AFI

Category Archive : HMPS

‘Bincang Filsafat’ HMPS AFI 2022: “How the Ancient Greeks thought of Nature?”

Sukoharjo (25/02) — HMPS AFI mengadakan diskusi mingguan ‘Bincang Filsafat’, yang  pada edisi kali ini mengusung tema “How the Ancient Greeks thought of Nature?” sebagai lanjutan dari ‘Bincang Filsafat’ edisi pertama HMPS AFI periode 2022. Di mana dalam diskusi ini bermaksud menilik sekaligus mencoba memahami kembali pikiran-pikiran para filsuf Yunani Kuno yang dalam orientasi pemikirannya berpusat pada alam (Phylosophy of Nature). Diskusi yang bertempat di Jona Coffee tersebut dipantik oleh Ahmad Miftahudin Thohari, Mahasiswa AFI 2019.

Belajar tentang pemikiran filsafat tentunya tidak bisa melupakan begitu saja warisan pemikiran-pemikiran yang ditinggalkan oleh para filsuf di era Yunani Kuno. Sebab bagaimanapun juga, perjalanan pemikiran filsafat yang berkembang pada masa modern hingga sekarang ini tentu adalah lanjutan dari paradigma berpikir warisan filsafat Yunani Kuno. Pikiran-pikiran para filsuf Yunani Kuno bisa dibilang adalah sebagai pondasi dasar dari berkembangnya rancang bangun pemikiran filsafat di kemudian hari. Dan, demi menjaga tradisi Filsafat Barat, menilik kembali corak pemikiran para filsuf Yunani Kuno adalah sesuatu yang penting untuk dilakukan.

Hujan deras yang mengguyur daerah Pucangan nyatanya tidak lantas menghambat antusiasme mahasiswa untuk hadir guna belajar filsafat—khususnya belajar kembali tentang Yunani Kuno. Diskusi dimulai dari membuka dan membaca kembali pemikiran Thales, Anaximandros, Anaximenes, Heraklitos hingga model pemikiran dari seorang Phytagoras, dan tak ketinggalan pula para filsuf mahzab ‘eleatic school’, yakni Permenides, Zeno, termasuk juga Xenophanes.

Diskusi berlangsung kondusif. Forum dengan seksama mencoba memahami: apa itu arche (baca: ‘prinsip tunggal’) sebagai asal mula pembentukan alam dari buah pikiran para filsuf Yunani Kuno, berikut dengan segala argumentasinya. Apakah air atau api atau udara atau sesuatu yang tak terhingga dan tak terdefinisi yang menjadi asal mula alam dibentuk? Perbincangan demikian itulah yang di kemudian hari menjadi basis ontologis terkait pembahasan tentang hakikat alam.

Di akhir diskusi, tak lupa pula pemantik berpesan di dalam forum supaya tetap terus menjaga tradisi berfilsafat, untuk tetap terus belajar ilmu dan senantiasa berpikir kritis. Karena pada dasarnya, “berfilsafat adalah berpikir, dan hidup yang berpikir adalah pangkal kebahagiaan.” [hmps2022]

HMPS AFI Gelar Diskusi Buku Bertrand Russel: Filosofi Hidup Bahagia

Sukoharjo (18/3) HMPS AFI Berkolaborasi dengan Komunitas Dianoia mengadakan diskusi buku karya Bertrand Russel yang bertajuk Filosofi Hidup Bahagia pada Jumat, 18 February 2022 pukul 15.00 di Jona Coffe. Diskusi buku ini diadakan oleh HMPS AFI Bersama Komunitas Dianoia yang dipantik oleh Yusuf Nur Rohman Rasyid. Diskusi ini menjadi salah satu dari sekian forum diskusi yang digawangi oleh HMPS AFI, yang menjadi locus kajian dari forum ini ialah kajian filsafat dan teologi. Pada forum tersebut dihadiri 20an peserta yang mana terdiri dari berbagai angkatan. Pemantik menuturkan 2 hal yang menjadi substansi dari buku ini yakni penyebab kebahagiaan dan penyebab ketidakbahagiaan. Pemantik juga menuturkan bahwa buku yang dikarang oleh filsuf sekaligus peraih nobel ini sangat relevan dengan kehidupan modern ini. Atas kemasyhuran penulis dan relevansi dari isi buku terhadap realitas hari ini disambut baik oleh para peserta dengan dialog interaktif. Seperti forum diskusi yang sebelumnya forum ini berakhir tepat sebelum adzan maghrib. Kolaborani ini diharapkan menghidupkan bara intelektual pada kajian filsafat dan teologi yang akhir-akhir ini sedang meredup. [Hmps22]

Diskusi Perdana HMPS AFI 2022 bertemakan “Filsafat Sebagai Seni Memahami Hidup”

HMPS AFI- Diskusi perdana HMPS AFI dalam forum Bincang Filsafat yang  bertemakan “Filsafat Sebagai Seni Memahami Hidup” digelar pada  hari Jumat, 11 Februari 2022 pada pukul 16.00 WIB di Café Je lm UIN RMS Surakarta.

Diskusi kali ini dipantik oleh Ahmad Miftahuddin Thohari sebagai Kepada divisi keilmuan HMPS AFI 2022. Diskusi tersebut dihadiri sekitar 30an mahaiswa yang tidak hanya mahasiswa dari AFI saja, namun juga dari IAT dan TBI. Pemantik pada mulanya mengambil definisi filsafat dari belahan dunia barat maupun timur. Tentunya seluk-beluk dari perjalanan sejarah filsafat tidak luput dari pembahasan kali ini. Pun, pemantik menjelaskan terkait stigma-stigma yang seringkali diarahkan pada induk segala ilmu ini. Pada penghujung diskusi, ada sesi tanya jawab, yang kali ini terdapat pertanyaan “ jika filsafat baik mengapa masih banyak yang mengharamkan?”. Pemantik menjelaskan bahwa para pengharam induk segala ilmu ini memang tidak suka dan tidak mau tahu kepada filsafat dan tentunya para pengharam ini dipelopori oleh suatu oknum tertentu. Bagaimana mungkin kita mengharamkan jika mempelajarinya saja belum pernah?.

Diskusi diakhiri tepat sebelum adzan maghrib. Forum diskusi seperti ini diharapkan dapat mengaktifkan kembali keaktifan mahasiswa dalam aktivitas intelektualnya dan juga meluaskan cakrawalanya dalam bidang ilmu pengetahuan. [hmps2022]

HMPS AFI NGALAP BAROKAH

Selasa (12/2), HMPS AFI 2022 Menggelar Ziaroh Kubur di beberapa makam wali di sekitaran kota Surakarta. Kegiatan ziarah kubur ini diikuti oleh anggota HMPS AFI. Ziarah dimulai pukul 09.00 WIB dan keberangkatan dilakukan dari kampus UIN Raden mas Surakarta. Ziarah kubur yang pertama dilakukan di makam Ki Ageng Enis. Ki Ageng Enis memiliki istri bernama Nyai Enis dan memiliki 3 anak. Bagus enis merupakan anak pertama Ki Ageng Enis. Di makam tersebut juga terdapat silsilah kekeluargaan Ki Ageng Anis, dan perlu kita ketahui bahwasanya Ki Ageng Enis ini merupakan sosok tokoh penasihat raja jawa di zaman dulu, salah satunya adalah Joko Tingkir.

Setelah itu, kami melangsungkan Ziarah ke tempat yang kedua yaitu dikomplek pemakaman masjid Riyad, tepatnya di depan sisi kiri masjid. Terdapat 3 makam di masjid tersebut, yakni makam Habib Alwi Bin Ali al-Habsy, Habib Ahmad Bin Alwi al-Habsy, dan Habib Anis bin Alwi al- Habsy, ketiganya merupakan keturunan dari muallif kitab maulid Simthudurror. Semasa hidupnya, Habib Anis menggunakan uang hasil dari pekerjaannya untuk berbagi kepada masyarakat disekitar toko yang dimilikinya, yaitu dengan membelikan beberapa sarung untuk para tukang becak dan juga memberikan sejumlah uang untuk masyarakat yang kurang mampu.

Setelah melakukan ziarah kedua tempat tersebut, dilanjutkan sholat Dhuhur di masjid Agung Solo sembari diskusi mengenai tokoh yang telah diziarahi tadi. Tujuan dari kegiatan ini para peserta dapat mengenal tokoh-tokoh bersejarah, dan mengenal beberapa tempat-tempat religius di daerah Solo. [hmps22]

Penguatan Tradisi Ilmiah & Akhlakul Karimah sebagai Karakteristik Kaum Akademisi dalam Berorganisasi

HMPS AFI (2022) – Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) UIN Raden Mas Said Surakarta pada kemarin Sabtu (5/2) memberlangsungkan kegiatan berjudul Penguatan Kelembagaan Kemahasiswaan dengan tema “Menjaga Tradisi Ilmiyah & Akhlakul Karimah” di Pantai Sepanjang, Tanjungsari, Gunung Kidul.

Kegiatan tersebut diikuti oleh para jajaran Dekan, Kaprodi, seluruh civitas akademika dan keterwakilan delegasi ormawa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, mulai dari Sema-F, Dema-F, HMPS AFI, HMPS IAT, HMPS PI, HMPS TP, HMPS KPI, HMPS BKI dan HMPS MD.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Islah Gusmian, M.Ag selaku dekan FUD dalam pembukaannya, kegiatan tersebut bertujuan utama guna mempererat tali silaturahmi sekaligus membangun untuk koordinasi, baik antar fakultas dengan ormawa, kaprodi dengan HMPS, maupun antar HMPS dengan HMPS sebagai langkah awal untuk tetap merawat dan melestarikan tradisi ilmiyah dan akhlakul karimah sebagai kaum akademisi.

Selanjutnya, dalam materi inti yang disampaikan oleh Zaenal Muttaqin, S.Ag, M.A., Ph.D, selaku wakil dekan II (FUD), menekankan bahwa eksekusi-eksekusi kegiatan yang akan dilaksanakan nantinya oleh masing-masing ormawa FUD harus bersesuaian dan merupakan aktualisasi dari visi besar FUD, yakni: unggul dalam kajian Islam, sosial, humaniora yang terintegrasi dengan kearifan lokal di level Asia Tenggara pada 2034.

Ini tentu menjadi lecutan semangat, yang di sisi lain juga merupakan tugas yang harus dilaksanakan oleh masing-masing ormawa FUD dalam tiap-tiap kegiatan yang akan diagendakan nantinya. Termasuk bagi Prodi AFI yang juga mempunyai visi besar unggul tidak hanya dalam studi ilmu aqidah dan filsafat, tetapi unggul pula dalam studi ilmu sosial dan budaya yang berbasis kearifan lokal dengan distingsi “Filsafat Islam Jawa” sebagai upaya selain mensukseskan visi besar Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) juga merupakan upaya menyongsong tercapainya scientific vision UIN Raden Mas Said Surakarta.

Serangkaian kegiatan berlangsung cukup santai, tetapi tetap serius dan khidmat. Tak lupa, pesan-pesan juga disampaikan dengan komunikatif oleh masing-masing kaprodi guna memotivasi para mahasiswa yang hadir dan tergabung dalam ormawa FUD, yang kemudian disambung dengan penyampaian langkah ideal dari tiap-tiap ormawa FUD guna membangun koordinasi dan kerjasama yang baik di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Sebelum go to home, kegiatan yang dilaksanakan di Pantai Sepanjang tersebut kemudian diakhiri dengan outbond bersama. []

HMPS AFI Sukses Gelar Kenduri Buku & Wayang on the Road

Selasa, (1/6/21) — Bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila, HMPS AFI punya hajatan bertajuk “Kenduri Buku dan Wayang On The Road, bersama Ki Ompong Sudarsono” yang diselenggarakan di depan Burjo Badalah, di IAIN Surakarta yang sekarang sudah resmi beralih status menjadi UIN Raden Mas Said, nama asli Pangeran Sambernyowo.

Acara dimulai bakda Isya’ setelah segala properti dan perlengapan-perlengakapan yang diperlukan selesai dipersiapkan. Dibantu oleh komunitas Dianoia acara berhasil dimulai sekitar pukuk 20.00 WIB. pegalar

Meskipun acara ini milik HMPS AFI yang bekerja sama dengan komunitas Dianoia, tetapi para pengujung yang hadir tidak hanya dari kalangan HMPS AFI maupun dari komunitas Dionia melainkan ada pula pengunjung umum yang berkenan hadir mengikuti jalannya pagelaran wayang dari Ki Ompong Sudarsono.

Dalam pertujukannya, Ki Ompong membawakan sebuah dialog unik dan jenaka tetapi sangat edukatif tentang Pak Lurah dengan para pejabat lain dan rakyat yang ia sambungkan dengan esensi nilai-nilai yang ada dalam Pancasila. Acara berlangsung interaktif dan santai. Para pengunjung tak hanya pasif mendengarkan, tetapi juga diberikan kesempatan untuk berbicara, menyampaikan uneg-uneg-nya tentang Pancasila.

Wayang sebagai budaya luhur bangsa, menurut Ki Dalang Ompong merupakan jati diri bangsa. Oleh karenanya, menurutnya kita sebagai bangsa tak usah malu dengan budaya-budaya kita dan tetap harus percaya diri untuk melestarikannya. Pun kata Munawar Holil selaku ketua HMPS AFI, “Saya orang Jawa dan juga berada di Jawa sangat perlu untuk melestarikan budaya Jawa. Saya sangat mendukung pelestarian budaya, termasuk wayang.” Maka, ia berinisiatif membikin acara hajatan ini.

Dari beberapa pengunjung memberikan sebuah kesan terkait pagelaran wayang semalam, “saya sangat senang atas terselenggaranya acara seperti ini, sebab dengan terselenggaranya pagelaran wayang on the road ialah sebagai ajang melestarikan budaya. Ditambah lagi, dengan isi pewayangan yang berisi nilai-nilai Pancasila.” Kata Satrio Dwi Haryono, penggiat Dianoia.

Dalam tanggapan lain, “Ini merupakan acara yang patut dirawat dan dilestarikan, apalagi di tengah arus modernisasi yang semakin hendak menghilangkan unsur-unsur budaya masyarakat kita sebagai orang Jawa. Acara seperti ini seperti kita sedang melawan arus zaman, tatkala anak-anak milenial yang semakin pragmatis dengan budaya gaming-nya. Kita justru tetap bertahan merawat idealisme luhur kita untuk tetap eksis dengan budaya wayang seperti ini, ditambah lagi dengan kenduri buku semacam ini juga.” Kata Ahmad. [Red/HS]

Koordinasi dan Silaturahmi HMPS AFI dengan Kaprodi dan Sekprodi AFI

Jum’at, 19 Maret – Himpunan Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (HMPS AFI) menyelenggarakan forum Silaturahim dan koordinasi dengan pihak Program Studi yang dihadiri oleh kepala Program Studi (KAPRODI) AFI dan Sekretaris Program Studi (SEKPRODI) AFI, dan dari HMPS AFI di wakili oleh Ketua, Sekretaris-1, dan Bendahara-1 HMPS AFI. Kegiatan ini di selenggarakan pada Jum’at, 19 Maret 2021 yang bertempat di Ruang 204, gedung Fakultas Ushulludin dan Dakwah.


Kegiatan ini di mulai jam 10.45, Forum Silaturahim dan Koordinasi bersama Kaprodi dan Sekprodi, bertujuan meningkatkan kerjasama HMPS AFI dengan program studi agar kegiatan HMPS AFI sesuai dengan visi dan misi Program Studi AFI, Dra. Hj. Siti Nurlaili Muhadiyatiningsi, M. Hum, berpesan agar semua yang menjadi pengurus HMPS AFI tetap amanah dalam menjalankan tugas, bekerja sama dengan pihak fakultas, dan mengikuti tata aturan dari pihak Akademik. Beliau juga berpesan, “untuk menjadikan jabatan di HMPS AFI sebagai tempat pelatihan (kawah candradimuka) dalam bermasyarakat di kemudian hari”.


Silaturahmi dan koordinasi dengan dengan pihak program Studi (Prodi) juga memabahas mengenai program-progam HMPS AFI yang hendak bekerja sama dengan Prodi AFI dan juga beberapa jaringan kerjsama dari pihak Program Studi AFI dengan Rumah Budaya Kratonan, dan beberapa alumi alumni AFI. Dalam pertemuan ini, Kaprodi sekali lagi berbepesan kepada pengurus HMPS AFI untuk tidak mundur sampai masa kepengurusan selesai, “syukur-syukur kuliah kalian tidak keteteran” begitu ungkap Kaprodi AFI. Alfina Hidayah M. Phil, selaku Sekretaris Prodi juga berpesan kepada HMPS AFI, “untuk mengeluarkan pers release dalam setiap kegiatan AFI, selain itu setiap kegiatan HMPS AFI harus ada outpunya berupa tulisan dari hasil kegiatan yang diselenggarakan”. Kaprodi AFI sekali lagi berpesan kepada seluruh mahasiswa AFI sebenarnya dari pihak Prodi juga menunggu prestasi prestasi mahasiswa mhasiswa AFI untuk mendukung Akreditasi Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam. [AW]

Pesan dan Harapan untuk Prodi AFI dalam Acara Pelantikan ORMAWA-FUD IAIN Surakarta

HMPS AFI — Seluruh ORMAWA Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta telah resmi dilantik pada hari Senin (15/03) di gedung Aula FAB. Acara pelantikan tersebut dihadiri oleh seluruh perwakilan dari masing-masing ORMAWA terkait. Diantaranya ada SEMA-FUD, DEMA-FUD serta HMPS AFI, HMPS IAT, HMPS PI, HMPS TP (Ushuluddin), HMPS KPI, HMPS BKI dan HMPS MD (Dakwah).
Dalam acara pelantikan ini, juga dihadiri oleh seluruh jajaran Dekanat Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, yakni Dekan serta Wakil Dekan I, II, dan III. Acara pelantikan dimulai pada pukul 09.00 WIB, di mana sambutan diisi langsung oleh Dr. Islah, M.Ag selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Menginjak acara inti, pelantikan dimulai urut dari SEMA-FUD dan DEMA-FUD, kemudian dilanjutkan HMPS-AFI, HMPS-IAT, HMPS-PI, HMPS-TP (Ushuluddin). Serta diakhiri HMPS-KPI, HMPS-BKI, dan HMPS-MD (Dakwah).
Kemudian, dalam isi sambutan Dr. Islah, M.Ag Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, beliau berpesan kepada seluruh ORMAWA yang telah resmi dilantik agar lebih sungguh-sungguh lagi fokus mengabdi ke Program Studi (Prodi) dan diharapkan untuk bisa saling menjalin hubungan antar ORMAWA, terkhusus antar masing-masing HMPS yang ada di dalam kampus maupun luar kampus.
Pada kesempatan ini, beliau juga menegaskan mengenai sains vision IAIN Surakarta, yakni mengintegrasikan Islam dengan Kearifan Lokal agar lebih digeluti secara intens sebagai visi utama keilmuan kampus—sebagaimana yang tercatat dalam visi IAIN Surakarta, menjadi World Class Islamic University di level Asia dalam kajian sains yang terintegrasi dengan kearifan lokal pada 2035.
Dan, untuk Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) sebagai prodi yang banyak melakukan kajian-kajian keilmuan, Dr. Islah, M.Ag juga berpesan—khususnya kepada Prodi AFI—supaya bisa lebih mengkaji lagi mengenai Islam dan Budaya Jawa. Yang memang dalam visinya, Prodi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) juga ingin unggul dalam studi ilmu aqidah dan filsafat, sosial dan budaya berbasis nilai-nilai kearifan lokal dan keindonesian pada tahun 2024. [AMT]

Pelatihan Epistemologi, Sebuah Pengantar Ontologi

HMPS AFI IAIN Surakarta

Jumat, 25 September 2020, HMPS AFI IAIN Surakarta memberlangsungkan salah satu agendanya “Pelatihan Epistemologi” dengan tema “Ontologi: Sebuah Pengantar”. Ontologi adalah salah satu dari tiga pembahasan besar yang ada dalam filsafat. Sebuah bahasan awal mengenai hakikat keberadaan atas sesuatu—utamanya mengenai keberadaan alam semesta. Selain itu, ontologi merupakan hal pokok yang mau tidak mau harus diketahui oleh kaum akademisi secara umum, dan khususnya mahasiswa filsafat guna mengetahui lebih dalam lagi mengenai apa itu ilmu dan pengetahuan.
Dengan pemateri atau narasumber M. Agus Wahyudi M. Ag., M. Psi., yang dimoderatori oleh salah satu mahasiswa AFI IAIN Surakarta, Abdul Wahid, diskusi dimulai pada jam 16.00 WIB. Agenda yang sebenarnya sudah direncanakan sejak lama dan hendak diadakan secara offline atau tatap muka harus gagal terlaksana lantaran adanya pandemi Covid-19. Maka, sebagai gantinya diadakanlah agenda tersebut melalui via online (daring). Dipilihlah google meet sebagai medan untuk tempat berlangsungnya seminar “Pelatihan Epistemologi”.
Mayoritas diikuti oleh mahasiswa prodi AFI di IAIN Surakarta, meskipun tidak menutup kemungkinan ada pula mahasiswa lintas prodi yang ikut join, seperti pada kesempatan ini ada satu mahasiswa Sejarah Peradaban Islam yang juga ikut gabung mengikuti jalannya diskusi.
Acara utama dibuka oleh moderator dan langsung disambung lanjutkan ke pembahasan inti oleh pemateri. Tak menunggu lama, pemateri membuka bahasan dengan mengatakan bahwasannya ontologi adalah suatu landasan awal yang harus diketahui dan dipahami, di mana di dalam ontologi pembahasan pokoknya ialah tentang hakikat suatu keberadaan atau bahasan mengenai sesuatu yang ada.
Kalau hendak diambil shortcut pemahaman mengenai bahasan maksud apa itu ontologi. Maka, pembahasan yang terdapat di dalamnya tidak jauh adalah hendak menguak pertanyaan “tentang apa”. Idiom “tentang apa” merupakan pertanyaan yang diajukan sebagai pijakan awal sekaligus yang pertama kali benar-benar harus dikuak agar nantinya dapat masuk lebih mudah ke tahap pemahaman berikutnya. Yakni mengenai bangunan apa itu epistemologi dan apa itu yang dinamakan aksiologi.
Being atau “ada” sangat identik dengan ontologi. Sebab memang sesuatu yang ada atau keberadaan itulah yang menjadi pokok bahasan dalam ontologi. Namun demikian, di dalam ontologi mengenai ada atau keberadaan itu sendiri tidaklah hanya mengacu hanya pada sesuatu ada yang tampak atau yang kasat mata saja. Akan tetapi, ada sesuatu lain yang disebut dengan “yang ada”. Di mana “yang ada” ini posisinya mendahului daripada “ada” itu sendiri. Kalau dimisalkan, “yang ada” ini merupakan ide yang mendasari dari “ada”-nya sesuatu. Seperti ide dari kursi merupakan awal adanya bentukkan kursi.
Dalam gagasan Aristoteles yang disebut dengan ide awal biasanya dinamai dengan matter, sedangkan bentukan atau hasil dari perwujudan ide awal tersebut dinamai dengan form. Keduanya tidak bisa saling terlepas, bahkan kedua hal itulah yang membangun unsur dari sesuatu yang bersifat ontologis.
Lebih jauh lagi, dijelaskan pula bahwa suatu keberadaan tidaklah melulu tentang “suatu ada” yang hanya dapat dilihat oleh indera manusia. “Suatu ada” yang tersimpan dalam pikiran juga merupakan bagian dari “suatu ada”. Atau ada “suatu ada” yang lain yang sifatnya tak kasat. Maka dari sini, dapat dipahami bahwa ontologi bukan hanya mengacu pada sesuatu yang tampak saja, melainkan bisa juga mengacu pada hal yang sifatnya metafisika (yang tak terlihat oleh indera). Sehingga ketika hendak menguak hakikat keberadaan dari sesuatu tidak bisa kiranya kalau hanya berhenti pada hal yang tampak saja. Dengan begitu haruslah dilihat pula dimensi-dimensi lain yang tersembunyi dibalik hal yang tampak. Sebab sesuatu yang tak terlihat oleh indera bukan berarti sesuatu itu tidak ada.
Pemateri juga memberikan pemilahan pemahaman dari suatu ada atau tentang keberadaan menjadi dua pembagian. Bahwa dalam keberadaan itu sendiri ada sesuatu hal yang dinamakan “kenyataan” dan “penampakan”. Untuk yang dinamakan “kenyataan” adalah sesuatu hal yang erat kaitannya dengan fakta empiris yang benar-benar dialami langsung oleh pihak subjek, sehingga itu akan cenderung lebih konkret. Sedangkan untuk yang dinamakan “penampakan”, pemateri memilah lagi menjadi dua jenis pemahaman yakni, “ketampakan” dan “kenampakan”. Untuk yang “ketampakan” ini sifatnya lebih objektif sehingga tidak banyak terdapat perbedaan makna. Akan tetapi, untuk yang “kenampakan” sifatnya cenderung lebih subjektif. Artinya, maknanya bisa beragam sesuai subjek yang melihat dan memaknainya.
Di akhir materi inti yang disampaikan oleh pemateri. Bahwa mengenai ontologi atau tentang hakikat keberadaan sesuatu di dalamnya pasti memiliki nilai esensi dan subtansinya masing-masing. Esensi sendiri merupakan nilai hakikat keberadaan yang sifatnya cenderung tak terlihat oleh indera, sifatnya lebih general dan luas. Sedangkan subtansi adalah nilai hakikat yang mensifati atau sifat nilai yang terdapat dalam esensi tersebut. Lebih mengerucut kepada satu entitas.
Kemudian, setelah bahasan inti sudah selesai disampaikan. Moderator membuka sesi tanya jawab bagi para peserta “Pelatihan Epistemologi” yang ingin memberikan pertanyaan, tanggapan maupun sanggahan. Terdapat dua pertanyaan yang diajukan kepada pemateri, di mana dua pernyataan tersebut membuat pemahaman mengenai apa itu ontologi semakin mendalam dan mendasar.
Dua pertanyaan itu yang pertama adalah tentang makna matter dan form gagasan dari Aristoteles, yang oleh pemateri dijawab dengan gamblang dan mendalam pula. Bahkan disebutkan oleh pemateri, jika manusia membutuhkan adanya ide awal sebagai sebab lahirnya sesuatu yang berbentuk dan ada. Seperti ketika manusia hendak membuat meja, harus dibutuhkan ide awal yang ada dalam pikiran tentang seperti apa nantinya bentukkan meja itu dibuat. Tetapi, bagi Tuhan sama sekali tidaklah dibutuhkan ide untuk membuat atau menciptakan atau meng-“ada”-kan sesuatu. Maka, bisa dikatakan “Kun”-Nya Tuhan sama sekali terbebas dari konsep atau ide awal atas terciptanya sesuatu. Tuhan Maha Sempurna dalam hal ini, sehingga Ia tak memerlukan konsep dan ide.
Sedang pertanyaan yang kedua adalah tentang hakikat dari ontologi sendiri itu sebenarnya apa. Yang kemudian dijawab oleh pemateri bahwa ontologi itu sendiri adalah juga bermakna hakikat di mana di dalamnya memuat nilai esensi dan subtansi. Kedua istilah tersebut adalah prinsip dasar nilai utama dari apa yang disebut dengan hakikat.
Di akhir jawaban, sebelum acara disimpulkan oleh moderator dan ditutup. Ada closing dari pemateri yang benar-benar harus digarisbawahi dan harus diletakkan dalam kesadaran utama manusia sebagai makhluk yang berakal dan yang memiliki gelar ahsani taqwim. Yakni, bahwasannya hakikat utama hidup manusia atau manusia itu sendiri diciptakan tidak lain adalah untuk beribadah, menyembah, atau mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Maka, hal lain selain hal tersebut sama sekali bukanlah suatu yang bisa dikatakan hakikat hidupnya manusia atau hakikat dari manusia itu sendiri. []

DISKUSI ONLINE – Trilogi Filsafat (Ontologi, Epistemologi, Aksiologi) bersama Agus Effendi (Presiden LIMFISA 2019-2021) dan M. Afif Al Ayubi (Presiden LIMFISA 2017-2019).

Minggu (26/7) Presiden LIMFISA sebagai pemantik diskusi online HMPS AFI IAIN Surakarta yang bertema Trilogi Filsafat (Ontologi, Epistemologi, Aksiologi).

Pada mulanya, pemantik diskusi ada 2 narasumber yakni Presiden Limfisa (2017-2019) dan presiden limfisa (2019-2021). Dikarenakan suatu hal, presiden limfisa (2019-2021) tidak dapat menghadiri diskusi online, semula 2 narasumber menjadi 1 narasumber. Materi pertama yakni Ontologi, pemantik tidak hanya menjelaskan secara definitif mengenai ontologi, ada pula membuat ilustrasi tentang penelitian penyakit di 2 tempat yang berbeda yang diamati dengan indera dan di uji secara eksperimen. Ilustrasi tersebut sudah menyentuh pembahasan epistemologi yaitu indera dan eksperimen. Pemantik juga menjelaskan beberapa isme-isme yang berkaitan dengan epistemologi yakni rasionalisme, empirisme, dan positivisme. Lalu aksiologi, dalam penjelasanya diungkapkan bahwa aksiologi terbagi menjadi 2 yakni etika dan estetika. Etika berkaitan dengan tindakan manusia, sedangkan estetika berkaitan dengan ihwal keindahan.

Pemantik dalam closing statementya bertutur bahwa ketiga pembahasan tadi (ontologi, epistemologi, aksiologi) dapat digunakan sebagai sudut pandang seseorang untuk mengungkap realitas. [Ais/red]