AFI

Category Archive : HMPS

HMPS AFI Tunaikan Bubar (Buka Bareng) Lintas Angkatan

Sukoharjo (9/4), HMPS AFI gawangi Bubar (Buka Bareng) lintas angakatan mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam guna mempererat tali silaturahmi lintas angakatan. Bubar diselenggarakan di Rumah Saudara Yusuf, Gatak, Sukoharjo pada Sabtu lalu, 9 April 2022.

Bubar (baca: Buka Bareng) yang digawangi HMPS AFI ini berbeda dengan buka bersama pada umumnya. Pasalnya, flyer tidak dituliskan dengan istilah buber namun Bubar. Rangkaian acaranya pun demikian berbeda dengan acara Bukber pada umumnya. Kawan-kawan yang hadir tidak hanya menyantap hidangan buka puasa melainkan juga menyantap sedapnya bakaran sosis yang dilakukan setelah shalat tarawih. Bubar dihadiri dari angakatan termuda yakni 2021 hingga angkatan 2017. Acara ini seakan menjadi malam pengakraban lintas angkatan.

Guyon asik menyelimuti sepanjang acara tersebut. Penolakan terhadap senioritas terhadap mahasiswa yang lebih muda juga ditekankan dalam acara ini. Tidak luput pula diskusi mengenai diskursus ilmu filsafat juga turut dibahas.

Walaupun pagelaran ini tidak dihadiri semua mahasiswa AFI pada setiap angkatan, namun terdapat perwakilan tiap kelas yang hadir turut menyumbangkan keasyikan dan keharmonis. Harapannya, moment seperti ini tidaklah menjadi suatu moment yang tumbuh subur dalam suatu moment tertentu saja, namun tumbuh subur pada segala moment yang berunsur kekeluargaan, keharmonisan, AFI-belonging, dan anti-senioritas. []

HMPS AFI Bersama Komunitas Dianoia Menggemakan Kembali Gagasan Marx Lewat Diskusi

Sukoharjo (1/4) HMPS AFI menggandeng kembali Komunitas Dianoia dengan menyelenggarakan Diskusi yang bertajuk “Menelisik Pemikiran Marx” yang dipantik langsung  oleh Mario Prakoso pada jumat 1/4 lalu di Cafee Je Lm UIN Raden Mas Said Surakarta.

Diskusi kali ini menyuguhkan tema yang dinanti para penikmat gerakan-gerakan sosial. Pasalnya, tokoh yang menjadi pembahasan kali ini memiliki ide besar yang pemikirannya subuh di hampir seluruh bangsa sekalipun itu negara maju. Diskusi dibuka oleh Satrio Haryono yang sedikit mengulas gagasan-gagasan Marx yang sangat subur di sebagian kalangan dan banyak menuai cercaan di sebagian kalangan yang lain. Mario Prakoso sebagai pemantik diskusi ini mengawali dengan berbagai tokoh yang memengaruhi pemikiran Marx, antara lain Hegel, Feuerbach, dan beberapa pemikir sosialis lainnya. 

Setelah mengawali dengan pemikir-pemikir yang memengaruhi jalan pikiran Marx, pemantik mulai mengurai pemikiran Marx secara rinci dan menkontekstualisasikan gagasan Marx. Terlebih paparannya tentang musuh besar kaum tertindas yakni Kapitalisme yang semakin kesini semakin tidak terlihat dan menyelinap masuk ke berbagai bidang seperti pendidikan, budaya, negara, agama dan lain-lain. Dialog interaktif juga tersaji dalam diskusi kali ini. Pembawaan yang apik oleh pemateri tidak hanya mengutarakan gagasan-gagasan Marx namun juga para pemikir Neo-Marxis.

Seperti biasanya, diskusi ditutup tetap sebelum adzan Magrib. Diskusi kali ini cukup sukses dengan hidupnya kesadaran para peserta bahwa ada hal yang tidak baik saja diluar sana yang dibungkus dengan berbagai ihwal yang mengatasnamakan kebaikan. []

Sarehan Filsafat AFI UIN Raden Mas Said: Masa Depan Filsafat, menjadi Saleh atau Bid’ah?

Sabtu (26/03) — HMPS AFI menyelenggarakan salah satu hajat perbincangan yang menjadi grand program kerja, yakni Sarasehan Filsafat dengan mengusung tema “Masa Depan Filsafat: Antara Kesalehan dan Kebid’ahan”. Diselenggarakan di Gedung Graha UIN Raden Mas Said, acara sarasehan dimulai pukul 07.30 WIB.

Raha Bistara S.Ag., M.Ag dan Fitri Cahyanto S.Ag, yang merupakan alumnus AFI UIN Raden Mas Said, menjadi figur pembicara dalam acara sarasehan filsafat tersebut. Dibuka dengan penampilan monolog puisi kian memberikan nuansa acara yang semakin meriah dan menarik.

Mengusung angle tema masa depan filsafat dalam bingkai antara kesalehan dan kebid’ahan, bermaksud untuk memberikan satu penjelasan tentang semesta pemahaman filsafat yang dalam pandangan umum dinilai sebagai satu disiplin ilmu yang oleh beberapa kalangan dinilai ‘berbahaya untuk dipelajari’, dan harus dijauhi. Sehingga, stigma bahwa filsafat sebagai satu disiplin ilmu yang dijauhi haruslah di-brakdown secara komprehensif. Sungguhkah, diskurus filsafat harus dijauhi dalam kehidupan, atau harus diisolasi dari dunia ilmu pengetahuan?

Raha Bistara S.Ag., M.Ag memberikan penjelasan dengan menyinggung hubungan filsafat dan agama, sebagai satu worldview yang satu sama lainnya tak bisa dipisahkan. Bahkan, cenderung harus diharmonisasikan. Antara filsafat dengan agama sesungguhnya adalah dua hal yang tidak perlu didikotomikan. Kehidupan sebagaimana dianalogikan dengan logika cinta, berada dalam kondisi antara enjoyment dan kontemplatif. Kondisi enjoyment yang dalam arti bahwa manusia harus menikmati proses cinta itu sendiri, sedangkan kondisi kontemplatif merupakan satu kesadaran untuk terus mencari landasan rasional akan cinta itu sendiri.

Dalam hal ini, posisi agama membawa kondisi enjoyment, sedangkan filsafat berposisi memantik kesadaran kepada manusia untuk senantiasa melakukan tindak kontemplasi terus-menerus dalam perjalanan kehidupan yang sedang ia jalani. Sehingga ini berarti bahwa diskurus ke-filsafat-an dan dalil-dalil agama adalah dua hal yang tidak perlu dipisahkan satu sama lain.

Fitri Cahyanto S.Ag, membawa pemahaman kembali bahwa filsafat adalah ibu dari segala ilmu pengetahuan, dengan merunut akar historisitas persentuhan filsafat dengan sejarah pemikiran manusia yang membawa perubahan dalam peradaban dunia. Disiplin filsafat diakui tidak adalah disiplin pemikiran yang berhasil membentuk scientific method yang pada akhirnya melahirkan cabang-cabang ilmu pengetahuan, bahkan dalam wilayah teknologi tidak bisa dipungkuri bahwa filsafat berperan penting di dalam proses softifikasinya. Pun, kecanggihan teknologi yang bisa kita nikmati saat ini tidak lain juga merupakan produk disiplin filsafat (dalam dunia sains dan teknologi)—dan sekaligus adalah objek kajian dari filsafat itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan masa depan filsafat? Dalam saresahan yang berlangsung culup diskursif, pembicara kemudian memberikan satu pandangan bahwa filsafat adalah proses berpikir yang menjadi ruh dasar kehidupan ini berjalan. Sehingga, filsafat di masa depan akan selalu include dalam perjalanan hidup manusia dan tidak akan hanya terjebak dalam ruang sempit pendikotomian istilah.

Dengan kata lain, filsafat di masa depan memungkinkan akan menghantarkan manusia menuju kesalehan, juga sekaligus kebid’ahan—dalam arti bid’ah yang membawa kebaharuan—melalui jalan, yakni tentu dengan mengoptimalkan concern dalam semesta dialogis pemikiran-pemikiran yang bersifat epistemologis. [hmps22]

HMPS AFI Menggelar Kembali Diskusi Bincang Filsafat yang Mengusung Tema Rasionalisme

Sukoharjo (25/3) HMPS AFI kembali lagi menggelar rutinan Bincang Filsafat yang bertajuk “Rasionalisme: Descartes, Spinoza, Leibniz” pada 25/3 di Je EL M Caffe UIN Raden Mas Said Surakarta.

Rutinan Bincang Filsafat kali ini menginjak zaman baru yakni zaman modern, yakni suatu zaman yang berparadigma baru, yaitu Antroposentris. Diskusi yang dibawakan oleh Ahamad Miftahuddin Thohari selaku Koordinator divisi keilmuan HMPS AFI 2022 mengupas secara singkat tiga tokoh utama Mahzab Rasionalisme, yakni Rene Descartes, Baruch Spinoza, dan Leibniz.

Pemantik memaparkan bahwa Rasionalisme adalah suatu mahzab dalam filsafat yang menjadikan rasio /akal sebagai alat untuk mencapai kebenaran. Pula, Rasionalisme banyak dipengaruhi tokoh yunani klasik khususnya Plato.

Rene Descartes yang menjadi tokoh sentral Filsafat Modern banyak mencurahkan gagasan-gagasan briliannya. Pasalnya, Descartes dapat merasionalkan kebenaran agama melalui argumen-argumen filosofis. Proposisi paling masyhur yang dikatakan Descartes berbunyi “Cogito Ergo Sum” yang kurang lebih diartikan menjadi “Saya berfikir, maka saya ada”. Banyaknya gagasan gemilang Descartes menjadikan beliau dijuluki sebagai “Bapak Filsafat Modern”.

Terdapat dua tokoh lagi yang turut dikupas dalam diskusi sore itu, yaitu Spinoza dan Leibniz. Secara kontinental, memang filsafat modern yang bermazhab Rasionalisme seringkali dialamatkan pada negara Perancis. Berbeda dengan Empirisme yang lahir dan berkembang di Inggris nantinya akan dikupas pada pertemuan depan.

Seperti biasanya, tidak hanya penyampaian materi namun juga dialog interaktif antara peserta-pemateri ataupun pemateri-pemateri. Diskusi diakhiri pada penghujung sore yang diwarnai dengan dialog interaktif yang cukup sengit nan asyik. [Hmps22]

HMPS AFI Gelar Workshop Kepenulisan

Boyolali (19/3), HMPS AFI UIN Raden Mas Said menggelar workshop kepenulisan pada 19-20 Maret 2022. Dalam gelaran Workshop Kepenulisan, HMPS bertandang ke kota Susu, Boyolali. Gelaran tersebut dihadiri oleh Mahasiswa AFI dari berbagai lapisan angkatan.

Acara ini dibingkai rapi oleh para panitia dan mendatangkan pemateri dari dosen AFI UIN Raden Mas Said Surakarta, yakni Raha Bistara, M.Ag.Workshop Kepenulisan yang digelar HMPS AFI disambut gemilang oleh para peserta yang berasal dari program studi Aqidah dan Filsafat Islam. Uniknya, workshop ini sebagian besar dihadiri dari Mahasiswa AFI yang masih tergolong muda, yakni angkatan 21 atau semester 2.

Workshop kepenulisan ini membedah kiat-kiat dan tips-trik membuat essay, yang mana workshop kali ini membuat suatu essay ilmiah panjang. Acara ini diadakan di SD NU I`jazul Qu`ran pada 19-20 Maret 2022.Untuk membakar semangat para peserta, pemateri mengutip perkataan Armin Martajasa, “ Jika kamu ingin mengenal dunia maka membacalah, dan jika kamu ingin dikenal dunia maka menulislah” .

Pagelaran ini dibagi menjadi 3 sesi, yakni pertama kali ialah diskusi antara pemateri dengan peserta mengenai apa yang telah dibaca dan apa yang akan dituliskan. Kedua, pemaparan materi yang langsung dibawakan oleh Raha Bistara M.Ag. Ketiga, penulisan essay yang dilakukan para peserta. Uniknya, pada sesi ketiga para peserta menyelesaikannya dengan cukup cepat, yakni hanya sekali duduk dapat menyelesaikan essay Panjang.

Workshop ini berencana akan ditabulasikan menjadi satu dan akan diterbitkan menjadi buku kumpulan essay.Acara ini ditutup pada hari kedua, yakni pada hari minggu 20 Maret 2022. Acara seperti ini diharapkan menjadi obat bagi penyakit-penyakit alergi terhadap literasi yang kian semakin ganas menyerang kesadaran literasi mahasiswa. []

Diskusi HMPS AFI X Komunitas Dianoia Bertemakan Sosiologi Agama

Sukoharjo (18/3) HMPS AFI berkolaborasi kembali dengan Komunitas Dianoia pada diskusi yang bertemakan “Sosiologi Agama” di Jona Caffee pada Jum’at 18/3.

Diskusi kali ini mengangkat tema “Sosiologi Agama” yang dibawakan langsung oleh Ruwanda Saputro salah satu mahasiswa UNS prodi Sosiologi dan Antropologi. Pada kali ini, Sosiologi Agama menjadi tema besar yang membedah 3 tokoh besar sosiologi agama yakni Emile Durkheim, Karl Marx, dan Max Weber.

Diskusi sore itu berjalan sangat anget dengan berbagai dialog interaktif antara pemateri dengan peserta maupun antara peserta dengan peserta. Pasalnya, Sosiologi sebagai ilmu yang membahas hubungan relasi manusia jarang mendapatkan perhatian bagi kalangan mahasiswa UIN Raden Mas Said yang notabene peserta diskusi banyak dihadiri dari kampus tersebut.

Pemateri memaparkan bahwa Sosiologi ialah ilmu yang mengkaji suatu barang yang terlihat atau materi, jadi segala barang yang tidak terlihat atau immateri tidak menjadi kajian sosiologi. Akan tetapi, Sosiologi agama bukan mengkaji agama secara teologis, melainkan mengkaji suatu fenomena masyarakat beragama.

pada akhir diskusi, pemateri memaparkan bahwa Sosiologi itu secara tidak langsung mengafirmasi rasisme eropa dengan cara melakukan penelitian terhadap agama-agama atau masyarakat-masyarakat timur yang dipenuhi dengan ciri yang bertentangan dengan barat yang berkemajuan.

Diskusi sore itu cukup menarik dengan dialog interaktif dan pemaparan materi yang sangat membuka perspektif baru bagi para peserta. Diskusi berakhir pada pukul 18.00 bersamaan dengan adzan magrib berkumandang.[hmps22]

Bincang Filsafat Seri Pemikiran Yunani Klasik

Sukoharjo (11/3), HMPS AFI kembali adakan Bincang Filsafat Seri Pemikiran Yunani Klasik : Socrates, Plato, Aristoteles. Seperti biasanya, diskusi ini diadakan di Jona Caffee pada pukul 15.00, sebagai upaya memperluas cakrawala pemikiran filsafat.

Seri kali ini dipantik oleh Ibnu Nurocchim dan dipandu oleh Delima Puji Lestari, keduanya merupakan Mahasiswa AFI sekaligus pengurus HMPS AFI 2022. Pada mulanya, Delima sebagai moderator memberikan gambaran singkat mengenai “The Gang of Three” yakni Socrates, Plato Aristoteles. Lalu dilanjut secara meluas dan mendalam oleh Ibnu sebagai pemateri.

Dalam pemaparannya Ibnu menjelaskan bahwa Socrates layaknya seorang Mujjadid. Sebab Socrates melakukan gerakan pembaharuan yang begitu terang sehingga membuat kebanyakan masyarakat Yunani berpikiran bahwa Socrates itu adalah orang gila. Pemateri juga memaparkan sedikit tentang akhir hayat Socrates yang dipaksa minum racun karena Socrates dianggap telah meracuni anak muda dan membuat agama baru yakni `filsafat`.

Diskusi terjadi sangat interaktif antara pemateri dan peserta khususnya pada sesi tokoh Plato. Dalam konsep Dunia ide nya Plato, digambarkan bahwa apa yang kita ketahui itu adalah bawaan dari dunia Ide. Pada sesi ini tentu menjadi suatu bahan refleksi kembali jika apa yang kita ketahui itu bersifat empirik, yakni pengalaman. Kita akan tahu tentang rasa pedas jika kita telah merasakan apa itu pedas.

Memang, menjadi barang makruh ketika belajar filsafat tanpa mempelajari “The Three of Gang”. Walaupun ketiga tokoh tersebut hidup sekitar 23 Abad yang lalu namun pemikiran-pemikirannya masih dikaji hingga sekarang. Diskusi kali ini dipungkasi tepat sebelum adzan magrib berkumandang. Semoga forum-forum diskusi seperti ini terus langgeng dan berkembang sehingga menjadi obat penawar bagi penyakit-penyakit kejumudan pola pikir. [Hmps22]

HMPS AFI Mucal Ngaos

Sukoharjo 7/3, HMPS AFI mengadakan pengabdian masyarakat dengan mengajar TPA. Berlokasi di Musholla al-Barokah Gatak, Sukoharjo yang dimulai pada pukul 16.00 hingga adzan Maghrib. Kegiatan ini sebagai ruang tholabul ilmi bagi anak-anak desa yang merindukan ruang-ruang belajar tatap muka.

Sebagai mahasiswa yang notabene tidak hanya sebagai agent of change namun juga sebaga agent of development menjadi keniscayaan untuk turun langsung dan mengabdi kepada masyarakat. Salah satu perwujudan nilai itu telah dilakukan HMPS AFI yang langsung turun dan mengajarkan ilmu keagamaan di musholla al-Barokah Gatak, Sukoharjo.

Menjadi suatu keunikan bagi HMPS AFI yang banyak melakukan kegiatan di dalam kampus yang hanya dapat dinikmati oleh para mahasiswa. Namun dengan pekerjaan yang agung ini (mengajar) HMPS AFI dapat melakukan kegiatan yang dapat dinikmati masyarakat umum.

Kegiatan ini diharapkan dapat dilakukan secara istiqomah dan dapat memantik ormawa lainnya dalam proses nyata bagi masyarakat. Dengan kegiatan ini juga diharapkan dapat mengubah anggapan-anggapan yang ditujukan kepada HMPS AFI yang seringkali dianggap kerjanya cuma diskusi-diskusi saja.Akhir dari kegiatan ini ialah bertepatan dengan dikumandangkannya adzan Magrib yang ditutup dengan shalat magrib berjamaah antara pengurus HMPS AFI, anak-anak dan jamaah warga desa setempat.[hmps22]

Komunitas Dianoia: Diskusi Peran Perempuan dalam Padangan Islam

Sukoharjo (4/03) — HMPS AFI bersama Komunitas Dianoia kembali menggelar kegiatan diskusi. Edisi kali ini adalah menyoal perempuan, dengan tema diskusi “Membaca Ulang: Peran Perempuan dalam Islam”. Seperti biasa, diskusi dilaksanakan di Jona Coffee pada pukul 15.00 WIB, sebagai ruang guna menambah dan memperkaya wawasan intelektual mahasiswa.

Sebagai pembicara, Nada Firdaus, mahasiswa AFI 2019, memaparkan cukup apik bagaimana peran perempuan dalam pandangan Islam. Ia membagi peran penting perempuan dalam empat hal, yakni sebagai anak, istri, ibu dan juga anggota masyarakat. Meski demikian, perempuan tidaklah identik dengan kerja-kerja yang sifatnya identik. Perempuan pada dasarnya juga punya hak dan kebebasan untuk berkarir di luar, sebagaimana perwujudan hak dari manusia seutuhnya.Apa yang menjadi tujuan dari gerakan yang dilakukan oleh perempuan, tujuan pentingnya adalah soal keadilan bersama. Perempuan harus memiliki ruang dan kemerdekaan yang sama tanpa terhambat oleh budaya-budaya patriarki, konstruksi masyarakat. Pada masalah inilah yang oleh para perempuan hendak coba diubah.Perempuan bukanlah sosok yang lemah, bukan budak yang harus tunduk penuh atas laki-laki—dalam arti didominasi. Sehingga ia tidak memiliki kebebasan.

Dalam khazanah Islam, tidak ada pembedaan yang melebihkan antara laki-laki dan perempuan. Islam memandang seluruh makhluk—dalam hal ini manusia—sebagai entitas yang sama, yang membedakan hanyalah kadar ketaqwaannya. “Pun, istilah khalifah yang ada dalam Islam, juga tidak dirujukan pada laki-laki ataupun perempuan, tetapi pada manusia.” ujar Nada Firdaus.

Diskusi Jum’at itu berjalan cukup interaktif. Ditambah datangnya mahasiswa dari UNISRI menambah seru dinamika jalannya diskusi. Kekayaan sudut pandang terkait perempuan menjadi lebih lengkap. Pada akhirnya, dalam kesimpulan diskusi yang berlangsung, mengatakan bahwa belajar tentang emansipasi wanita, atau gerakan feminisme, tujuan pentingnya adalah soal kemanusiaan. Yakni, soal bagaimana manusia harus bisa memanusiakan manusia yang liyan. [Hmps22]

‘Bincang Filsafat’ HMPS AFI 2022: “How the Ancient Greeks thought of Nature?”

Sukoharjo (25/02) — HMPS AFI mengadakan diskusi mingguan ‘Bincang Filsafat’, yang  pada edisi kali ini mengusung tema “How the Ancient Greeks thought of Nature?” sebagai lanjutan dari ‘Bincang Filsafat’ edisi pertama HMPS AFI periode 2022. Di mana dalam diskusi ini bermaksud menilik sekaligus mencoba memahami kembali pikiran-pikiran para filsuf Yunani Kuno yang dalam orientasi pemikirannya berpusat pada alam (Phylosophy of Nature). Diskusi yang bertempat di Jona Coffee tersebut dipantik oleh Ahmad Miftahudin Thohari, Mahasiswa AFI 2019.

Belajar tentang pemikiran filsafat tentunya tidak bisa melupakan begitu saja warisan pemikiran-pemikiran yang ditinggalkan oleh para filsuf di era Yunani Kuno. Sebab bagaimanapun juga, perjalanan pemikiran filsafat yang berkembang pada masa modern hingga sekarang ini tentu adalah lanjutan dari paradigma berpikir warisan filsafat Yunani Kuno. Pikiran-pikiran para filsuf Yunani Kuno bisa dibilang adalah sebagai pondasi dasar dari berkembangnya rancang bangun pemikiran filsafat di kemudian hari. Dan, demi menjaga tradisi Filsafat Barat, menilik kembali corak pemikiran para filsuf Yunani Kuno adalah sesuatu yang penting untuk dilakukan.

Hujan deras yang mengguyur daerah Pucangan nyatanya tidak lantas menghambat antusiasme mahasiswa untuk hadir guna belajar filsafat—khususnya belajar kembali tentang Yunani Kuno. Diskusi dimulai dari membuka dan membaca kembali pemikiran Thales, Anaximandros, Anaximenes, Heraklitos hingga model pemikiran dari seorang Phytagoras, dan tak ketinggalan pula para filsuf mahzab ‘eleatic school’, yakni Permenides, Zeno, termasuk juga Xenophanes.

Diskusi berlangsung kondusif. Forum dengan seksama mencoba memahami: apa itu arche (baca: ‘prinsip tunggal’) sebagai asal mula pembentukan alam dari buah pikiran para filsuf Yunani Kuno, berikut dengan segala argumentasinya. Apakah air atau api atau udara atau sesuatu yang tak terhingga dan tak terdefinisi yang menjadi asal mula alam dibentuk? Perbincangan demikian itulah yang di kemudian hari menjadi basis ontologis terkait pembahasan tentang hakikat alam.

Di akhir diskusi, tak lupa pula pemantik berpesan di dalam forum supaya tetap terus menjaga tradisi berfilsafat, untuk tetap terus belajar ilmu dan senantiasa berpikir kritis. Karena pada dasarnya, “berfilsafat adalah berpikir, dan hidup yang berpikir adalah pangkal kebahagiaan.” [hmps2022]