AFI

Category Archive : Kolom Mahasiswa

Melacak Lahirnya Filsafat Islam

Oleh: Satrio Dwi Haryono (191121037)

“Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya”.
(Goethe)

Sumber foto: https://www.wikiwand.com/en/Schools_of_Islamic_theology

Filsafat Islam penuh kontroversi mulai dari istilah, sejarah kemunculan, derajat filsafat terhadap agama, bahkan ada atau tidaknya filsafat Islam menuai kontroversi. Kontroversi penggunaan istilah yang merujuk filsafat Islam ada beberapa istilah yang digunakan antara lain, Filsafat Islam, Filsafat Arab, Filsafat Muslim, Filsafat di Dunia Islam. Namun hal ini tidak terlalu berarti karena hanya perbedaan penggunaan istilah tidak akan berimplikasi secara signifikan. Derajat Filsafat dengan agama juga dijumpai sebagai hal yang memicu perdebatan. Namun, perdebatan hanya dari kalangan umat muslim. Sejarah kemunculan filsafat Islam yang menjadi isu yang paling banyak dibahas dan menjadi penelitian baik dari kalangan intelektual Muslim maupun intelektual Barat. Umat islam sendiri juga banyak yang salah paham dalam mempelajari sejarah kemunculan filsafat Islam.
Lahir dan berkembangnya kebudayaan atau peradaban tidak mungkin tanpa bersentuhan dengan kebudayaan lain, misalnya filsafat Yunani lahir karena filsuf Yunani yang bersentuhan dengan Ilmu-ilmu yang berasal dari Mesir dan Babilonia. Dengan bekal tersebut mulai memikirkan alam tanpa menerima jawaban dari mitologi Yunani. Begitu pula filsafat Islam dengan banyak asumsi dan teori tentang sejarah perkembanganya
Berasal dari yunani
Penerjemahan teks-teks yunai yang berawal pada masa Dinasti Umayyah khususnya pada masa kekhalifahan Abd Al-Malik (685-705M) dan baru digarap pada masa Dinasti Abbasiyyah yang puncaknya pada masa khalifah Al-Makmun (811-833M). Khalifah ini sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, bahkan khalifah menjamin hidup sejahtera bagi para penerjemah teks-teks keilmuan. Baitul Hikmah yang didirikan oleh ayah Khalifah Al- Makmun yakni Harun Ar-Rasyid menjadi perpustakan, pusat studi humaniora, ilmu pengetahuan, dan literatur-literatur dari Persia, Yunani dan India. Di masa kekhalifahan Al-Makmun juga dibentuk tim-tim khusus yang bertugas mencari buku-buku ilmu pengetahuan ke negeri sekitar yang akan dikembangkan dan diterjemahkan. Di antara mereka yang dikenal dengan jasa-jasa penerjemahan adalah Yuhana Ibn Musyawaih dan Hunain Ibn Ishaq. Kedua tokoh tersebut adalah seorang kristen nestorian dari Suriah yang ahli bahasa Yunani. Pertama-tama teks yunani diterjemahkan ke bahasa Aramanik ( bahasa Semit kuno di Suriah ) dahulu, baru kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Menurut Montgomey watt, Hunain Ibn Ishaq tidak hanya menerjemahan secara literal, namun juga mengkajinya secara filosofis.
Menurut Ernest Renan, filsafat Islam berasal dari terjemahan teks-teks Yunani khususnya filsafat Aristoteles. Dan menurut Pierre Duhem, filsafat Islam adalah fotocopy dari Neo-platonisme. Kedua aliran tersebut disintesakan oleh filsuf ternama seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina. Sebagian orientalis beranggapan bahwa islam tidak memiliki tradisi pemikiran filosofis yang ada hanyalah menjiplak filsafat Yunani. Anggapan itu malah diikuti oleh umat islam sendiri dan dianggap sebagai kesimpulan yang ilmiah. Tentu saja anggapan itu sangat tidak enak didengar, padahal validitas kebenaranya dapat dipertanggung jawaban secara ilmiah.
Bukan dari Yunani
Jika ditelisik lebih serius lagi maka akan banyak ditemukan tradisi pemikiran filosofis jauh sebelum adanya gerakan penerjemah. Meski karya-karya Yunani mulai diterjemahkan pada masa Dinasti Umayyah dan baru mulai digarap secara serius pada masa Dinasti Abasiyyah.
Tradisi pemikiran filosofis dalam islam dapat dilihat dalam teologi yang dipelopori oleh Mu’tazilah yang sering disebut dengan “kaum rasionalis Islam”. Mutazilah muncul sekitar tahun 2 hijriah atau 623M telah bergumul dengan pemikiran filosofis-teologis. Aliran teologi tersebut memiliki beberapa ajaran yang berlandaskan rasio dan mengesampingkan wahyu. Begitu pula filsafat yang juga berlandaskan rasio. Jika dibandingkan maka “kaum rasional islam” muncul lebih awal dibandingkan dengan gerakan penerjemahan teks-teks dari yunani. Mutazilah yang condong kepada kebebasan berpikir menjadi mazhab resmi pemerintahan pada masa dinasti abbasiyyah khusunya pada khalifah al-makmun. Maka dari itu, berkmbangnya pesat tradisi pemikiran filosofis dalam islam juga terdapat dalam pengambilan hukum dari Al-quran dan As-sunnah seperti istilah Istihsan, Istishlah, Qiyas, dan term lainya yang lazim digunakan.
Tentunya dengan banyaknya teori yang mengulas sejarah dan perkembangan Filsafat Islam justru semakin memperkaya khazanah keilmuan islam. Suatu teori lahir dari kegiatan berpikir secara mendalam oleh seorang tokoh. Maka dari itu, suatu teori pasti memiliki dasar. Tidaklah elok jika pembaca menjustifikasi salah satu teori yang dibacanya adalah teori yang paling benar sebelum mengkaji teori lainya terlebih dahulu. Sesungguhnya realitas itu dapat dilihat dari berbagai sisi.

Mahasiswa dan Pandemi

Oleh: Hensa Ilham Intan Lutfi Primalita ( 181121023 )

Sumber Foto: https://www.clickondetroit.com/news/michigan/2020/08/14/michigan-health-officials-schools-should-require-masks-for-all-students/

Mahasiswa adalah sebutan untuk seorang yang sedang menempuh atau menjalani pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi, seperti, universitas, institut, akademi, dan sekolah tinggi. Sejarahnya mahasiswa dari berbagai negara memiliki peran cukup penting dalam sejarah suatu negara. Dahulu misalnya ratusan mahasiswa berhasil mendesak presiden Soeharto mundur dari jabatan nya sebagai presiden, di Indonesia pada Mei 1998.

Maha artinya “ter” dan siswa artinya “pelajar” jadi mahasiswa atrinya terpelajar. Maksudnya adalah seorang mahasiswa tidak hanya mempelajari bidang yang ia pelajari namun juga mengaplikasikannya serta mampu menginovasi dan berkreativitas tinggi dalam bidang tersebut.

Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan. Mengapa ? karena ekspetasi , probematika dan tamggung jawab yang di emban mahasiswa begitu besar. Mahasiswa adalah agen pembawa perubahan menjadi seorang yang dapat memberikan solusi bagi permasalah yang di hadapi masyarakat bahkan suatu negara nya sendiri.

Sedangkan pandemi dalam istilah kesehatan adalah terjadinya wabah suatu penyakit yang menyerang banyak korban, serempak di berbagai negara. Seperti yang terjadi di tahun ini kasus virus Corana. Pandemi corona telah mengubah semua sendi kehidupan. Semua aktifitas mahasiwa, siswa, pekerjaan lan dilakukan secara online. Karena adanya larangan keluar rumah tujuannya untuk memutus rantai penyebaran virus yang telah menelan banyak korban.

Konsep belajar mahasiswa pun berubah menjadi tidak bisa tatap muka, diantara mengguakan  aplikasi WAG, classroom, live streaming ig, zoom meeting dan aplikasi lainnya. Proses pembelajran tersebut menurut sebagian mahasiswa sangat membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan oleh dosen, peyampaian materi tidak kondusif dan kesulitan untuk memahami materi.

Disisi lain pandemi virus corona juga membuat mahasiswa panik sedih dan resah. Selain tentang hal pembelajaran juga tentang kuota internet, tempat kos dan keuangan. Dari pihak kampus tidak meengeluarkan bantuan kuota, ada baiknya pihak kampus juga memhami keadaan mahasiswa.

Jika  tentang kos – kosan banyak mahasiswa yang kebingungan antara mencabut sewa kos – kosan atau tidak karena kalau di cabut mereka harus mengambil barang – barang dan keluar dari wilayah itu dan kalau pun sudah masuk kuliah offline mereka kebingungan mencari kos – kosan lagi. Dan kalau tidak di cabut uang yang mereka bayarkan sia – sia. Karena mereka tidak menempati dan menggunakan fasilitasnya.

Sebagai mahasiswa tentang keuangan di masa pandemi ini bisa dibilang kesulitan. Karena apa mahasiswa merasa mereka sudah berusia  dewasa, sudah bisa berpikir matang.  jika meminta uang ke orang tua malu, mahasiswa ingin mencari uang sendiri dengan cara entah bekerja part time, buka les – lesan ataupun jualan online, tetapi di masa pandemi ini sangat susah jika mencari pekerjaan. Malahan yang sudah bekerja saja di keluarkan gegara  kelebihan karywan dan tidak sanggung untuk membanyar gaji.

Pada intinya mahasiswa dan pandemi di tahun ini sangatlah berperang, mahasiswa berontak dengan adanya pandemi virus corana. Menurut saya bukan hanya mahsiswa tapi seluruh masyarakat yang ada di dunia. Mahasiswa berharap di masa pandemi ini bisa memenuhi kebutuhannya karena mereka tersadar bahwa orang tua mereka juga kesulitan untuk menghidupi anggota keluarganya.

Mahasiswa menjadi malu karena banyak juga yang melontarkan kata – kata “ anak kuliahan ngganggur, tiduran, maen hp, nyantai dirumah , ditambah menyusahkan orang tua, bukan malah meringankan beban” sangat terpukul bukan mendengar lontaran kata – kata semacam itu. Padahal di benak pikiran mahasiswa pasti mereka juga tidak ingin hal itu terjadi.  Mereka ingin memeperbaiki ekonomi keluarganya, membahagiakan kedua orangtua dan bisa menjadi kebanggaan keluarga. Memang di masa pandemi ini masa – masa pahit mahasiswa. Semoga pandemi ini segera cepat berakhir agar mahasiswa bisa berakatifitas seperti biasa ,berkreatifitas dengan pikiran kritisnya, mengolah pikirannya dengan berdiskusi bersama teman – temanya, dan belajar secara normal lagi.  Aamiin