AFI

Category Archive : HMPS

HMPS AFI Sukses Gelar Kenduri Buku & Wayang on the Road

Selasa, (1/6/21) — Bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila, HMPS AFI punya hajatan bertajuk “Kenduri Buku dan Wayang On The Road, bersama Ki Ompong Sudarsono” yang diselenggarakan di depan Burjo Badalah, di IAIN Surakarta yang sekarang sudah resmi beralih status menjadi UIN Raden Mas Said, nama asli Pangeran Sambernyowo.

Acara dimulai bakda Isya’ setelah segala properti dan perlengapan-perlengakapan yang diperlukan selesai dipersiapkan. Dibantu oleh komunitas Dianoia acara berhasil dimulai sekitar pukuk 20.00 WIB. pegalar

Meskipun acara ini milik HMPS AFI yang bekerja sama dengan komunitas Dianoia, tetapi para pengujung yang hadir tidak hanya dari kalangan HMPS AFI maupun dari komunitas Dionia melainkan ada pula pengunjung umum yang berkenan hadir mengikuti jalannya pagelaran wayang dari Ki Ompong Sudarsono.

Dalam pertujukannya, Ki Ompong membawakan sebuah dialog unik dan jenaka tetapi sangat edukatif tentang Pak Lurah dengan para pejabat lain dan rakyat yang ia sambungkan dengan esensi nilai-nilai yang ada dalam Pancasila. Acara berlangsung interaktif dan santai. Para pengunjung tak hanya pasif mendengarkan, tetapi juga diberikan kesempatan untuk berbicara, menyampaikan uneg-uneg-nya tentang Pancasila.

Wayang sebagai budaya luhur bangsa, menurut Ki Dalang Ompong merupakan jati diri bangsa. Oleh karenanya, menurutnya kita sebagai bangsa tak usah malu dengan budaya-budaya kita dan tetap harus percaya diri untuk melestarikannya. Pun kata Munawar Holil selaku ketua HMPS AFI, “Saya orang Jawa dan juga berada di Jawa sangat perlu untuk melestarikan budaya Jawa. Saya sangat mendukung pelestarian budaya, termasuk wayang.” Maka, ia berinisiatif membikin acara hajatan ini.

Dari beberapa pengunjung memberikan sebuah kesan terkait pagelaran wayang semalam, “saya sangat senang atas terselenggaranya acara seperti ini, sebab dengan terselenggaranya pagelaran wayang on the road ialah sebagai ajang melestarikan budaya. Ditambah lagi, dengan isi pewayangan yang berisi nilai-nilai Pancasila.” Kata Satrio Dwi Haryono, penggiat Dianoia.

Dalam tanggapan lain, “Ini merupakan acara yang patut dirawat dan dilestarikan, apalagi di tengah arus modernisasi yang semakin hendak menghilangkan unsur-unsur budaya masyarakat kita sebagai orang Jawa. Acara seperti ini seperti kita sedang melawan arus zaman, tatkala anak-anak milenial yang semakin pragmatis dengan budaya gaming-nya. Kita justru tetap bertahan merawat idealisme luhur kita untuk tetap eksis dengan budaya wayang seperti ini, ditambah lagi dengan kenduri buku semacam ini juga.” Kata Ahmad. [Red/HS]

Koordinasi dan Silaturahmi HMPS AFI dengan Kaprodi dan Sekprodi AFI

Jum’at, 19 Maret – Himpunan Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (HMPS AFI) menyelenggarakan forum Silaturahim dan koordinasi dengan pihak Program Studi yang dihadiri oleh kepala Program Studi (KAPRODI) AFI dan Sekretaris Program Studi (SEKPRODI) AFI, dan dari HMPS AFI di wakili oleh Ketua, Sekretaris-1, dan Bendahara-1 HMPS AFI. Kegiatan ini di selenggarakan pada Jum’at, 19 Maret 2021 yang bertempat di Ruang 204, gedung Fakultas Ushulludin dan Dakwah.


Kegiatan ini di mulai jam 10.45, Forum Silaturahim dan Koordinasi bersama Kaprodi dan Sekprodi, bertujuan meningkatkan kerjasama HMPS AFI dengan program studi agar kegiatan HMPS AFI sesuai dengan visi dan misi Program Studi AFI, Dra. Hj. Siti Nurlaili Muhadiyatiningsi, M. Hum, berpesan agar semua yang menjadi pengurus HMPS AFI tetap amanah dalam menjalankan tugas, bekerja sama dengan pihak fakultas, dan mengikuti tata aturan dari pihak Akademik. Beliau juga berpesan, “untuk menjadikan jabatan di HMPS AFI sebagai tempat pelatihan (kawah candradimuka) dalam bermasyarakat di kemudian hari”.


Silaturahmi dan koordinasi dengan dengan pihak program Studi (Prodi) juga memabahas mengenai program-progam HMPS AFI yang hendak bekerja sama dengan Prodi AFI dan juga beberapa jaringan kerjsama dari pihak Program Studi AFI dengan Rumah Budaya Kratonan, dan beberapa alumi alumni AFI. Dalam pertemuan ini, Kaprodi sekali lagi berbepesan kepada pengurus HMPS AFI untuk tidak mundur sampai masa kepengurusan selesai, “syukur-syukur kuliah kalian tidak keteteran” begitu ungkap Kaprodi AFI. Alfina Hidayah M. Phil, selaku Sekretaris Prodi juga berpesan kepada HMPS AFI, “untuk mengeluarkan pers release dalam setiap kegiatan AFI, selain itu setiap kegiatan HMPS AFI harus ada outpunya berupa tulisan dari hasil kegiatan yang diselenggarakan”. Kaprodi AFI sekali lagi berpesan kepada seluruh mahasiswa AFI sebenarnya dari pihak Prodi juga menunggu prestasi prestasi mahasiswa mhasiswa AFI untuk mendukung Akreditasi Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam. [AW]

Pesan dan Harapan untuk Prodi AFI dalam Acara Pelantikan ORMAWA-FUD IAIN Surakarta

HMPS AFI — Seluruh ORMAWA Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta telah resmi dilantik pada hari Senin (15/03) di gedung Aula FAB. Acara pelantikan tersebut dihadiri oleh seluruh perwakilan dari masing-masing ORMAWA terkait. Diantaranya ada SEMA-FUD, DEMA-FUD serta HMPS AFI, HMPS IAT, HMPS PI, HMPS TP (Ushuluddin), HMPS KPI, HMPS BKI dan HMPS MD (Dakwah).
Dalam acara pelantikan ini, juga dihadiri oleh seluruh jajaran Dekanat Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, yakni Dekan serta Wakil Dekan I, II, dan III. Acara pelantikan dimulai pada pukul 09.00 WIB, di mana sambutan diisi langsung oleh Dr. Islah, M.Ag selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Menginjak acara inti, pelantikan dimulai urut dari SEMA-FUD dan DEMA-FUD, kemudian dilanjutkan HMPS-AFI, HMPS-IAT, HMPS-PI, HMPS-TP (Ushuluddin). Serta diakhiri HMPS-KPI, HMPS-BKI, dan HMPS-MD (Dakwah).
Kemudian, dalam isi sambutan Dr. Islah, M.Ag Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, beliau berpesan kepada seluruh ORMAWA yang telah resmi dilantik agar lebih sungguh-sungguh lagi fokus mengabdi ke Program Studi (Prodi) dan diharapkan untuk bisa saling menjalin hubungan antar ORMAWA, terkhusus antar masing-masing HMPS yang ada di dalam kampus maupun luar kampus.
Pada kesempatan ini, beliau juga menegaskan mengenai sains vision IAIN Surakarta, yakni mengintegrasikan Islam dengan Kearifan Lokal agar lebih digeluti secara intens sebagai visi utama keilmuan kampus—sebagaimana yang tercatat dalam visi IAIN Surakarta, menjadi World Class Islamic University di level Asia dalam kajian sains yang terintegrasi dengan kearifan lokal pada 2035.
Dan, untuk Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) sebagai prodi yang banyak melakukan kajian-kajian keilmuan, Dr. Islah, M.Ag juga berpesan—khususnya kepada Prodi AFI—supaya bisa lebih mengkaji lagi mengenai Islam dan Budaya Jawa. Yang memang dalam visinya, Prodi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) juga ingin unggul dalam studi ilmu aqidah dan filsafat, sosial dan budaya berbasis nilai-nilai kearifan lokal dan keindonesian pada tahun 2024. [AMT]

Pelatihan Epistemologi, Sebuah Pengantar Ontologi

HMPS AFI IAIN Surakarta

Jumat, 25 September 2020, HMPS AFI IAIN Surakarta memberlangsungkan salah satu agendanya “Pelatihan Epistemologi” dengan tema “Ontologi: Sebuah Pengantar”. Ontologi adalah salah satu dari tiga pembahasan besar yang ada dalam filsafat. Sebuah bahasan awal mengenai hakikat keberadaan atas sesuatu—utamanya mengenai keberadaan alam semesta. Selain itu, ontologi merupakan hal pokok yang mau tidak mau harus diketahui oleh kaum akademisi secara umum, dan khususnya mahasiswa filsafat guna mengetahui lebih dalam lagi mengenai apa itu ilmu dan pengetahuan.
Dengan pemateri atau narasumber M. Agus Wahyudi M. Ag., M. Psi., yang dimoderatori oleh salah satu mahasiswa AFI IAIN Surakarta, Abdul Wahid, diskusi dimulai pada jam 16.00 WIB. Agenda yang sebenarnya sudah direncanakan sejak lama dan hendak diadakan secara offline atau tatap muka harus gagal terlaksana lantaran adanya pandemi Covid-19. Maka, sebagai gantinya diadakanlah agenda tersebut melalui via online (daring). Dipilihlah google meet sebagai medan untuk tempat berlangsungnya seminar “Pelatihan Epistemologi”.
Mayoritas diikuti oleh mahasiswa prodi AFI di IAIN Surakarta, meskipun tidak menutup kemungkinan ada pula mahasiswa lintas prodi yang ikut join, seperti pada kesempatan ini ada satu mahasiswa Sejarah Peradaban Islam yang juga ikut gabung mengikuti jalannya diskusi.
Acara utama dibuka oleh moderator dan langsung disambung lanjutkan ke pembahasan inti oleh pemateri. Tak menunggu lama, pemateri membuka bahasan dengan mengatakan bahwasannya ontologi adalah suatu landasan awal yang harus diketahui dan dipahami, di mana di dalam ontologi pembahasan pokoknya ialah tentang hakikat suatu keberadaan atau bahasan mengenai sesuatu yang ada.
Kalau hendak diambil shortcut pemahaman mengenai bahasan maksud apa itu ontologi. Maka, pembahasan yang terdapat di dalamnya tidak jauh adalah hendak menguak pertanyaan “tentang apa”. Idiom “tentang apa” merupakan pertanyaan yang diajukan sebagai pijakan awal sekaligus yang pertama kali benar-benar harus dikuak agar nantinya dapat masuk lebih mudah ke tahap pemahaman berikutnya. Yakni mengenai bangunan apa itu epistemologi dan apa itu yang dinamakan aksiologi.
Being atau “ada” sangat identik dengan ontologi. Sebab memang sesuatu yang ada atau keberadaan itulah yang menjadi pokok bahasan dalam ontologi. Namun demikian, di dalam ontologi mengenai ada atau keberadaan itu sendiri tidaklah hanya mengacu hanya pada sesuatu ada yang tampak atau yang kasat mata saja. Akan tetapi, ada sesuatu lain yang disebut dengan “yang ada”. Di mana “yang ada” ini posisinya mendahului daripada “ada” itu sendiri. Kalau dimisalkan, “yang ada” ini merupakan ide yang mendasari dari “ada”-nya sesuatu. Seperti ide dari kursi merupakan awal adanya bentukkan kursi.
Dalam gagasan Aristoteles yang disebut dengan ide awal biasanya dinamai dengan matter, sedangkan bentukan atau hasil dari perwujudan ide awal tersebut dinamai dengan form. Keduanya tidak bisa saling terlepas, bahkan kedua hal itulah yang membangun unsur dari sesuatu yang bersifat ontologis.
Lebih jauh lagi, dijelaskan pula bahwa suatu keberadaan tidaklah melulu tentang “suatu ada” yang hanya dapat dilihat oleh indera manusia. “Suatu ada” yang tersimpan dalam pikiran juga merupakan bagian dari “suatu ada”. Atau ada “suatu ada” yang lain yang sifatnya tak kasat. Maka dari sini, dapat dipahami bahwa ontologi bukan hanya mengacu pada sesuatu yang tampak saja, melainkan bisa juga mengacu pada hal yang sifatnya metafisika (yang tak terlihat oleh indera). Sehingga ketika hendak menguak hakikat keberadaan dari sesuatu tidak bisa kiranya kalau hanya berhenti pada hal yang tampak saja. Dengan begitu haruslah dilihat pula dimensi-dimensi lain yang tersembunyi dibalik hal yang tampak. Sebab sesuatu yang tak terlihat oleh indera bukan berarti sesuatu itu tidak ada.
Pemateri juga memberikan pemilahan pemahaman dari suatu ada atau tentang keberadaan menjadi dua pembagian. Bahwa dalam keberadaan itu sendiri ada sesuatu hal yang dinamakan “kenyataan” dan “penampakan”. Untuk yang dinamakan “kenyataan” adalah sesuatu hal yang erat kaitannya dengan fakta empiris yang benar-benar dialami langsung oleh pihak subjek, sehingga itu akan cenderung lebih konkret. Sedangkan untuk yang dinamakan “penampakan”, pemateri memilah lagi menjadi dua jenis pemahaman yakni, “ketampakan” dan “kenampakan”. Untuk yang “ketampakan” ini sifatnya lebih objektif sehingga tidak banyak terdapat perbedaan makna. Akan tetapi, untuk yang “kenampakan” sifatnya cenderung lebih subjektif. Artinya, maknanya bisa beragam sesuai subjek yang melihat dan memaknainya.
Di akhir materi inti yang disampaikan oleh pemateri. Bahwa mengenai ontologi atau tentang hakikat keberadaan sesuatu di dalamnya pasti memiliki nilai esensi dan subtansinya masing-masing. Esensi sendiri merupakan nilai hakikat keberadaan yang sifatnya cenderung tak terlihat oleh indera, sifatnya lebih general dan luas. Sedangkan subtansi adalah nilai hakikat yang mensifati atau sifat nilai yang terdapat dalam esensi tersebut. Lebih mengerucut kepada satu entitas.
Kemudian, setelah bahasan inti sudah selesai disampaikan. Moderator membuka sesi tanya jawab bagi para peserta “Pelatihan Epistemologi” yang ingin memberikan pertanyaan, tanggapan maupun sanggahan. Terdapat dua pertanyaan yang diajukan kepada pemateri, di mana dua pernyataan tersebut membuat pemahaman mengenai apa itu ontologi semakin mendalam dan mendasar.
Dua pertanyaan itu yang pertama adalah tentang makna matter dan form gagasan dari Aristoteles, yang oleh pemateri dijawab dengan gamblang dan mendalam pula. Bahkan disebutkan oleh pemateri, jika manusia membutuhkan adanya ide awal sebagai sebab lahirnya sesuatu yang berbentuk dan ada. Seperti ketika manusia hendak membuat meja, harus dibutuhkan ide awal yang ada dalam pikiran tentang seperti apa nantinya bentukkan meja itu dibuat. Tetapi, bagi Tuhan sama sekali tidaklah dibutuhkan ide untuk membuat atau menciptakan atau meng-“ada”-kan sesuatu. Maka, bisa dikatakan “Kun”-Nya Tuhan sama sekali terbebas dari konsep atau ide awal atas terciptanya sesuatu. Tuhan Maha Sempurna dalam hal ini, sehingga Ia tak memerlukan konsep dan ide.
Sedang pertanyaan yang kedua adalah tentang hakikat dari ontologi sendiri itu sebenarnya apa. Yang kemudian dijawab oleh pemateri bahwa ontologi itu sendiri adalah juga bermakna hakikat di mana di dalamnya memuat nilai esensi dan subtansi. Kedua istilah tersebut adalah prinsip dasar nilai utama dari apa yang disebut dengan hakikat.
Di akhir jawaban, sebelum acara disimpulkan oleh moderator dan ditutup. Ada closing dari pemateri yang benar-benar harus digarisbawahi dan harus diletakkan dalam kesadaran utama manusia sebagai makhluk yang berakal dan yang memiliki gelar ahsani taqwim. Yakni, bahwasannya hakikat utama hidup manusia atau manusia itu sendiri diciptakan tidak lain adalah untuk beribadah, menyembah, atau mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Maka, hal lain selain hal tersebut sama sekali bukanlah suatu yang bisa dikatakan hakikat hidupnya manusia atau hakikat dari manusia itu sendiri. []

DISKUSI ONLINE – Trilogi Filsafat (Ontologi, Epistemologi, Aksiologi) bersama Agus Effendi (Presiden LIMFISA 2019-2021) dan M. Afif Al Ayubi (Presiden LIMFISA 2017-2019).

Minggu (26/7) Presiden LIMFISA sebagai pemantik diskusi online HMPS AFI IAIN Surakarta yang bertema Trilogi Filsafat (Ontologi, Epistemologi, Aksiologi).

Pada mulanya, pemantik diskusi ada 2 narasumber yakni Presiden Limfisa (2017-2019) dan presiden limfisa (2019-2021). Dikarenakan suatu hal, presiden limfisa (2019-2021) tidak dapat menghadiri diskusi online, semula 2 narasumber menjadi 1 narasumber. Materi pertama yakni Ontologi, pemantik tidak hanya menjelaskan secara definitif mengenai ontologi, ada pula membuat ilustrasi tentang penelitian penyakit di 2 tempat yang berbeda yang diamati dengan indera dan di uji secara eksperimen. Ilustrasi tersebut sudah menyentuh pembahasan epistemologi yaitu indera dan eksperimen. Pemantik juga menjelaskan beberapa isme-isme yang berkaitan dengan epistemologi yakni rasionalisme, empirisme, dan positivisme. Lalu aksiologi, dalam penjelasanya diungkapkan bahwa aksiologi terbagi menjadi 2 yakni etika dan estetika. Etika berkaitan dengan tindakan manusia, sedangkan estetika berkaitan dengan ihwal keindahan.

Pemantik dalam closing statementya bertutur bahwa ketiga pembahasan tadi (ontologi, epistemologi, aksiologi) dapat digunakan sebagai sudut pandang seseorang untuk mengungkap realitas. [Ais/red]

DISKUSI ONLINE – Ngaji Kartono dan Kartini Di Tengah Pandemi bersama M. Agus Wahyudi, S.Ag., M.Psi. dan Isfaroh, S.Ag., M.Ag.

Rabu (22/4) Untuk memperingati Hari Kartini, HMPS Aqidah dan Filsafat Islam mengadakan diskusi Online dengan tema “Ngaji Kartono dan Kartini di tengah Pandemi”. Yang disampaikan oleh Sdr. M. Agus Wahyudi S.Ag., M.Psi. dan Sdri Isfaroh, S.Ag., M.Ag. dan dimoderatori oleh Munawar Holil (Mahasiswa AFI) Dalam diskusi ini, pemateri pertama yaitu M. Agus Wahyudi, S.Ag., M.Psi. Menyampaikan mengenai tokoh R.M.P. Sosrokartono mulai dari biografi tokoh hingga tujuan dan falsafah hidup tokoh. Salah satu falsafah R.M.P. Sosrokartono yaitu Ilmu dan Laku. Menurut beliau, ilmu dan laku itu harus berjalan beriringan. Tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, karena jika berjalan sendiri-sendiri maka hasilnya tidak akan maksimal. Ilmu yang dicari bukan ilmu keduniawian (kekayaan, harta, pangkat, jabatan) saja. Akan tetapi ilmu kebatinan, spiritual.

Jadi, berdasarkan yang disampaikan pemateri dapat disimpulkan bahwa inti dari ajaran Sosrokartono adalah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan salah satunya dengan rasa kepedulian.

Sebagaimana Sosrokartono “eling tanpho nyanding” meskipun jarak memisahkan kita, namun kita harus tetap ingat pada sesama (termasuk keluarga, teman dan orang-orang sekitar). Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, bagaimana untuk kondisi pandemi saat ini, mari kita peduli terhadap sesama salah satunya dengan cara menjaga jarak sebagai bentuk usaha memutus laju penyebaran virus.

Kemudian materi yang kedua disampaikan oleh Isfaroh, S.Ag., M.Ag. Membahas mengenai sosok Kartini mulai dari biografi hingga mengapa Kartini yang menjadi tonggak emansipasi wanita. Untuk menjawab itu, kita harus menilik sejarah. Kenapa Kartini? Pertama, karena Kartini mempunyai modal sosial, sehingga dia dikenal di mancanegara, khususnya di Belanda. Kedua, karena berkaitan dg pilotis, Soekarno yg mengharumkan namanya dg dinobatkannya tgl 21 April sebagai peringatannya, karena Kartini yg kelasnya internasional mempengaruhi revolusioner.

Kedua tokoh yang telah disampaikan pemateri tersebut, memiliki keterkaitan erat.Keterkaitan antara keduanya yaitu Sosrokartono menyuplai buku” bacaaan, majalah, surat kabar dari Belanda untuk Kartini, karena Sosrokartono mengenyam pendidikan di Belanda, sedangkan Kartini waktu itu dipingit. Jadi dibalik gagasan-gagasan Kartini ada Sosrokarto yg menyalurkan literatur-literatur untuk bahan menulis surat ke teman-temannya dari Belanda dan tulisan yg dikirimkan ke media. Selain itu, keduanya sangat antusias dengan kondisi sosial, karena masa hidupnya di masa budaya patriarkal, foedalisme dan kolonialisme,  sehingga gagasan-gagasannya berkaitan dg kemanusiaan, cara memanusiakan manusia.

Pemikiran Kartini berdasarkan budaya patriarkal, kekuasaan tertinggi di dalam keluarga adalah laki”. Kalau dalam bahasanya Simon de Beauvoir  perempuan dinomerduakan, nasib perempuan ditentukan oleh laki”, sehingga perempuan tidak mempunyai ruang utuk mengeksistensikan dirinya.

Untuk itu, dengan adanya diskusi online-ngaji Kartono dan Kartini ini diharapkan kita dapat memahami dan mempertahankan/memperjuangkan apa yang telah kedua tokoh berikan pada kaum wanita maupun laki-laki. [Ais/red]

DISKUSI ONLINE – SERI BEDAH BUKU bersama Narasumber Sdr. Raha Bistara, S.Ag, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam 14-IAIN Surakarta dengan judul buku : Menggurat yang Silam Menyurat yang Menjelang

Selasa (21/4) HMPS Aqidah dan Filsafat Islam mengadakan Diskusi Online dengan Tema Bedah Buku yang berjudul “Menggurat yang Silam Menyurat yang Menjelang” yang disampaikan oleh Sdr. Raha Bistara, S.Ag. Sebagai penulis buku dan beliau juga merupakan Alumni AFI. Dan di moderatori oleh Sutrasno (Mahasiswa AFI). Dalam diskusi online ini, narasumber menceritakan bagaimana awal mula Ia menulis buku tersebut. Mulai dari dorongan teman-temannya hingga mengumpulkan esai-esai yang tercecer di media online maupun di media cetak yang berisi pemikiran-pemikiran keislaman. Buku yang berjudul Menggurat yang Silam Menyurat yang Menjelang ini maksudnya penulis ingin menyampaikan atau memunculkan kembali pemikiran-pemikiran tokoh Filosof Muslim dahulu untuk menyurat yang menjelang (generasi sekarang). Akan tetapi, dalam buku ini penulis tidak memunculkan semua tokoh filosof muslim (hanya sebagian saja).

Dari buku yang ditulis narasumber ini ada hikmah yang bisa diambil dari setiap gagasan yang dicanangkan oleh setiap pemikir muslim dari al-Kindi sampai Gussoem. Kita bisa belajar dari mereka bagaimana susahnya menjadi orang yang bisa mencetuskan teori tertentu. Untuk itu mari kita membaca, menelaah, mengkaji dan kemudian dituliskan apa yang kita pikirkan dari proses menelaah itu tadi. Menulis menjadi suatu kewajiban bagi kita karena filsafat bukan hanya berkutat masalah teori semata tapi, bagaimana kita mengaplikasikannya. Seperti kata-kata Karl Raimun Popper segala jenis ilmu pengetahuan harus difalsifikasi. Dan seperti kata-kata Foucalt semuanya itu harus ada panoptikon-panotipkon agar kita bertanggung jawab apa yang kita pikirkan. [Ais/red]

Pelatihan Epistemologi bertajuk “Merawat Kebhinekaan, Menjaga Kebudayaan dan Memahami Transformasi Radikalisme” bersama M. Afif Al Ayubi

Rabu (11/3) HMPS Aqidah dan Filsafat Islam mengadakan pelatihan Epistemologi bertajuk “Merawat Kebhinekaan, Menjaga Kebudayaan dan Memahami Transformasi Radikalisme” yang dipantik oleh M. Afif Al Ayubi selaku mantan presiden LIMFISA (Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia). Acara ini diselenggarakan di Gedung LAB 303 pukul 15.00. Acara ini dimulai dengan sambutan dari Franshobil Enggal Pratama selaku Ketua HMPS AFI dan dilanjutkan sambutan dari Ketua Panitia yakni Sdr Yusuf Nur Rochman. Acara ini dihadiri oleh perwakilan setiap kelas 2 mahasiswa.

Pemateri memaparkan bahwasannya ada yang lebih berbahaya dari radikalisme, yakni masalah pendidikan. Masalah itu dapat dilihat bahwasannya mahasiswa banyak yang minim literasi bahkan bahkan dalam kelas perkuliahan tidak sedikit ditemui mahasiswa yang membuat makalah hanya tinggal copy paste.

Pemateri juga menyinggung bahwasannya kebudayaan juga memiliki masalah yang biasa disebut Budaya Massa, yaitu dimana produk diciptakan semata-mata untuk pasar. Sehingga itu berimbas kepada lunturnya budaya tradisional.

Setelah pemaparan materi dilanjut diskusi lalu setelah acara selesai ditutup dengan foto bersama. [Ais/red]

Upgrading dan Musker HMPS Aqidah dan Filsafat Islam dengan tema “Eksistensi Filsafat Abad 21”

(1-2/2) semua pengurus HMPS Aqidah Dan FIlsafat Islam melakukan kegiatan Upgrading dan Musker yang bertempat di kampus 2 Pascasarjana Pakis, Klaten. Upgrading adalah sebuah program kerja atau kegiatan untuk meningkatkan kemapuan dan kualitas dalam tim. Sedangkan musker adalah Proker-proker yang diajukan setiap devisi. Dan dalam HMPS AFI terdapat beberapa bidang yang ada seperti, keorganisasian, keilmuan, sosial budaya, dan media punlikasi. Dalam acara tersebut awalnya di bukak oleh sodara sutrasno selaku pembawa acara. Setelah itu dilanjut sambutan dari ketua HMPS AFI yaitu Franshobil Enggal Pratama. Setelah itu masuk dalam inti pembahasan dan itu di isi oleh demisioner HMPS AFI yaitu Afif Al Ayyubi. Dan ada beberapa demisioner yang turut hadir dalam acara tersebut seperti, Fitri Cahyanto, Lukman, Sigit Prasetyo, Salsabilla, Saiful, dan Langgeng. Dalam acara Upgrading tersebut Afif Al Ayyubi menceritakan sedikit sejarah tentang organisasi HMPS AFI, menceritakan bahwa kalau mau masuk HMPS AFI jangan sekedar ingin mendompleng nama tapi juga ada pergerkan yang di lakukan untuk menumbuhkan nama HMPS AFI, dalam organisasi juga jangan ikut-ikut temen, dan dalam berorganisasi juga harus ada kekompakan anatra satu dengan yang lainnya supaya program-program yang dilajukan bisa terlaksana dengan lancar. Setelah itu acara dilanjut dengan pengenalan devisi-devisi dan program-program apa saja yang pernah dilakukan oleh HMPS AFI pada priode sebelumnya.

Pada malam harinya kemudian dilanjut dengan acara musker dengan mengenalkan program unggulang yang akan di adakan setiap devisinya. Dan pada acara tersebut. [Ais/red]

Diskusi Online; Humanisme di Tengah Pandemi Global

Sahabat AFI dimanapun berada, daftar segera dan ikuti Diskusi Online yang akan diselenggarakan oleh HMPS AFI pada hari Rabu 20 Mei 2020 mendatang.. Semoga lancar dan selalu menebar manfaat.

*ketentuan silahkan baca keterangan dalam foto diatas.