tersebut, dan lain sebagainya. Bahkan Islam juga menghapuskan sistem budak yang dulunya sudah lama eksis terlebih dahulu yang membawa asumsi bahwa budak itu derajatnya lebih rendah dari orang lain di sekitarnya. Bahkan strata sosial seperti apa yang dilakukan agama lain dengan mengelompokkan kedudukan sosial manusia dalam beberapa golongan. Namun demikian, penganut agama lain sepertinya tidak suka ketika Islam dengan gencar menjadi yang terdepan dalam kadar toleransi dengan sesama dan  menjadikan agamanya seperti tertinggal dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan agama Islam. Banyak skenario dibuat untuk membuat agama Islam jelek dan membuat masalah ini semakin berlarut.

Bukan agama yang menjadi inti permasalahan yang berlarut-larut ini, tapi manusianya yang menyebarkan kebencian. Allah SWT tidak pernah menyuruh hambanya untuk berseteru tegang dengan penganut agama lain. Tetapi dari hamba sendiri yang kurang berpengetahuan dan hanya bermodal iman yang tinggi dengan alasan membela agamanya itulah yang justru semakin memperkeruh keadaan. Beriman dan taat adalah dua hal penting dalam agama Islam, namun pengetahuan mendalam dalam agama juga perlu dipupuk sehingga perseteruan yang dipicu oleh perbedaan agama dapat diperkecil dan stigma negatif mengenai agama terutama Islam bisa sedikit demi sedikit menghilang. []

Peran Mahasiswa Melawan Pandemi

Oleh: Hamzah Syaifulloh

Sumber Gambar: https://widuri.ac.id/peran-mahasiswa-dalam-masyarakat-di-masa-pandemi/

Indonesia, Negara kita tercinta sampai saat ini masih menghadapi salah satu cobaan yang sangat berat. Bagaimana tidak, Virus Covid-19 yang melanda bumi hampir dua dekade lamanya seakan merubah tatanan kehidupan baik itu tatanan ekonomi, tatanan pendidikan bahkan tatanan hidup lainnya. Berbagai kebijakan demi kebijakan yang dilakukan pemerintah guna untuk menekan laju penyebaran Covid-19 terus diupayakan, salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar, baik itu untuk siswa dan mahasiswa dilakukan secara daring.

Lantas sampai kapan virus ini akan berakhir? Mungkin itulah pertanyaan yang muncul dari siswa atau mahasiswa yang sudah merindukan bangku sekolah secara tatap muka, atau bahkan semua orang yang ingin kembali hidup normal tanpa banyaknya aturan.

Sebagai pelajar yang sebelumnya melakukan pembelajaran di kelas secara tatap muka, mungkin awalnya kebingungan dan bertanya-tanya, apakah pembelajaran jarak jauh ini akan efektif seperti halnya pembelajaran tatap muka? Di sisi lain, pembelajaran daring merupakan himbauan pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19, sementara itu Revolusi Industri 4.0 yang semakin gencar menyuruh kita dituntut untuk berinovasi lebih bertujuan untuk memajukan pendidikan bangsa kita agar tidak tertinggal dengan bangsa lainnya.

Lalu apakah ketika pembelajaran daring terlaksana, mahasiswa tidak mampu berkarya? Apakah mahasiswa tidak bisa melakukan apa-apa? Apakah tugas mahasiswa sebatas masuk setelah itu menulis absen, mendengarkan materi, mengerjakan tugas yang diberikan dosen semata? Jika itu benar dilakukan, maka dimana letak peran mahasiswa sebagai agent of change yang mampu membuat perubahan terutama dimasa pandemi ini.

Mahasiswa: Agent Of Change di Masa Pandemi

Mahasiswa sebagai agen perubahan, mungkin kata itu yang sering terderngar di telinga kita sebagai seorang mahasiswa. Memang tidak dapat dipungkiri bahwasannya mahasiswa dituntut untuk memberi perubahan yang berarti untuk masyarakat sekitar, sesuai dengan julukannya agent of change mahasiswa diminta untuk bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu agar dapat diaplikasikan kepada masyarakat, bukan hanya mencari gelar yang kelak akan menempel pada nama kita saja, akan tetapi ada sepercik cahaya harapan di dalam gelar itu.

Lalu bagaimana peran mahasiswa sebagai agent of change di masa pandemi?

Pertama, peran mahasiswa untuk memipin adalah pengaplikasian kepada diri sendiri  untuk melakukan pencegahan terhadap wabah virus Covid-19. Setelah itu, keluarga sebagai unit yang membentuk diri, maka mahasiswa sebisa mungkin memberikan contoh kepada masyarakat terutama kaum awam, untuk berusaha menaati anjuran pemerintah untuk mematuhi protokol kesehatan agar dapat menekan laju penyebaran virus Covid-19

Sebagai manusia yang hidup di zaman modern, apalagi Revolusi Industri 4.0 yang semakin gencar-gencarnya membuat kita semakin mudah untuk mengakses sesuatu dengan mudah, apalagi pembelajaran online yang tentunya kita dituntut untuk sebisa mungkin menggunakan alat elektronik, tetapi yang harus digarisbawahi di sini adalah bagaimana memanfaatkan media itu untuk memberikan pemahaman terhadap semua orang. Peran mahasiswa di sini bisa memanfaatkan berbagai media sosial untuk menambahkan pemahaman tentang virus Covid-19 serta menghimbau untuk tetap mematuhi protokol kesehatan.

Mahasiswa sebagai agen perubahan tentunya memiliki peran vital dalam ikut berpartisipasi untuk mengatasi penyebaran Covid-19 di Indonesia. Apabila hanya berpatok kepada bantuan pemerintah, tentunya sangat tidak memungkinkan penyebaran Covid-19 akan teratasi, lebih-lebih dalam waktu yang dekat. Oleh karena itu, mahasiswa dapat berperan memulihkan keadaan dengan membantu pemerintah dalam mengatasi penyebaran Covid-19.

Mahasiswa: Berkarya Sesuai Bidang

Masa pandemi seharusnya tak menghalangi mahasiswa untuk terus berkarya, banyak sekali kegiatan bermanfaat untuk mengisi waktu luang. Salah satunya adalah membuat karya, zaman yang semakin berkembang membuat kita dituntut untuk memiliki kemampuan lebih agar tidak tertinggal oleh lainnya, membuat karya dapat menjadi solusi kita untuk menyampaikan aspirasi–aspirasi yang kita miliki diruang publik sebingga karya kita bisa dinikmati dan dapat bermanfaat untuk semua orang.

Hadirnya pandemi merupakan cobaan berat yang diberikan Allah swt kepada kita, berbagai problematika kehidupan yang ada disekitar membuat kita harus berikhtiar melakukan berbagai anjuran kesehatan serta bertawakal kepada Allah Swt. Covid-19 telah mewabah sejak maret 2020 dan sudah menyebar hampir keseluruh Indonesia, serta mengubah hampir seluruh tatanan kehidupan manusia.

Mahasiswa sebagai aset negara yang memiliki pengetahuan serta keterampilan lebih. Tentunya harus mampu menghadapi problematika yang ada disekitar. Lebih dari itu, mahasiswa harusnya mampu menjadi garda terdepan dalam mengatasi virus Covid-19. Mahasiswa yang memiliki pengetahuan intelektual tentunya mempunyai gagasan dan inovasiinovasi untuk menekan lanu pandemi. []

Nyadran: Eksistensi Nilai-Nilai Kebudayaan Jawa

Oleh: Lilik Nur H M

Sumber Gambar: http://makalahirfan.blogspot.com/2018/10/nyadran-sebagai-budaya-islam-jawa-studi.html?m=1

Kebudayaan di Indonesia memang beraneka ragam dari sabang sampai merauke, kebudayaan ini merupakan ciri khas yang tidak semua negara memiliki. Kebudayaan Indonesia sangatlah nyentrik (unik dan aneh), meskipun begitu tetaplah menjadi warisan peradaban. Kebudayaan sebagai tradisi, kepercayaan, perilaku dan benda-benda yang dipergunakan masyarakat, cara hidup manusia seperti kepercayaan, pengalaman (pengetahuan) umum yang diturunkan atau pengalaman religius, kondisi dan situasi lokal.

Budaya lokal merupakan nilai-nilai lokal hasil budidaya atau kebiasaan masyarakat suatu daerah yang terbentuk secara alami dan diperoleh melalui proses kebiasaan yang dilakukan dari waktu ke waktu secara berkala lama. Terutama untuk kebudayaan Jawa sampai saat ini masih berkembang dan dilestarikan sebagian masyarakat. Kebudayaan Jawa mulanya dibawa oleh orang-orang Hindu dan Budha, namun semenjak kedatangan para Wali Allah (wali sanga), kurang lebih pada abad  ke 12 M, sebagian para wali Allah mengubah tradisi yang ada di masyarakat Jawa dan ada sebagian memadukannya di antara keduanya.

Islam yang hidup di tanah Jawa bisa disebut juga dengan Islam Jawa, karena memang Islam yang berkembang di tanah Jawa sangat pesat. Orang-orang jawa dikenal sangat ramah terhadap para pendatang tanpa melihat status mereka siapa dan menganggap mereka semua sebagai bagian mereka. Agama Islam adalah Agama Rahmatan Lil ‘Alamin yang menyayangi dan mencintai semua insan meskipun berbeda keyakinan, tetap melindungi segenap jiwa raga. Maka Islam dapat diterima dengan mudah dikalangan masyarakat.

Islam dengan kebudayaan sangatlah melekat tak dapat dipisahkan, ibarat perangko dengan surat. Tetapi, antara Islam dengan Kebudayaan tak dapat dicampur-adukkan menjadi satu, namun juga tak bisa apabila salah satunya harus ditambahkan atau dihilangkan. Selama tradisi tidak bertentangan dengan Islam, maka dapat mewujudkan diri menjadi konteks sosial.

Memang kebudayaan Jawa atau adat istiadat dengan Islam tidak bisa dipisahkan, keduanya memiliki makna tersendiri. Kebudayaan Jawa yang sampai saat ini masih ada terdapat di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Salah satunya yang tidak asing di telinga kita adalah nyadran. Tradisi tersebut di berbagai daerah pasti ada, tetapi mungkin berbeda caranya seperti kata pepatah “bedho deso mowo coro”. Ada juga yang menyebutnya dengan nama sadranan. Tradisi nyadran adalah sebuah tradisi yang unik dilakukan oleh masyarakat Jawa secara turun temurun menjelang bulan Ramadhan, lebih tepatnya tanggal 10 bulan Rajab. Tujuan acara nyadran adalah untuk menghormati para leluhur dan mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Acara nyadran terdiri dari serangkaian kegiatan, yaitu upacara pembersihan makam, tabur bunga, dan acara selamatan atau bancakan.

Tradisi ini juga ada di desa saya sendiri, yaitu desa Ngepringan, lebih tepatnya di Dusun Pungkruk, RT 20. Sebelum Islam masuk ke desa saya para warga setempat melaksanakannya tradisi nyadran tersebut ke sarean (kuburan), sebuah pohon yang besar biasanya warga menyebutnya (brumbung). Awalnya kegiatan ini dimulai dengan pembacaan do’a-do’a yang dipimpin sesepuh desa, habis do’a kemudian para warga bertukar makanan dengan teman di samping kanan kiri, depan belakang. Dengan maksud agar warga lain bisa merasakan makanan yang dibuat orang lain juga.

Tradisi ini biasanya diikuti oleh warga dusun Rt 20, Rt 05, dan Rt 04. Acara ini ikuti para warga mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, kakek nenek. Tetapi kebanyakan yang mengikuti para anak-anak. Kata nenek ketika saya mendengar bahwa mengapa warga melakukan tradisi tersebut karena dianggap yang memberikan sumber kehidupan di desa tersebut. Namun dengan perkembangan zaman sekarang masyarakat jarang melakukan tradisi tersebut, bahkan hanya sebagai warga yang masih percaya lalu melaksanakan tradisi tersebut.

Sedangkan corak Islam yang sudah ada di desa saya banyak warga yang tidak melakukan tradisi nyadran, mereka yang melakukan hanya beberapa warga saja.  Bagi warga yang biasanya melakukan, tiga hari sebelum tanggal 10 Rajab ketua RT berkeliling memberi tahu warga. Saat malam tanggal 10 Rajab para warga berduyun-duyun datang ke rumah pak RT selaku pemimpin do’a, para warga membawa makanan yang berisi: nasi, ayam panggang, serundeng, kerupuk merah, tahu tempe, dan lain sebagainya. Setelah acara do’a para warga di suruh membuka makanan tadi yang di tutup oleh daun pisang, kemudian para warga dipersilahkan makan, jika tidak habis maka harus di bawa pulang. Alasan mengapa tradisi tersebut harus dilestarikan ialah untuk menjunjung nilai-nilai kebudayaan yang terkandung dalam tradisi tersebut, dan juga untuk menjalin keaslian dan kedamaian antar warga dan keluarga inilah yang menjadikan adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang mereka.

Tradisi nyadran ini sebagai kegiatan penting bagi masyarakat untuk saling lebih dekat dengan para tetangga sekitar, agar terjalin silaturahmi yang erat. Sehingga para masyarakat lebih rukun, harmonis, dan saling menyayangi. Dengan adanya tradisi nyadran ada beberapa manfaat yang penting untuk kelangsungan kehidupan yaitu, kita bisa mensyukuri nikmat Allah swt., banyak dan sedikit, kita juga bisa menyedekahkan makanan kepada para warga yang membutuhkan. Jadi, menurut tradisi tersebut sangat penting untuk dilestarikan masyarakat khususnya di Jawa, meskipun budaya ini bukan berasal dari agama Islam sendiri. Tradisi ini bisa juga menjadi ajang untuk menyiapkan diri sebelum bulan puasa tiba dan mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Maha Kuasa dan menjadi ajang untuk bersedekah antar sesama umat muslim dalam menjaga persaudaraan.

Agama dan kebudayaan memberikan wawasan dan cara pandang bagaimana kita menyikapi dan berbuat baik dengan makhluk ciptaan Tuhan, tanpa memandang status sosial. Agama sebagai pusat peribadatan sedangkan kebudayaan sebagai pusat dinamis bagi kehidupan. Maka dari itu, kita sebagaimana harus bisa menjaga dan melestarikan kebudayaan lokal masing-masing di daerah. []

Kampung Kauman Yang Hilang dan Islam di Mangkunegaran

Oleh: Kurnia Dewi Nabila

Sumber Gambar: http://travel.kompas.com/image/2018/06/13/060755227/langgar-rawatib-penjaga-identitas-kampung-kauman-mangkunegaran?page=2

Di era sekarang, penelitian mengenai sejarah kampung mulai jarang dikaji, yang paling banyak diamati justru studi mengenai sejarah perkotaan. Jika kita berkenan untuk bernostalgia dengan arsip tua dan Babad Tanah Jawa, maka kita akan menemukan “Kampung Kauman” yang sangat tersohor di era Kerajaan Mataram Islam. Kampung Kauman merupakan tiang penguat penyebaran agama Islam saat Kerajaan Demak berdiri.

Ketika bersepeda mengelilingi Pura Mangkunegaran, maka kita akan menjumpai papan nama “Kauman” yang terpasang tepat di pinggir jalan sebelah utara dan barat belakang Pura Mangkunegaran. Sayangnya, semakin berjalannya waktu Kauman di Mangkunegaran mulai dilupakan dalam ingatan masyarakat Surakarta. Wong Solo lebih akrab dengan Kauman yang terletak di lingkungan Kasunanan. Mereka tidak menyadari bahwa Solo memiliki kampung Kauman yang melegenda milik Mangkunegaran.

Pertanyaan yang memicu rasa ingin tahu pun tiba, Mengapa Kauman di Mangkunegaran bisa hilang dan dilupakan ?

Kampung Religi, begitulah julukan yang tepat untuk kampung Kauman Mangkunegaran yang terletak di kawasan Pasar Legi. Secara etimologi Kauman terdiri dari dua kata “Kaum” dan “Iman”. Seperti namanya, Kauman sangat khas dengan Ulama, sekelompok orang yang paham ilmu agama, berwibawa, mengayomi dan membina umat, serta berjasa dalam proses penyebaran agama Islam. Alasan utama didirikannya Kampung Kauman adalah agar menjadi perantara untuk memberikan dakwah keislaman.

Kampung Kauman dibangun atas prakarsa KGPAA Mangkunegara (MN) I yang mendapat impresi dari dinasti Mataram Islam Jawa, selain itu MN I merupakan Pemimpin Mangkunegaran yang sangat konsen terhadap syiar Islam. Kampung Kauman tempo dulu dikenal dengan semangat toleransinya yang tinggi dan juga sebagai Museum hidup Islam Jawa.

Berbicara mengenai sejarah Kampung Kauman Mangkunegaran maka telinga kita tidak asing mendengar nama “Masjid Nagara”. Masjid bersejarah yang dibangun oleh Mangkunegara I sebagai identitas kampung religi tersebut. Dibangun mewah pada zamannya komplit beserta rumah pejabat ulama juga mengangkat seorang ulama perempuan yang tak lain, adalah cucunya yang bernama Raden Ayu Penghulu Iman. Ia sukses berkolaborasi dengan ulama se-Solo Raya. Kauman kala itu sangat masyhur dan sangat kental dengan aktivitas keagamaannya.

Akan tetapi, di Era Mangkunegara IV terjadi pemindahan Masjid Nagara yang awalnya di Pasar Legi dipindah di sebelah barat Pura Mangkunegaran dengan dalih ingin memperluas sektor perekonomian Mangkunegaran kala itu. Dari Masjid Nagara, kini beralih nama menjadi “Masjid Al Wustho” yang diberikan oleh K.H Imam Rosyidi. Nama Al Wustho berarti tengahan, tengah dalam arti posisinya, bangunan dan luas tanahnya lebih tengah dibandingkan masjid Agung dan masjid Kepatihan. Masjid ini tidak sebesar masjid agung, pun tidak sekecil masjid Kepatihan.

Perpindahan tersebut berdampak negatif, kondisi di kampung Kauman mulai  berubah drastis karena masjid kauman lama yang menjadi pusat keagamaan kampung tersebut dipindahkan. Kehidupan rohani masyarakat Kauman pun mulai memudar, aktivitas keagamaan mulai menurun. Dampak lain yakni mengacu pada menurunnya peran ulama Kauman serta tidak adanya regenerasi ulama untuk kedepannya. Lama kelamaan, kampung Kauman makin kehilangan ciri khasnya sebagai kampung religi.

Faktor lain penyebab hilangnya Kauman adalah tidak terukirnya gelar Khalifatullah Sayyidin Panatagama dalam bahu KGPAA Mangkunegara I, sebagaimana Paku Buwono. Di sisi lain, para penguasa mangkunegaran justru menganggap enteng secara moral terhadap syiar Islam tanah Jawa. Sangat berbeda jika disejajarkan dengan Paku Buwono yang memiliki gelar Panatagama, sehingga dirinya dituntut menjaga aktivitas keagamaan dan kemajuan prasarana ibadah di Kauman.

Hijrah dari kepentingan Kkagamaan ke bidang bisnis lebih menguntungkan Pura Mangkunegaran. Pasalnya, mereka saat itu dilanda krisis berlarut-larut berdampak pada pemerintahan para penerusnya. Pembangunan pabrik gula di kawasan Colomadu-Tasikmadu sebagai solusi perekonomian mangkunegaran hingga meraih gelar “Raja Gula” terkaya di Jawa, dengan nominasi kerajaan yang pertama memiliki kesuksesan di bidang wirausaha. Alhasil, tujuan duniawi telah sukses diraihnya.

Dari refleksi ini, kita bisa menilai bagaimana tingkat kematangan beragama dalam diri Mangkunegara IV. Terlihat betapa semangatnya mengejar duniawi hingga melalaikan tujuan akhiratnya. Lebih herannya, penurunan warisan dalam bidang ekonomi lebih diprioritaskan MN IV daripada mewasiatkan ilmu agama melalui perantara ulama Kauman sebagaimana Paku Buwono yang sangat memprioritaskan pendidikan agama kepada anak cucunya hingga menghadirkan guru agama untuk mengajarkan agama bagi para penerusnya.

Semakin menyusutnya kegiatan keagamaan di Kauman membuat mayoritas  masyarakat tidak sanggup menghadapi tantangan perubahan zaman, terlebih lagi mereka tidak memiliki pekerjaan sampingan untuk mencukupi sandang pangan. Sebab menjadi abdi dalem Istana merupakan pekerjaan tetap dan satu-satunya bagi mereka. Proses Islamisasinya juga kurang signifikan akibat kurangnya peran ulama.

Kondisi ekonomi antara Kauman Mangkunegaran dan Kauman Kasunanan sangat berbanding terbalik. Jika di Kasunanan, para abdi dalem memiliki inisiatif kegiatan yang bisa dijadikan sampingan yakni pengrajin batik. Meskipun telah berprofesi sebagai pengusaha batik yang sukses meraup banyak keuntungan, mereka tetap menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam. Di wilayah Kasunanan nilai keagamaan Islam merupakan oksigen bagi masyarakat setempat. Meski kampung Kauman Mangkunegaran hingga detik ini masih ada, namun hanya tinggal plang nama yang berdiri di sebelah utara dan selatan belakang Pura Mangkunegaran.

Paparan di atas kurang lebihnya merupakan kilas balik hilangnya detak jantung kehidupan Kauman Mangkunegaran dan juga terlepasnya julukan museum hidup Islam Jawa, layaknya Kasunanan dan Kasultanan. Kini aktivitas yang masih terlihat di sekitar Kauman adalah berdirinya sekolah-sekolah Islam di sekitar Mangkunegaran. []

Imam Al-Syaukani, Sosok Syi’ah yang Sunni

Oleh: Ahmad Miftahudin Thohari

Sumber Foto: https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2016/06/08/96127/pakar-sejarah-mencatat-peradaban-islam-membawa-kemajuan.html

Nama lengkap Imam Al-Syaukani ialah Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdullah al-Syaukani al-Syan’ani. Lahir pada haru Senin, 28 Dzulqa’dah 1173 H/1759 M, di kota Shan’a, Yaman. Wafat pada Rabu 2 Jumadil Akhir 1250 H/1834 M, sedang pendapat lain mengatakan Imam Al-Syaukani wafat pada 1255 H, di Khuzaimah, Shan’a, Yaman.

Tokoh ini dikenal sebagai Al-Syaukani, karena beliau berasal dari desa yang bernama Syaukan (yang juga disebut dengan Hijrah Syaukan dan ‘Adna Syaukan). Desa ini dihuni oleh suku Sahamiyyah yang termasuk rumpun dari kabilah Khaulan. Sedangkan, nenek moyang Imam Al-Syaukani adalah keturunan dari suku Rabi’ah yang masih mempunyai hubungan darah dengan suku Qathan, keturunan asli Isma’il bin Ibrahim.

Ayahnya yang bernama ‘Ali Syaukani (w. 1211 H) merupakan ulama’ terkenal di Yaman, yang sudah berkali-kali dipercaya oleh Dinasti Qasimiyyah untuk menjabat sebagai hakim (qadli). Pada dasarnya, Imam Al-Syaukani merupakan anak seorang ulama’ besar yang juga seorang hakim (qadli). Sehingga, wajar apabila beliau memiliki kecintaan besar terhadap ilmu pengetahuan. Bahkan, sebelum beliau belajar secara disiplin-formal kepada para ulama’ besar, beliau dikenal sebagai anak yang memiliki minat baca tinggi. Ayahnya yang seorang juga ulama’ besar, yang memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi kitab-kitab yang banyak dan nyaris lengkap.

Imam Al-Syaukani amat rajin membaca kitab-kitab sejarah dan sastra, di samping beliau juga membaca sekaligus menghafal sejumlah ringkasan (mukhtashar) dari berbagai jenis disiplin ilmu, mulai dari fiqh, ushul fiqh, sastra Arab, ilmu manthiq, dan seterusnya. Jadi, sebelum beliau benar-benar berlajar secara formal dengan bimbingan ulama’-ulama’ besar, Imam Al-Syaukani telah membekali dirinya dengan banyak belajar secara otodidak, yakni dengan membaca banyak kitab di perpustakaan milik sang ayah.

Dari sang ayah, beliau mempelajari disiplin ilmu fiqh, ushul fiqh, dan hadist. Selanjutnya beliau mengembarakan dirinya untuk berguru kepada sejumlah ulama’-ulama’ yang ada pada saat itu. Diantaranya, adalah ‘Abdullah bin Isma’il al-Nahmi (w. 1228 H); Al-Qasim bin Yahya al-Khaulani (w. 1209 H); Al-Hasan bin Isma’il al-Maghribi (w. 1207); ‘Ali bin Hadi ‘Urhab yang mengajarkan ushul fiqh; ‘Abd al-Qadir bin Ahmad al-Kaubani (w. 1207 H). Itulah beberapa nama ulama’ yang sering disebut-disebut oleh Imam Al-Syaukani dari sekian banyaknya guru-guru beliau.

Imam al-Syaukani telah mempelajari banyak berbagai macam disiplin ilmu. Bahkan, konon dalam sehari beliau kurang lebih mampu mempelajari 13 macam disiplin ilmu yang berbeda secara tuntas. Selain itu, setiap kali beliau selesai belajar macam-macam ilmu, Imam Al-Syaukani langsung mengajarkannya kepada para muridnya. Sampai disebutkan, bahwa Imam Al-Syaukani mampu mengajarkan kurang lebih 10 macam disiplin ilmu yang berbeda dalam sehari.

Tak heran. Dari jejak karir intelektual beliau yang memang telah cemerlang sejak masih berusia muda, membuat keluasan dan kedalaman wawasan sangat unggul berkat ketekunannya dalam belajar, baik secara otodidak maupun dengan berguru secara langsung.

Imam Al-Syakauni dan Syi’ah Zaidiyyah

Yang perlu diketahui dari sosok Imam Al-Syaukani adalah bahwa beliau merupakan keturunan Syi’ah, yakni Syi’ah Zaidiyyah, golongan Syi’ah yang paling moderat dan paling dekat dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni).

Syi’ah sendiri merupakan kelompok umat Islam yang menjadi pendukung setia Ali bin Abi Thalib. Tetapi, dalam tubuh Syi’ah sendiri mereka terpecah lagi menjadi beberapa kelompok, seperti Syi’ah Imamiyyah, Syi’ah Isma’iliyyah, dan Syi’ah Zaidiyyah.

Khusus, Syi’ah Zaidiyyah adalah golongan Syi’ah yang merupakan pengikut dari Zaid bin Ali Zain al-Abidin bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (w 122 H).  Yang mana Alib Zain al-Abidin sendiri merupakan urutan imam ke-4 dalam pemahaman Syi’ah Imamiyyah. Zaid inilah yang kemudian diakui oleh kelompok Zaidiyyah sebagai penerus Ali Zain al-Abidin, bukan Muhammad Baqir sebagaimana yang dipahami oleh kelompok Imamiyyah.

Nasab keilmuan Syi’ah Zaidiyyah, dalam bidang kalam (teologi), mengikuti pendapat Mu’tazilah, lantaran Zaid bin Ali Zain al-Abidin merupakan murid dari Washil bin Atha’ (w. 131 H). Adapun dalam bidang fiqh, mahzab Zaidiyyah lebih condong kepada paham Sunni ketimbang kepada paham Syi’ah pada umumnya. Bahkan dalam bidang muamalah khususnya, Zaidiyyah cenderung lebih dekat dengan pendapat mahzab Hanafi. Seperti menurut Prof. Aqiel Siradj dalam “Kiai Menggugat: Mengadili Pemikiran Kang Said”, disebutkan, bahwa Abu Hanifah secara politis banyak mendukung Syi’ah Zaidiyyah, beliau juga berbaiat kepadanya dan menjadi salah satu donaturnya.

Imam Al-Syaukani merupakan anak dari tokoh Syi’ah Zaidiyyah dan banyak dididik dalam lingkungan mahzab tersebut, namun demikian tidak sedikit pendapat-pendapat beliau yang bertentangan dengan pendapat mahzab Zaidiyyah. Sebab, dalam persentuhan karir keilmuannya, Imam Al-Syaukani banyak mempelajari kitab-kitab dari tokoh Sunni, misalnya Syarh Jam’ al-Jawami’ karya Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H), Bulugh al-Maram karya Ibn Hajar al-‘Asqalani dan juga Fath Bari’ yang merupakan syarh utama mahzab Sunni tentang Shahih al-Bukhari.

Oleh karena banyaknya kitab-kitab Sunni yang dipelajarinya secara luas dan dalamnya wawasan yang beliau miliki, membuat Imam Al-Syaukani sering berbeda pendapat dengan orang-orang dari kalangan Syi’ah Zaidiyyah sendiri. Terutama dalam urusan ayat-ayat mutasyabihat, beliau lebih condong dengan kelompok Salaf, bukan Syi’ah Zaidiyyah maupun Mu’tazilah.

Pun, dalam persoalan Al-Qur’an, apakah qadim (kekal)atau hadis (baru), pendapat Imam Al-Syaukani lebih dekat dengan pendapat Abu al-Hasan Al-Asy’ari, yang lebih berpandangan bahwa Al-Qur’an itu qadim. Imam Al-Syaukani mengatakan, akan muncul dua hal, apabila masalah demikian (persoalan Al-Qur’an) terus-menerus diperdebatkan. Yakni, (1) persoalan ini merupakan hal yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi maupun ulama’ Salaf, maka membicarakannya termasuk sesuatu yang bid’ah; (2) membicarakan hal tersebut, hanya akan memunculkan perpecahan di kalangan umat Islam, karena akan saling mengkafirkan satu sama lain. Oleh karena itu, menurut beliau pilihan terbaik adalan memilih berdiam diri (tawaqquf).

Demikianlah, sekilas tentang sosok besar—pengarang kitab Nail al-Authar yang  biasa dijadikan rujukan dalam Batsul Masa’il—yang dilahirkan dan dididik dalam lingkungan bermahzab Syi’ah, khususnya tipe Syi’ah Zaidiyyah, tetapi dalam struktur keilmuannya lebih condong ke arah Sunni (Ahlussunnah Wal Jama’ah). []

Qasim Amin : Bagaimana Seharusnya Perempuan Berperan

Oleh : Satrio Dwi Haryono

Sumber foto: https://neswa.id/artikel/tag/qasim-amin/

Pendidikan sebagai tolak ukur kemajuan suatu bangsa menjadi masalah pokok bagi bangsa yang tergolong dalam dunia ketiga. Berbagai pemikir mengemukakan pemikirannya tentang pendidikan guna mengakselerasikan bangsanya dari keterpurukan. Buah hasil pemikiran para tokoh pun banyak menuai perdebatan yang diduga bertentangan dengan nilai-nilai tradisi bahkan agama yang telah mendarah daging dalam kalangan masyarakat maupun agamawan.

Seperti halnya Qasim Amin, seorang tokoh reformis dari Negeri Piramida (baca: Mesir). Ia adalah putra dari keluarga aristokrat, ayahnya seorang gubernur di Kurdistan dan ibunya berasal dari keluarga Muhammad Ali Pasha. Amin mengenyam pendidikan di berbagai sekolah ternama di Mesir lalu melanjutkan pendidikan di Universitas Montepellier, Perancis.

Di Perancis, ia berjumpa dengan berbagai tokoh pembaharu islam seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Abdullah Nadim, dan lain-lain. Dalam perjumpaanya digunakan baik oleh Amin untuk bertukar gagasan mengenai masa depan Islam, khususnya Mesir. Ia menjadi murid sekaligus sahabat karib Muhammad Abduh yang nantinya akan banyak memengaruhi pemikiranya tentang emansipasi wanita.

Qasim Amin sering disebut sebagai penyempurnya atas ide-ide emansipasi wanita dunia Arab yang telah dibangun oleh Rifa`ah al-Tahtawi. Pemikiranya banyak menggelorakan semangat para pejuang emansipasi wanita setelahnya seperti, Nawwal Sa`dawi, Huda Sya`rawi, Tahir Haddad, dan lain-lain.

Karya-karya Qasim Amin meliputi bahasa Arab, Inggris dan Perancis. Hal itu tentu tidak mengejutkan dilihat bahwa ia pernah mengenyam pendidikan di Barat. Karya Qasim Amin yang menjadi Magnum Opus-nya ialah Tahrir al Mar`ah dan al-Mar`ah al-Jadidah. Karya Qasim Amin Tahrir al-Mar`ah layak mendapat perhatian. Karya yang ditulis pada tahun 1899 M ini menguraikan secara kritis ide-ide pembebasan perempuan, khususnya yang ada di Mesir. Penulisan Tahrir al-Mar`ah dilatarbelakangi oleh kesimpulan Amin yang menganggap bahwa reformasi perempuan dalam konteks struktur sosial memang mendesak untuk segera dilaksanakan (Qasim Amin :1899).

Dalam karyanya yang bertajuk Tahrir al-Mar`ah ia membagi pembahasa menjadi 4 tema pokok; Pendidikan Perempuan, Hijab, Perempuan dan Umat, dan Keluarga. Pada tulisan kali ini hanya akan mengksplorasi Pendidikan Perempuan.

Ide Pendidikan Perempuan menurut Qasim Amin tidaklah muncul begitu saja, tentu ada suatu hal yang menurutnya mendiskreditkan perempuan. Pandangan masyarakat Mesir kala itu bahwa perempuan tidak perlu diberi pendidikan dan pengajaran, bahkan mereka mempersoalkan apakah belajar menulis dan membaca itu suatu yang diperbolehkan syara` ataukah sesuatu yang diharamkan? (Muhammad Immarah:1976).

Pandangan seperti diatas juga terasa hingga negeri kita ini, namun dengan orientasi yang berbeda. Alhasil sering terdengar di masyarakat bahwa wanita itu hanya masak, macak (bersolek), manak (melahirkan). Tentu tiga kata tersebut akan membuat perempuan stagnan pada subordinasi, meminjam istilah Simone de Beauvior yakni sebagai The Second Sex. Padahal, jika dilihat dalam sejarah kemerdekaan Indonesia terdapat banyak perempuan yang turut berjuang seperti R.A Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, dan lain-lain.

Jika dilihat dari sejarah islam banyak pula tokoh wanita yang memiliki peran signifikan bagi perkembangan islam seperti, Ummu Salamah, Ummu Ammarah al-Anshariyyah, dan lain-lain. Pun didalam al-Qur`an diabadikan sejarah kepemimpinan oleh perempuan yang disebutkan bahwa  Ratu Balqis yang menjadi pemimpin negeri Saba`.

Qasim Amin berusaha merombak anggapan masyarakat Mesir kala itu tentang perempuan. Dengan hal itu, ia mengembangkan ide yang telah dibangun oleh at-Tahtawi dan gurunya Muhammad Abduh. Idenya tidak hanya berpusat pada perempuan sebagai individu namun kiprah perempuan terhadap kemajuan bangsa baik sebagai anggota masyarakat atau sebagai ibu rumah tangga.

Menurut Qasim Amin dalam karyanya Tahrir al-Mar`ah disebutkan bahwa “Kita (pendidik) harus memberikan keleluasan padanya (wanita), berjalan di dunia dengannya, dan menunjukkan keajaiban alam semesta, keagungan ilmu pengetahuan, seluk beluk seni, peninggalan bersejarah dan penemuan-penemuan kontemporer. Ia (wanita) juga harus ikut andil dalam pemikiran, harapan, kegembiraan dan kesedihan kita (pendidik). Ia pun (wanita) harus hadir dalam perkumpulan sosial dan mendapatkan manfaat dari karakter moral dan ide-ide yang berkualitas.”

Dengan pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa dengan wawasan yang dimiliki perempuan setelah melakukan pengembaraan pengetahuan akan didapati kualitas dalam diri perempuan baik saat memposisikan diri sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai anggota masyarakat.

Dengan Pendidikan Perempuan, ketika perempuan memposisikan diri sebagai ibu rumah tangga yang menjadi poros pendidikan paling dasar bagi anak-anaknya dan sebagai istri dari suaminya pasti akan melakukan tugas-tugasnya dengan baik.

Telah menjadi postulat bahwa anak lebih dekat dengan ibu ketimbang ayahnya. Hal itu menjadi amat penting peran ibu terhadap si anak dalam mengasuh, menanggung, dan mendidik penuh dengan kasih sayang. Dalam mendidik anak-anaknya, ibu memberikan wawasan  luas yang dimilikinya serta menginternalisasikan akhlak mulia. Dengan demikian, akan menentukan pula kiprah si anak yang nantinya mengemban tugas sebagai penerus bangsa.

Di sisi lain, akan sangat aneh jika pendidikan hanya diberikan kepada pria, padahal yang memegang kendali atas potensi anak sepenuhnya di pihak perempuan. Secara gamblang, perempuan malah perlu untuk mendapat pendidikan lebih luas ketimbang pria. Sebab, selain mendidik anak yang membutuhkan pengetahuan `luar rumah` ia juga perlu membutuhkan pendidikan `dalam rumah` guna merangkap peran sebagai suami dan ibu rumah tangga.

Hari ini, tidak dapat dipungkiri kontribusi perempuan dalam memajukan peradaban. Dalam perjalanan sejarah, tidak sedikit perempuan yang pernah menduduki sebagai kepada negara. Pun, tidak sedikit perempuan yang turut memberi kontribusi positif di bidang ilmu pengetahuan. Dari pekerjaan yang menggunakan otot maupun otak disitu pasti ada minimal seorang perempuan yang turut berkontribusi.

Maka dari itu, pentingya Pendidikan Perempuan tidak hanya berhenti pada aktivitas individu melainkan lebih dari itu. Aktivitas manusia yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, bagi keluarga, dan bagi masyarakat atau bangsa. []

Kibas-Kibis Teknologi, Apa Kabar Kepribadian?

Oleh: Fahmillya Kartika Kusuma Ningrum

Sumber foto: https://www.bernas.id/57426-cara-bijak-menanggulangi-dampak-negatif-teknologi

Manusia hidup di dunia dibekali oleh akal dan pikiran. Hidup di zaman yang serba canggih, di zaman yang serba digital seperti sekarang ini, tentunya memudahkan manusia untuk melakukan segala macam bentuk aktivitas kesehariannya. Misalnya aktivitas kita sebagai mahasiswa, guru, pekerja kantoran, dan lain sebagainya. Ketika membahas objek “digital”, maka tidak akan jauh bakal mengutamakan potensi fasilitas teknologi yang kini kian berkembang seiring zaman berjalan. Tentu, semakin berkembangnya zaman, pasti juga akan diiringi dengan adanya pembaharuan yang mungkin akan lain dari tradisi yang sudah ada sebelumnya.

Misalnya, adanya handphone yang merupakan salah satu produk sekaligus bukti dari kecanggihan teknologi. Membuat handphone kini bukan lagi menjadi barang yang asing bagi kehidupan manusia. Bahkan, dapat kita lihat bahwa sekarang ini banyak anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar saja sudah dengan mudah mampu mengoperasikan handphone. Meskipun pada segi positifnya, peran handphone juga memudahkan umpamanya sepasang kekasih yang sedang LDR-an untuk tetap dapat menjalin komunikasi, khusus bagi anak-anak muda milenial. Serta berbagai macam kemudahan lainnya yang ditawarkan oleh adanya teknologi berupa handphone tersebut.

Ketika beralih ke barang canggih lain misalnya, sebuah komputer pun juga berperan penting salah satunya memudahkan seorang untuk tetap produktif dalam menggeluti pekerjaannya. Terutama pada bidang pekerjaan yang itu memang memerlukan adanya sebuah komputer. Misalnya para pegawai dan pekerja kantoran, dan seterusnya, termasuk dalam dunia tulis-menulis.

Namun, dilihat dari sudut negatifnya, bagaimana dengan orang yang justru terlampau sibuk dengan handphone sehingga malah lupa dengan kewajibannya, alih-alih dengan keluarganya. Misalnya ketika sedang kumpul bersama keluarga, kemudia ada salah satu dari mereka yang terlalu sibuk dan lebih fokus dengan handphonenya, entah sibuk main game, atau asyik chat-an dengan teman yang mungkin hanya sekadar basa-basi, yang malah menyebakan diri dan keluarganya kehilangan moment kebersamaan dalam berkeluarga.

Contoh lain, dalam dunia pendidikan umpamanya, alih-alih seorang siswa yang mendapat tugas dari gurunya sebagai sarana belajar-mengajar, beberapa dari mereka malah cenderung mengandalkan internet untuk mengakses jawaban dari soal yang diberikan. Sehingga bisa memantik ghirah dari para siswa untuk ikut berjibaku dalam belajar, malah berdampak kebalikannya. Tentu hal itu tidak akan menjadikan siswa tersebut haus akan pendidikan dan bisa dirasa kurang efektif, karena siswa terlalu dimanjakan dengan internet sehingga membuatnya malas untuk membuka buku dan enggan mendengarkan penjelasan dari guru. Apalagi kebiasaan semacam ini ditakutkan malah akan menjadikan efek ketergantungan akut terhadap hal-hal instan, karena hanya didulang terus-menerus oleh jenis-jenis sajian teknologi, sehingga membuatnya sulit untuk menemukan jati dirinya.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi memberikan dampak positif dan negatif bagi semua orang. Poinnya tergantung pada kebijakan mereka dalam menggunakan teknologi tersebut. Namun pada kenyataannya, malah banyak di antara mereka yang salah dalam mengoptimalkannya. Ketika kita salah membangun mindset berpikir dan menempatkan orientasi, tentulah itu akan berdampak pada kebiasaan dan apa yang nanti akan kita dapatkan. Menurut Socrates, misalnya, seorang filsuf pada zaman Yunani kuno, ketika seseorang berpikir tentang suatu hal demi hal lainnya. Apa yang sungguh-sungguh menjadi pemikirannya adalah tujuan yang ada dalam pikirannya. Maka, sebenarnya apa yang kita pikirkan itu bukanlah hanya sekadar berupa sarana, tetapi adalah tujuan itu sendiri (David Melling: Jejak Langkah Pemikiran Plato: 35).

Jadi, yang menjadi pokok permasalahan seseorang berkembang dan bisa dinilai bijak itu justru lebih dilihat dari kepribadiannya, bukan pada alat yang menjadi objek acuannya. Bukanlah kemajuan itu adalah kita punya banyak uang dan harta berlimpah, kemajuan adalah tentang bertambah dan berkembangnya pribadi kita sebagai seorang insan. Sehingga, dalam hal ini kepribadianlah yang utamanya harus diubah adalah nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Maka, mnusia harus berguru dan mau untuk mencari jati dirinya, sehingga ia menjadi sosok insan yang maju dan bermartabat.

Hal demikian tentu bisa didapatkan dari didikan orang tua maupun guru, termasuk di segala tempat di mana dia bisa menuntut dan menambah ilmu. Sedangkan objek acuannya untuk dibenahi ialah keberadaan teknologi yang banyak disalahgunakan, atau tidak digunakan sebagaimana mestinya oleh beberapa orang.

Oleh karenanya, manusia haruslah lebih mengedepankan tujuan dari pendidikan dalam pembentukan kepribadian, agar senantiasa dapat berlaku dan bersikap bijak, serta dapat mencapai puncak kreativitasnya. Selain itu, selebihnya berupaya pula untuk menjadi pribadi yang lebih unggul dan berpendirian teguh agar tidak mudah terbawa arus zaman. Teknologi memang sangatlah membantu manusia dalam menjalankan berbagai macam persoalan dalam bahtera kehidupan, namun haruslah digunakan dengan cara yang bijak.

Dalam penerapannya, di tengah-tengah gelombang dan banjir informasi seperti yang terjadi sekarang ini, ketika mendapat ilmu maupun informasi dari internet misalnya, hendaknya tidak menelan itu secara mentah-mentah, tetapi harus dengan tetap memenuhi kaidah-kaidah yang benar. Kita tetap harus bijak dan cerdas dalam menerima dan mengolahnya. Perlunya menyaring dan mempelajari lebih jauh narasi-narasi berita maupun informasi bertujuan agar kita tidak mengalami bias pemahaman dan menjadi korban hoaks. Pemahaman yang setengah-setengah tidak akan bertahan lama di pikiran kita, bahkan akan mempersulit kita untuk mendapatkan pengetahuan yang membuat kita “benar-benar tahu”. Ibarat pisau, ketajamannya pun perlu untuk senantiasa diasah agar lebih tajam. Sama halnya dengan otak atau pikiran kita.

Kepribadian manusia yang unggul melekat pada kebajikan, dan keberaniannya mengambilan sikap. Hal ini telah disampaikan oleh filsuf Plato, bahwa kebajikan merupakan keseluruhan, sedangkan keberanian merupakan salah satu bagian dari kebajikan (David Melling: Jejak langkah Pemikiran Plato: 38). Definisi dari kebajikan sendiri adalah pengetahuan dan keahlian yang dilakukan dengan sangat baik, sedangkan definisi daripada keberanian adalah suatu keteguhan hati yang bijaksana.

Keberanian selalu tegak lurus dengan kebajikan. Keberanian adalah cerminan dari sikap  yang bijaksana. Keberanian bukan saja merupakan suatu bentuk pengetahuan tentang hal-hal yang ditakuti, namun juga bersedia tetap berusaha untuk meyakinkan diri agar tetap bangkit melawan ketakutan terhadap permasalahan yang sedang dihadapi. Meskipun pengetahuan itu bisa tergolongkan dalam hal yang baik maupun buruk, tetapi orang yang berani akan dengan bijaknya melakukan seluruh kebajikan, dan berusaha meninggalkan hal yang cenderung buruk dan merusak.

Oleh sebab itu, pengetahuan yang didapat secara benar dapat mendorong terbentuknya kepribadian yang tidaknya hanya baik, tetapi juga unggul. Sehingga ia tidak hanya bergantung pada pengetahuan yang didapat dari internet, tetapi juga berupaya mengoptimalkan geraknya dengan terjun langsung ke lapangan dan berusaha dengan maksimal untuk mencapai pada titik tujuannya. Hal inilah yang dimaksud oleh Plato sebagai “jiwa kepribadian”.