AFI

Author: adminafi

Penandatanganan MoA Prodi AFI dan Balitbang Agama Semarang

Semarang, 17/9/21 – Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta yang diwakili oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Dr. Islah, M.Ag. telah menandatangani kerjasama kesepakatan dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang yang ditandatangani oleh Kepala Balitbang Agama Semarang Dr. Samidi, S.Ag. M.S.I. pada hari Jum’at 17 September 2021.

Kegiatan yang berlangsung di aula Balitbang agama semarang tersebut dihadiri oleh Kaprodi dan Sekprodi Aqidah dan Filsafat Islam serta mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan yang ditempatkan disana dan beberapa peneliti. Kerjasama antara kedua pihak tersebut bukan pertama kalinya dilakukan, khususnya dalam pelaksanaan PPL mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Raden Mas Said Surakarta di Balitbang Agama Semarang dengan tujuan agar mahasiswa dapat belajar dan memahami tugas dan fungsi seorang peneliti sebagaimana salah satu profil lulusannya yaitu menjadi peneliti bidang akidah dan pemikiran Islam.

Pasal kerjasama yang disepakati adalah pembinaan mahasiswa dalam penulisan artikel jurnal terakreditasi, yakni bagi mahasiswa PPL yang bertempat di Balitbang Agama Semarang. adapun kajian diarahkan pada penelitian naskah keagamaan klasik dan kontemporer khususnya berkaitan dengan kajian nusantara dan filsafat Islam jawa. []

Dialektika Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Oleh: Ibnu Nurrohim

Sumber foto: https://www.google.com/amp/s/theconversation.com/amp/pentingnya-data-iptek-di-indonesia-bagaimana-meningkatkan-kualitas-dan-kebaruannya-104000

Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia tidak bisa terlepas akan peran suatu ilmu. Bahkan, praktik pola hidup manusia dari waktu ke waktu berjalan seirama dengan perkembangan ilmu itu sendiri. Manusia dan ilmu pengetahuan akhirnya menjadi dua entitas yang tak bisa saling dipisahkan. Selain itu, kemajuan dan perkembangan ilmu juga akan mengakibatkan manusia haus dengan ilmu, karena perkembangan akan selalu memberikan gairah baru bagi umat manusia. Semakin manusia mengerti, maka semakin pula ia mendalami.

Seiring berjalannya waktu, hegemoni ilmu dan pengetahuan telah sukses menghasilkan kemajuan signifikan di bidang teknologi. Adanya teknologi membuat manusia di era modern saat ini tentu akan sangat terbantu aktivitasnya. Kemajuan ilmu dan teknologi dari masa ke masa yang saling ‘kait-mengait’ ini, ibarat mata rantai yang tak terputus satu sama lain. Satu hal dengan hal lainnya dalam proses pemajuannya saling berhubungan. Kemajuan ilmu dan semakin canggihnya teknologi akan senantiasa bersinggungan.

Fakta di era pandemi sekarang ini, tak bisa dipungkiri bahwa teknologi benar-benar mengalami puncak eksistensinya, di mana baik dalam lingkup dunia pendidikan, ekonomi, maupun tata kelola pemerintahan, semuanya menggunakan teknologi sebagai medium paling efektif untuk menjalankan aktivitasnya dalam pekerjaan. Termasuk dalam mekanisme dunia pendidikan.

Tetapi di samping positifnya teknologi dengan segala kemudahan yang ditawarkan, juga memiliki dampak negatif bagi manusia. Meski aktivitas manusia terbantu, tetapi sadarkah kita bahwa teknologi juga memiliki efek candu bagi para pengguna. Candu di sini dalam artian bahwa manusia ketika ia sekali saja telah menggunakan teknologi tersebut, maka ia akan selalu mengkonsumsinya setiap hari, seperti halnya obat ketika ia dikonsumsi terus maka ia mempunyai resiko terhadap organ manusia, terutama dalam wilayah syaraf psikologis manusia (dopamin). Tak beda halnya dengan teknologi, sifat teknologi terkhusus handphone dan sejenisnya ia memiliki radiasi yang akan menggerogoti otak manusia.

Tak hanya itu saja, pastilah di setiap kehidupan manusia terutama di era modernisasi semua orang akan menggunakan media sosial dengan adanya itu kerap banyak orang mengalami depresi dikarenakan pengaruh media sosial. Seperti ketika banyak kabar hoaks tersebar di media sosial.

Teknologi Informasi dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan

Pengaruh dan peranan teknologi terhadap individu maupun kelompok telah menimbulkan berbagai perubahan dalam aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun perubahan yang berhubungan dengan media terhadap masyarakat, tetapi dengan adanya teknologi dapat mempermudah penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan secara universal.

Pada tahun 1937 seorang insinyur dari Amerika bernama Howard Aiken, merancang IBM Mark 7 yang merupakan nenek moyang dari komputer mainframe pada masa kini. Komputer tersebut dahulu hanya menggunakan tabung vakum dan elektromekanik dan bukan tombol-tombol elektronis. Komputer pertama yang sukses secara komersial adalah UNIVAC. Komputer yang dirancang oleh Eckert dan Mauchly yang diperkenalkan pada tahun 1951. Kemudian teknologi komputer, termasuk perangkat komunikasi semakin lama semakin berkembang sampai saat ini.

Komputer juga telah mengubah peradaban barat modern secara drastis sejak tahun 80-an. Pada awalnya komputer hanya sebagai “otak elektronis’’ yang mampu melakukan bermacam-macam kegiatan dengan tingkat kesulitan berbeda-beda. Komputer juga telah memasuki wilayah komunikasi interaktif dalam bentuk internet, penggunaan internet ini berawal dari adanya kebutuhan militer pada masa perang dingin sekitar tahun 1969 di mana Departemen Pertahanan Amerika Serikat membutuhkan sebuah jaringan untuk menghubungkan semua komputer untuk mengantisipasi adanya serangan nuklir.

Namun, di saat perkembangan selanjutnya banyak dari universitas bergabung, sehingga dilakukan pengklasifikasian dua bagian yaitu untuk sistem para militer dan non militer, kemudian keduanya digabungkan dan awalnya disebut DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency) internet dan kemudian setelah berkembang akhirnya dikenal sebagai internet saja. Kemudian internet pun dikembangkan hingga saat ini dengan berbagai perlengkapan dan fasilitasnya yang terdapat di dalamnya.

Dengan adanya perkembangan teknologi tersebut ilmu pengetahuan pun mulai menemukan penemuan penemuan baru, terutama dalam dunia sains, berkat bantuan teknologi yang sebenarnya hasil ciptaan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ini menarik, di satu sisi ilmu pengetahuan menciptakan teknologi sedangkan di sisi lain teknologi itulah yang membuat ilmu pengetahuan berkembang pesat.

Jika melihat perkembangan ilmu yang semakin pesat dengan melihat temuan para ilmuwan sains di dalam berbagai bidang salah satu contoh dalam bidang partikel elementer. Di mana pada abad ke-5 sebelum masehi, Democritus, filosof Yunani telah menemukan bahwa semua jenis materi dapat dipecah menjadi partikel yang kecil yang disebut sebagai “atom”. “Atom” adalah sebuah kata dari Yunani yang memiliki arti ‘tidak dapat terbagi’ .

Perkembangan ilmu pun semakin maju dan beberapa percobaan dilakukan kemudian teori teori baru mulai bermunculan untuk menguatkan bahwasanya atom adalah partikel paling kecil, tetapi pada faktanya ditemukan bahwa atom bukanlah partikel paling kecil. Dalam atom masih terdapat sejumlah partikel dasar atau yang lebih kecil yaitu elektron, proton, dan neutron. Bila ingin melihat lebih jauh lagi, maka sekarang ditemukan pula yaitu quark sebagai bagian dari proton dan neutron sehingga saat ini yang disebut sebagai partikel elementer adalah  quark  dan  elektron.

Dengan ditemukannya partikel lebih kecil dari atom tersebut adalah salah satu contoh bagaimana teknologi membantu untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, sebenarnya, teknologi yang membantu berkembangnya ilmu ataukah ilmu pengetahuan yang membantu agar teknologi maju dengan pesat? Atau ada sintesa lain? Mari kita pikirkan bersama-sama. []

Post Truth : (Dis)Informasi Di Masa Pandemi

Oleh: Abdul Wahid

Sumber foto: https://www.suaramerdeka.com/nasional/pr-04386927/lawan-hoaks-di-tengah-pandemi-kominfo-medsos-sumber-disinformasi?page=all

Sekarang menimbang fakta seakan menimbang sesuatu yang nihil. Pun jika mencarinya kita dituntut untuk menyelam ke dasar lautan informasi. Informasi yang dilahap dengan emosi melahirkan kejumudan dan kekerdilan. Informasi menenggalamkan manusia. Siapa pun yang tidak mau belajar berenang akan mati (kehendaknya) olehnya  diarahkan untuk kepentingan – kepentingan terselubung.

Saat ini, informasi datang dan pergi silih berganti, benar dan salah tergantung emosi, fanatisme mengarahkan kebenaran golongan, menyalahkan liyan. Benar dan salah tak mempunyai demarkasi yang jelas. Abu-abu. Hanya emosi golongan dan liyan yang ditonjolkan. Hanya aku dan bukan aku, kita dan mereka.

Fitnah, ujaran kebencian, hoax, kebohongan, hasutan berseliweran di kehidupan kita. Lewat teknologi dan media yang sekarang mudah diakses membuatnya mudah dikonsumsi secara mentah. Kementahan itu yang mengakibatkan racun (informasi) diserap otak membuka pintu emosi (nafsu) dan menggerak tindak.

Kita ingat di tahun 2016 ketika Donald Trump memenangi pemilihan presiden. Ia membuat disinformasi yang masif dan terus menerus diulang. Teknik agitasi ini terbukti ampuh. Di tahun yang sama pula kata Post Truth dalam kamus Oxford menjadi kata yang paling populer.

Kata Post Truth pertama kali dicetuskan oleh Steve Tesich pada tahun 1992. Kemudian Ralph keyes dengan komedian Stephen Colber pada 2002 kurang lebih sama mencetuskan kata truthines yang mengacu pada “sesuatu yang dianggap benar, padahal tidak sama sekali”.

Kamus Oxford mendefinisikan kata Post Truth dengan “kondisi dimana fakta tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini individu atau masyarakat ketimbang emosi dan keyakinan”. Tak pelak hoax yang tak lain merupakan disinformasi menurut Haryatmoko SJ sebagai anak kandung dari Post Truth. (Irwan Julianto, Kompas, 28 Juni 2021).

Tidak salah juga kita menamai jaman yang “banjir” informasi (dan disinformasi) ini dengan jaman Post Truth. Jaman dimana informasi yang salah atau disinformasi yang terus menerus diulang bisa menjadi benar mempengaruhi bawah sadar. Kebenaran pada jaman yang disebut Post Truth ini terlampaui atau bisa disebut pasca-kebenaran sehingga yang ada hanya ngapusi semata.

Disinformasi yang deras mengalir dan dengan mudah didapat melalui tekonologi dan media ini menjadikan kita terombang-ambing. Orang – orang yang terbawa arus akan mudah sentimen dan menambah disinformasi yang lain sehingga menambah kekeruhan.

Disinformasi dan Pandemi

Saat ini dunia sedang dilanda pandemi akibat covid – 19. Informasi mengalir deras. Di Indonesia sendiri masih banyak yang menyangkal virus ini. Akibatnya hingga saat ini klaster penularan di Indonesia terbilang masih cukup banyak. Parahnya banyak disinformasi yang ditelan oleh kita mengakibatkan penanganannya sulit.

Kita dibuat bingung dan panik. Pandemi yang di barengi disinformasi mengakibatkan fakta akan kebenaran kabur, keruh dan terkubur. Kita dibuat jeri, percaya dan tidak percaya akan covid – 19 ini bercampur baur meninggalkan keruetan.

Saat ini disinformasi yang masif meriap dan dengan frekuaensi yang tinggi menyebabkan bahaya pandemi terkalahkan oleh bahaya disinformasi. Selain harus menghadapi ancaman pandemi, kita dihadapkan dengan ancaman kejiwaan kita yang mulai tidak tenang dan kedegilan tersebab disinformasi.

Ketika vaksin sudah ada dan vaksinasi mulai digaungkan, kita masih dibingungkan dengan keamanannya. Jean Couteau dalam Kompas 27 Juni dan 18 Juli 2021 mendedarkan bagaimana pentingnya vaksinasi. Tulisannya yang berjudul “Tangkislah Serangan Covid” dan “Dapatkah Vaksinasi Seperti Dua Ratus Tahun Lalu” ini secara persuasif mengajak kita untuk melakukan vaksinasi.

Pada tulisannya yang pertama, ia secara metafor menggambarkan pentingnya vaksin. Dan di tulisannya yang kedua, ia membandingkan wabah cacar yang terjadi pada dua ratus tahun lalu dengan pandemi yang sekarang. Pada tulisannya yang kedua ini, Jean Couteau membawa keluh akibat masih banyak orang indonesia yang takut vaksin.

Di era pandemi ini, informasi yang kredibel sangat dibutuhkan. Tetapi laiknya mata uang yang memiliki sisi baik dan buruk, informasi yang deras akan membaurkan fakta yang benar dan salah. Oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mudah menyebarkan hoax (disinformasi) secara mudah. Saat ini kita dihadapkan dengan Pandemi dan disinformasi.

Menyaring Informasi Dengan Logika

Saat ini kita mengahdapi lawan pandemi dan disinformasi. Informasi yang semakin deras ini mengakibatkan kita jadi linglung dan bingung. Adanya media elektronik yang semakin masif menjadikan hoax atau kidzib (disinformasi) mudah meriap dan terdisrupsinya informasi yang kredibel.

Dalam Islam pun disinformasi atau kidzib merupakan perbuatan yang nista. Kidzib merupakan lawan dari Siddiq yang merupakan sifat wajib yang dimiliki Rasulullah. Maka dari itu kita sebagai umat islam mengharuskan mempercayai yang haq (benar) secara mutlak.

Ibnu Sina mengatakan bahwa kebenaran hakiki itu harus dibuktikan pada sesuatu wujud (yang ada) melalui kebenaran wahyu dan akal (logika). Maka kita dituntut untuk berhati – hati terhadap informasi yang kita dapat. Tidak secara mentah ditelan.

Dengan logika kita dituntut untuk menyaring informasi yang kita dapat. Berpikir secara jernih dan tidak tergesa-gesa membuat kita lebih bisa untuk membedakan informasi yang benar dan salah.

Peran emosi dalam menanggapi sebuah informasi sebaiknya  tidak dijadikan sebagai titik pijak. Karena disinformasi memainkan emosi sehingga menciptakan ilusi. Ilusi ini akan menghalangi logika bekerja dengan baik. Sehingga kecermatan kita untuk memahami informasi jadi tidak keruan.

Orang – orang yang tidak menggunakan logikanya saat mendapat informasi akan dibawa pada waham dan delusi yang tidak berdasar. Membuat pandemi dan disinformasi semakin ruet tertangani. Tenggalam dalam banjir informasi dan mengambang hanyut terbawa olehnya.

Logika harus menjadi penyelamat kita menghadapi pandemi dan disinformasi ini. Kita harus bisa melampaui Post Truth atau yang menurut Haryatmoko SJ disebut dengan “Post “-Post Truth atau “Pasca” – Pasca kebenaran. Hal ini tidak menjadi utopis belaka jika kita bisa menggunakan logika untuk menyaring (dis)informasi yang kita dapat.

Orang – orang yang mengesampingkan logika dan menggunakan emosi dalam menyikapi informasi akan mudah terhasut dan terpedaya dengan ilusi dan delusi. Sehingga informasi–yang belum tentu benarnya–ditelan mentah dan dipercaya saja. []

Pembekalan PPL AFI 2021 Usung Tema “Peran Profil Lulusan Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam pada Masa Pandemi Covid-19”

Sukoharjo, 6/9/21 – Tepat pada hari Senin, 6 September 2021 Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta usai menyelenggarakan kegiatan Pembekalan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) tahun 2021 secara virtual melalui Zoom Meeting. Acara berlangsung dari pukul 08.30 WIB dan diawali dengan Pidato Pembukaan (Opening Speech) oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Dr. Islah, M.Ag.

Tema yang diusung dalam acara tersebut adalah “Peran Profil Lulusan Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam pada Masa Pandemi Covid-19” dengan tujuan agar mahasiswa peserta PPL dapat mendalami profil lulusan Program Studi yang menjadi keminatan; baik sebagai Peneliti Bidang Ilmu Akidah dan Pemikiran Islam, Pendidikan Ilmu Aqidah Akhlak, Penyuluh/Konsultas Agama Islam, maupun Penggerak Sosial Budaya Masyarakat. Oleh karenanya penempatan lokasi PPL AFI 2021 menyesuaikan keminatan mahasiswa terhadap ke-empat profil lulusan Prodi.

PPL Tahun 2021 ini Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam bekerjasama dengan berbagai lembaga sebagai tempat PPL, yaitu: Balitbang Agama Semarang, LPTP Surakarta, Rumah Budaya Kratonan (RBK), KUA Kec. Baki, KUA Kec. Gatak, KUA Kec. Grogol, KUA Kec. Kartasura, PP. Darul Afkar Klaten, PP. Ummul Qurok Boyolali, dan PP. Walisongo Sragen.

Adapun narasumber pertama ialah Ketua Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) Surakarta, Rahadi, S.Pd. yang berbicara tentang “Peran Profil Lulusan Prodi Aqidah dan Filsafat Islam; Penggerak Sosial Budaya Masyarakat pada Masa Pandemi Covid-19.” Sedangkan narasumber kedua merupakan Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta, Halintar Shah Reza, ME., S.Ag., S.H., M.H., M.Pd. dengan konsentrasi pembahasan seputar “Peran Profil Lulusan Prodi Aqidah dan Filsafat Islam; Pendidik Akidah Akhlak pada Masa Pandemi Covid-19”.

            Acara yang dipandu oleh moderator Mamluatur Rahmah, M.Ag. tersebut diakhiri dengan pidato penutup (Closing Speech) oleh Kaprodi Aqidah dan Filsafat Islam, Dra. Hj. Siti Nurlaili M, M.Hum. dan menjelaskan teknis pelaksanaan PPL AFI 2021 pada masa Pandemi saat ini, termasuk di dalamnya pembagian lokasi PPL dan Dosen Pembimbing Lapangan. Terakhir Kaprodi AFI berpesan kepada mahasiswa, dikarenakan PPL ini berkerjasama dengan lembaga lain maka diharapkan tetap menjaga nama baik kampus dan agar pelaksanaan PPL dapat berjalan lancar dan aman diharapkan para peserta tetap mematuhi protokol kesehatan dengan ketat. [AHM]

5 Alumni AFI UIN Surakarta Lolos Seleksi Beasiswa Magister AFI

Sukoharjo, 1/9/2021 – Tepat pada hari Selasa 31 Agustus 2021, 5 Alumni AFI UIN Raden Mas Said Surakarta dinyatakan lolos seleksi mendapatkan beasiswa studi lanjut S-2 pada Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. H. Akhyak, M.Ag. selaku Direktur Pascasarjananya pada pertemuan virtual melalui Zoom Meeting yang disaksikan oleh Kaprodi AFI UIN Raden Mas Said Surakarta Dra. Hj. Siti Nurlaili M, M.Hum., Kaprodi S-2 AFI UIN Tulungagung Dr. H. Zaini, S.Ag., M.Pd.I. dan bagian administrasi akademik Pascasarjana UIN Tulungagung serta dihadiri oleh seluruh kandidat penerima beasiswa.

Seleksi penerimaan mahasiswa baru program Magister tersebut merupakan upaya kerjasama Nasional/Internasional Pascasarjana UIN Tulungagung yang diikuti oleh calon mahasiswa Magister dan Doktoral, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dari lima alumni AFI UIN Surakarta yang mendaftar program tersebut, kelimanya lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa bebas biaya SPP selama empat semester.

Alumni AFI penerima beasiswa tersebut adalah Sugiyanto, S.Ag. (alumni 2015), M. Agus Wahyudi, S.Ag. (alumni 2016), Ach. Fitri, S.Ag. (alumni 2016), Eriska Ismiagi, S.Ag. (alumni 2020), dan Danur Putut Permadi, S.Ag. (alumni 2021) yang baru saja mengikuti Wisuda ke-47 UIN Raden Mas Said Surakarta pada 24 Agustus 2021 lalu. Dalam sambutan virtualnya, Dra. Hj. Siti Nurlaili M, M.Hum. menyampaikan terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada para alumni AFI UIN Surakarta dan berpesan kepada para alumni tersebut agar dapat maksimal dalam ikhtiyarnya dan memegang komitmen tersebut dengan sebaik-baiknya. [AHM]

Kaprodi AFI Sambut Mahasiswa Baru pada Acara Sosialisasi Program Studi

Sukoharjo, 28/8/2021 – Kaprodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta Dra. Hj. Siti Nurlaili Muhadiyatiningsih, M.Hum. turut menghadiri kegiatan Sosialisasi Program Studi yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi AFI pada hari Sabtu, 28 Agustus 2021 secara virtual melalui media Zoom Meeting.

Acara yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut bertema “Melestarikan Kearifan Lokal di Era Digital” dengan maksud mengenalkan Mahasiswa baru tentang kajian kearifan lokal pada era digital, dalam pembukaan Moderator menyampaikan bahwa pada dasarnya prodi AFI UIN Surakarta menitikberatkan kajiannya pada kearifan lokal dan filsafat Islam Jawa yang menjadi distingsinya. Sehingga harapannya, meskipun hidup para era digital namun tetap dapat melestarikan kearifan lokal.

Dalam kesempatan itu, Kaprodi AFI yang menjadi Narasumber turut menyambut para mahasiswa baru dengan suka cita dan mengenalkan profil prodi secara luas dan mendalam, mulai dari sejarahnya dari masa ke masa, visi misi tujuan, scientific vision yang menjadi pencirinya, hingga profil lulusan dan profil dosen serta mata kuliah yang akan ditempuh oleh para mahasiswa, baik mata kuliah wajib institut, mata kuliah wajib program studi sampai dengan mata kuliah pilihan program studi. Terakhir Dra. Hj. Siti Nurlaili M, M.Hum. menyampaikan agar para mahasiswa meneguhkan hatinya di Prodi AFI dan merajut mimpi bersama. [Ahm]

Istri Setia dan Tabah itu Bernama Rahmah

Alfina Hidayah

Sumber Gambar: https://pecihitam.org/belajar-dari-kisah-kesabaran-nabi-ayub-dan-kesetiaan-siti-rahmah/

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana. (Allah berfirman), “Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipatgandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat. Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” QS. Ṣād: 41-44.

Sebagai seorang muslim, sudah barang tentu membutuhkan teladan yang dapat dijadikan figur atau panutan dalam berkepribadian, maka menjadikan tokoh-tokoh inspiratif yang kisahnya diabadikan al-Qur’ān adalah pilihan tepat. Sebab meskipun mereka belum tentu disenangi oleh manusia sekitarnya, tapi sudah pasti mereka dicintai Tuhan, bahkan sebagian dari mereka telah dijanjikan Surga-Nya. Sebut saja misalnya Rahmah istri Nabi Ayub ‘Alaihi al-Salām. Kisahnya sangat relevan sekali dengan kondisi pandemi saat ini, bagaimana Rahmah memiliki citra seorang perempuan yang penyabar, setia, dan penuh pengorbanan dalam mendampingi suaminya yang diuji dengan sakit berat dan kemiskinan.

            Alkisah, setelah masa kenabian Ayub ‘Alaihi al-Salām, kehidupan dan keluarganya dianugerahi kemakmuran, berlimpah harta, binatang ternak, ladang, dan sejumlah budak yang membantu merawat ternak dan mengelola ladang. Semakin bertambah kebahagiaannya dengan kahadiran putra-putri mereka yang tumbuh baik dalam iman dan kasih sayang. Hingga kemudian Setan berupaya untuk mengganggu dengan ujian bertubi-tubi, seperti ayat yang berbunyi “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan”.

Seperti yang banyak diceritakan, Nabi Ayub ‘Alaihi al-Salām kemudian berangsur-angsur jatuh miskin, bahkan yang lebih berat adalah beliau harus kehilangan putra-putrinya dan hanya tertinggal seorang istri yaitu Rahmah disampingnya. Ujian terus bertambah dengan bertahun-tahun harus menderita penyakit yang disebutkan sangat parah -pada saat itu- sampai akhirnya sang istri harus menggantikan perannya untuk mencari nafkah demi kelangsungan hidup mereka berdua.

Singkat cerita, sampai-sampai pada suatu saat tidak seorangpun yang berkenan mempekerjakan Rahmah dirumah mereka karena penyakit sang suami, sehingga kondisi mereka berdua semakin sengsara dan terpuruk namun tetap menjaga iman dan taat beribadah. Pernah suatu ketika Rahmah bertemu dengan seseorang yang tak dikenal dan mengajaknya untuk mengingkari Allah Swt, hal tersebut ia sampaikan kepada Nabi Ayub ‘Alaihi al-Salām dan dengan perasaaan penuh kecewa beliau mengatakan bahwa itu adalah iblis yang akan menyesatkan mereka. Hal tersebut membuat Ayub ‘Alaihi al-Salām bersedih sampai ia mengancam akan memecut Rahmah seratus kali jika ia sembuh nanti.

            Setelah bertaubat dan perasaan bersalahnya, suatu pagi Rahmah keluar rumah untuk bekerja dan dalam kesendiriannya Nabi Ayub kemudian mendengar seruan yang memerintahkannya untuk menghantamkan kedua kaki, seketika dihadapannya ia melihat sebuah kolam air yang dapat digunakan untuk minum dan mandi. “Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”. Hingga tak lama setelahnya ia mendapati dirinya sudah kembali sehat.

Begitu Rahmah pulang, ia mencari-cari suaminya yang tak kunjung ditemukan, lalu ia bertanya kepada seorang laki-laki yang ia temui di jalan dan akhirnya tercengang saat menyadari bahwa dia adalah sang Suami. Betapa bahagianya mereka saat saling bertemu dan mengetahui keadaannya kini, meskipun selepas itu Ayub ‘Alaihi al-Salām dirundung gundah karena berarti ia harus menepati janjinya untuk memecut Rahmah mengingat kondisinya yang telah sehat kembali. Kemudian turunlah ayat “Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (QS. Shād: 44). Begitulah Allah Swt melimpahkan kembali karunia-Nya kepada Nabi Ayub dan istri “Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.” (QS. Al-Anbiyā’: 84).

Banyak pesan hikmah yang dapat dipetik dari kisah Rahmah istri Nabi Ayub ‘Alaihi al-Salām, jika sang suamidikenal karena kesabarannya menghadapi ujian, maka hal tersebut adalah sebuah kelaziman bagi seorang Nabi, manusia pilihan. Berbeda dengan Rahmah, manusia biasa sebagaimana perempuan pada umumnya, sangat ‘wajar’ jika ia mendampingi suami saat kaya raya dan bergelimang harta. Namun ia mengajarkan bagaimana seorang istri dapat mendampingi suami bukan karena keadaan yang menyertainya; baik hanya bertahan saat didera sakit dan kemiskinan atau hanya menetap ketika berada di puncak kejayaan. Rahmah adalah salah satu sosok ‘ikonik’ yang menggambarkan seorang istri dengan penuh kesabaran dan kesetiaan mendampingi suami dari keadaaan jaya hingga kondisi dimana manusia menghina dan mencerca. Tentu tidak mudah,  oleh karenanya ia terus berjuang membuang rasa malu, takut dan enggan untuk bekerja keras mencari nafkah demi merawat suami tercinta hingga pada akhirnya tetap bersama sampai Tuhan mengembalikan keadaan mereka. Wallāhu A‘lam bi al-Ṣawāb []

Bias Gender: Ketidakadilan Posisi

Oleh: Setiyani Eky

Sumber Gambar: http://yayasanpulih.org/2020/06/perubahan-peran-gender-selama-pandemi/

Perempuan dan laki-laki seringkali terikat pandangan umum masyarakat mengenai peran perempuan dan laki-laki yang berasal dari norma sosial dan budaya. Misalnya, peran perempuan sebagai ibu rumah tangga dan laki-laki sebagai tulang punggung keluarga atau pencari nafkah, seringkali membatasi baik perempuan maupun laki-laki dalam memenuhi potensi diri masing-masing. Adanya pelekatan peran seperti inilah yang menjadi akar dari suatu bias gender.

Untuk memahami akan makna dari bias gender, maka perlu diketahui hakikat gender itu sendiri. Gender merupakan perbedaan secara sosial untuk menggambarkan semua atribut yang diberikan secara sosial antara lain peran, kegiatan, dan tanggung jawab atas laki-laki dan perempuan dalam masyarakat tertentu. Gender merujuk pada hubungan antara laki-laki dan perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan, dan bagaimana hubungan sosial tersebut dikonstruksikan. Biasannya gender ditentukan oleh tempat dan budaya masyarakatnya. Peran gender bersifat dinamis dan dapat berubah antar waktu. Banyak orang yang salah mengartikan bahwa gender itu merupakan jenis kelamin, maka di sini perlu digaris bawahi bahwa gender itu bukanlah jenis kelamin melainkan sifat—lebih tepatnya sifat bentukan. Ada yang “feminis” dan ada yang “maskulin”.

Sifat feminis bercirikan lemah, lembut, dan keibuan sedangkan sifat maskulin bercirikan kuat, keras, tangguh, dan gagah berani. Sifat feminis tidak melulu harus dimiliki oleh perempuan dan sifat maskulin juga tidak melulu harus dimiliki oleh laki-laki karena sifat atau gender ini dibentuk oleh manusia itu sendiri. Gender dapat diubah dan ditukar, karena sifat merupakan bentukan yang dibuat oleh manusianya masing-masing. Misalnya, perempuan tidak selalu bersifat lemah, lembut, dan halus tetapi banyak juga diluar sana perempuan bersifat kuat, berani, dan keras atau biasa disebut dengan istilah tomboy. Begitupun sebaliknya dengan sifat laki-laki yang tidak harus keras, kuat, dan gagah.

Kemudian ada satu pertanyaan yang sering ditanyakan dan harus diperjelas, apakah gender itu termasuk kodrat? Jawabannya adalah bukan. Gender dan kodrat itu dua hal yang berbeda. Kodrat adalah sesuatu yang ditetapkan oleh Tuhan YME, sehingga manusia tidak mampu untuk mengubahnya ataupun menolaknya. Kodrat dari setiap perempuan yaitu menstruasi, hamil (melahirkan), dan menyusui sedangkan kodrat laki-laki ialah mempunyai sperma. Kodrat sifatnya universal (tetap sepanjang hayat dikandung badan) sedangkan gender lebih menekankan pada pembagian peran dan tugas yang diatur oleh manusia (masyarakat) dan setiap masyarakat satu dengan masyarakat lainnya itu berbeda, bahkan dalam suatu masyarakat pun senantiasa mengalami perubahan seiring berjalannya waktu.

Pembagian peran dan tugas inilah yang banyak menyebabkan salah arti mengenai kodrat. Banyak masyarakat awam mengatakan bahwa kodrat perempuan itu harus di rumah melayani suami, memasak, mengurus anak, mengurus rumah, dan lain sebagainnya. Namun, hal itu tidak dapat dibenarkan, karena sejatinya kodrat seorang perempuan itu hanya ada tiga, yaitu menstruasi, hamil (melahirkan), dan menyusui. Selebihnya dari itu, laki-laki pun bisa melakukan pekerjaan domestik seperti memasak, mengurus rumah, belanja kebutuhan dan untuk mengurus anak sekalipun.  

Terlebih di masa pandemi ini, menjadi perempuan seperti harus memanggul dunia. Perempuan dituntut untuk menjadi istri, ibu, sekaligus guru dan seseorang yang harus mengurusi kehidupannya sendiri. Belum lagi jika kebutuhan dan ekonomi keluarga belum tercukupi. Seorang perempuan juga harus ikut terjun dalam dunia pekerjaan. Beban seorang perempuan menjadi berlipat ganda bahkan dua kali lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Hal itu dikarenakan adanya salah arti mengenai kodrat dalam masyarakat tadi yang mengharuskan seorang perempuan mengurus pekerjaan domestik sepenuhnya.

Nah, dari keharusan itulah para perempuan merasa adanya ketidakadilan sehingga terciptalah bias gender. Apa itu bias gender? Bias gender terjadi apabila salah satu pihak dirugikan sehingga mengalami ketidakadilan. Ketidakadilan yang dimaksud adalah apabila salah satu gender lebih baik keadaan, posisi, dan kedudukannya. Bias gender dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi di Indonesia ini, bias gender lebih banyak dirasakan oleh kaum perempuan.

Perempuan kerap kali dipandang sebagai masyarakat kelas dua, diperlakukan berbeda daripada laki-laki terlebih dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Seringkali diragukan karena dianggap tidak mampu dan tidak layak. Pada akhirnya terjadilah banyak ketimpangan yang dialami oleh kaum perempuan. Dimulai dari finansial ketika perempuan bekerja. Upah bagi perempuan lebih sedikit dibandingkan dengan upah laki-laki, perempuan juga lebih cenderung terkena PHK atau terancam karirnya dibandingkan dengan laki-laki. Faktor norma sosial pun seringkali menuntut para perempuan untuk bisa mengambil alih lebih banyak pekerjaan domestik dibanding laki-laki karena dianggap sudah menjadi kodratnya. Dalam pengambilan keputusan dan kepemimpinan pun perempuan masih di nomorduakan.

Lantas bagaimana kita menyikapi adanya isu bias gender ini? yang perlu dilakukan sebagai upaya merespon isu kesetaraan gender ini adalah dengan memperjuangkan keseimbangan gender, menghapus ketimpangan gender atau bias gender ini, memberikan kesempatan yang sama pada kedua gender, saling menguntungkan kedua gender, serta menegakkan keadilan bagi kedua gender. Karena munculnya tuntutan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan ini perlu direspon secara proposional baik oleh laki-laki maupun perempuan. Jika tidak maka tetap saja isu bias gender atau kesetaraan gender ini hanya akan menjadi suatu wacana yang tak berujung.

Jangan sampai kita alergi terhadap pembahasan kesetaraan gender ini, karena akan memberikan dampak negatif bagi penyumbatan pembangunan secara utuh. Oleh karena itu, perlunya menyikapi isu bias gender ini sebagai wujud kepedulian kita terhadap berbagai aktivitas hidup yang mendukung terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang harmonis. []

Perselisihan Umat Beragama: Salah Agamanya atau Umatnya?

Oleh: Muhammad Fatkhur Rokhman

Sumber Gambar: https://haziemnafan.wordpress.com/2018/12/09/kemanusiaan-yang-menyatukan-semua-agama/

Kebanggaan sebagai orang yang beriman seringkali menjadikan orang tersebut memandang rendah agama lain. Terang saja hal ini membuat kita sedikit gelisah mengenai agama yang seharusnya menjadikan manusia berbakti dan berbudi pekerti luhur, justru melahirkan iblis versi mereka. Ini mengingatkan saya kepada beberapa insiden mengenai penyerangan terhadap agama tertentu.

Contoh dekat seperti yang terjadi pada bom Bali yang banyak menewaskan warga asing yang notabene pada saat itu sedang berwisata di Bali. Latar belakang pengeboman ditengarai dikarenakan orang-orang yang mengaku diri beragama Islam itu mempunyai anggapan buruk mengenai barat yang membenci Islam dan bahkan memerangi Islam. Juga ada lagi peristiwa di luar negeri juga pernah ada seorang secara terang-terangan membantai seluruh jamaah sholat jum’at di suatu masjid di Selandia Baru yang sempat viral di media sosial dengan motif ingin meminimalisir dan menanamkan rasa takut kepada para penjajah yang diidentikkan dengan orang islam dan Eropa lainnya (mengutip dari liputan6.com).

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah dengan tanpa adanya agama manusia akan baik-baik saja? Menurut informasi di atas bahwa sentimen antar pemeluk agama atau kepercayaan sering terjadi. Dan, pembahasan mengenai agama juga merupakan sesuatu hal yang sangat sensitif. Terutama pada suatu negara yang memiliki banyak pemeluk agama dan kepercayaan yang bermacam-macam seperti Indonesia. Dengan agama Islam sebagai agama dominan dan agama-agama lain menjadi minoritas membuat agama Islam harus menjadi se-toleransi mungkin, namun banyak yang mengaku tidak sepenuhnya mengerti dan hanya ikut-ikut saja terkadang menjadi sasaran empuk untuk dimasuki doktrin-doktrin kebencian terhadap agama lain yang menghadirkan tindakan terorisme. Itu juga berlaku untuk agama yang lain karena saya percaya bahwa tidak ada satupun agama yang membenarkan kekerasan dan pembunuhan massal.

Namun, benarkah jika tidak ada agama maka pertikaian atau sentimen terhadap agama satu dengan yang lain akan hilang atau tidak pernah terjadi?

Saya akan mengutip dari Karl Marx yang mengatakan bahwa “agama adalah candu”. Maksudnya di sini bukan mengatakan bahwa agama adalah salah. Tapi menurut Marx, agama bagi masyarakat hanya sekedar obat penenang yang mana ketika masyarakat sedang berada dalam kesusahan mereka akan berlari kepada agama yang akan membuat mereka merasa ditenangkan. Dan bahkan, kecanduan ini kadang menjadikan para pemeluknya tidak sedikit yang terkekang dan tidak bisa memajukan peradabannya dengan majunya ilmu pengetahuan.

Candu yang dimaksudkan oleh Karl Marx, menurut saya tidak sepenuhnya jelek, bahkan dalam terapi kejiwaan agama juga menjadi alternatif yang bisa diambil untuk pemecahan masalah mengenai kejiwaan. Namun, kecanduan tersebut juga akan sangat tidak menguntungkan ketika orang tersebut terlalu fanatik terhadap agamanya. Orang-orang menyebutnya fundamentalis, sebagai penamaan atas terlalu ketatnya dia dalam beragama.

Sekarang masalahnya, jika tidak ada agama atau suatu kepercayaan apakah itu sesuatu yang bagus? Jawabannya tentu tidak. Memang benar apa yang dikatakan Marx, bahwa masyarakat cenderung membuat agama hanya sebagai pelampiasan ketika mereka sedang mengalami kesedihan hati. Terutama jomblo-jomblo yang sering ditolak lamarannya sama gebetan. Begitu patah hati langsung taat agama, bahkan tahajjud atau sholat di sepertiga malam. Ketika jaman dulu ada yang bilang “cinta ditolak dukun bertindak”, sekarang jadi beda “cinta ditolak Allah bisa berkehendak”.

Jika dipikirkan lagi “kebucinan” memang sudah merajalela, bahkan ada yang rela hujan-hujan demi kata “maaf” dari gebetan. Yang lebih parahnya lagi gara-gara bucin sampai berani bunuh diri. Ini membuktikan bahwa mental health itu dibutuhkan oleh setiap orang bukan hanya para bucin dan agama menyediakan hal itu.

Kembali lagi, tentang moral dan etika terhadap sesama yang sudah dibahas terlebih dahulu seperti yang diatas bahwasannya sentimen antar agama sering terjadi bahkan sampai memakan korban jiwa. Itu pun setiap agama pasti melarang adanya pertikaian dan perang. Jadi, coba bayangkan ketika tidak ada agama yang melarang mengenai pertikaian dan perang. Sudah barang jadi akan banyak peperangan dan moral etika pun tidak akan terbentuk dengan baik. Jika ada yang bilang bahwa kebijakan manusia bisa mengatasi permasalahan moral dan etika, maka juga perlu dipertimbangkan mengenai Hak Asasi Manusia seberapa banyak hal tersebut berdampak terutama bagi ras yang sering ditindas yaitu ras kulit hitam yang sampai sekarang masih belum mendapatkan kemerdekaannya dari prasangka buruk.

Islam datang membawa solusi bagi bahwasaannya dalam tubuh agama Islam sendiri meniadakan satu dan banyak hal yang merupakan akar dari perselisihan seperti larangan menggunjing, menghargai setiap orang, berpikiran positif, mewajibkan berbuat baik kepada banyak orang tanpa melihat status orang tersebut, dan lain sebagainya. Bahkan Islam juga menghapuskan sistem budak yang dulunya sudah lama eksis terlebih dahulu yang membawa asumsi bahwa budak itu derajatnya lebih rendah dari orang lain di sekitarnya. Bahkan strata sosial seperti apa yang dilakukan agama lain dengan mengelompokkan kedudukan sosial manusia dalam beberapa golongan. Namun demikian, penganut agama lain sepertinya tidak suka ketika Islam dengan gencar menjadi yang terdepan dalam kadar toleransi dengan sesama dan  menjadikan agamanya seperti tertinggal dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan agama Islam. Banyak skenario dibuat untuk membuat agama Islam jelek dan membuat masalah ini semakin berlarut.

Bukan agama yang menjadi inti permasalahan yang berlarut-larut ini, tapi manusianya yang menyebarkan kebencian. Allah SWT tidak pernah menyuruh hambanya untuk berseteru tegang dengan penganut agama lain. Tetapi dari hamba sendiri yang kurang berpengetahuan dan hanya bermodal iman yang tinggi dengan alasan membela agamanya itulah yang justru semakin memperkeruh keadaan. Beriman dan taat adalah dua hal penting dalam agama Islam, namun pengetahuan mendalam dalam agama juga perlu dipupuk sehingga perseteruan yang dipicu oleh perbedaan agama dapat diperkecil dan stigma negatif mengenai agama terutama Islam bisa sedikit demi sedikit menghilang. []

Peran Mahasiswa Melawan Pandemi

Oleh: Hamzah Syaifulloh

Sumber Gambar: https://widuri.ac.id/peran-mahasiswa-dalam-masyarakat-di-masa-pandemi/

Indonesia, Negara kita tercinta sampai saat ini masih menghadapi salah satu cobaan yang sangat berat. Bagaimana tidak, Virus Covid-19 yang melanda bumi hampir dua dekade lamanya seakan merubah tatanan kehidupan baik itu tatanan ekonomi, tatanan pendidikan bahkan tatanan hidup lainnya. Berbagai kebijakan demi kebijakan yang dilakukan pemerintah guna untuk menekan laju penyebaran Covid-19 terus diupayakan, salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar, baik itu untuk siswa dan mahasiswa dilakukan secara daring.

Lantas sampai kapan virus ini akan berakhir? Mungkin itulah pertanyaan yang muncul dari siswa atau mahasiswa yang sudah merindukan bangku sekolah secara tatap muka, atau bahkan semua orang yang ingin kembali hidup normal tanpa banyaknya aturan.

Sebagai pelajar yang sebelumnya melakukan pembelajaran di kelas secara tatap muka, mungkin awalnya kebingungan dan bertanya-tanya, apakah pembelajaran jarak jauh ini akan efektif seperti halnya pembelajaran tatap muka? Di sisi lain, pembelajaran daring merupakan himbauan pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19, sementara itu Revolusi Industri 4.0 yang semakin gencar menyuruh kita dituntut untuk berinovasi lebih bertujuan untuk memajukan pendidikan bangsa kita agar tidak tertinggal dengan bangsa lainnya.

Lalu apakah ketika pembelajaran daring terlaksana, mahasiswa tidak mampu berkarya? Apakah mahasiswa tidak bisa melakukan apa-apa? Apakah tugas mahasiswa sebatas masuk setelah itu menulis absen, mendengarkan materi, mengerjakan tugas yang diberikan dosen semata? Jika itu benar dilakukan, maka dimana letak peran mahasiswa sebagai agent of change yang mampu membuat perubahan terutama dimasa pandemi ini.

Mahasiswa: Agent Of Change di Masa Pandemi

Mahasiswa sebagai agen perubahan, mungkin kata itu yang sering terderngar di telinga kita sebagai seorang mahasiswa. Memang tidak dapat dipungkiri bahwasannya mahasiswa dituntut untuk memberi perubahan yang berarti untuk masyarakat sekitar, sesuai dengan julukannya agent of change mahasiswa diminta untuk bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu agar dapat diaplikasikan kepada masyarakat, bukan hanya mencari gelar yang kelak akan menempel pada nama kita saja, akan tetapi ada sepercik cahaya harapan di dalam gelar itu.

Lalu bagaimana peran mahasiswa sebagai agent of change di masa pandemi?

Pertama, peran mahasiswa untuk memipin adalah pengaplikasian kepada diri sendiri  untuk melakukan pencegahan terhadap wabah virus Covid-19. Setelah itu, keluarga sebagai unit yang membentuk diri, maka mahasiswa sebisa mungkin memberikan contoh kepada masyarakat terutama kaum awam, untuk berusaha menaati anjuran pemerintah untuk mematuhi protokol kesehatan agar dapat menekan laju penyebaran virus Covid-19

Sebagai manusia yang hidup di zaman modern, apalagi Revolusi Industri 4.0 yang semakin gencar-gencarnya membuat kita semakin mudah untuk mengakses sesuatu dengan mudah, apalagi pembelajaran online yang tentunya kita dituntut untuk sebisa mungkin menggunakan alat elektronik, tetapi yang harus digarisbawahi di sini adalah bagaimana memanfaatkan media itu untuk memberikan pemahaman terhadap semua orang. Peran mahasiswa di sini bisa memanfaatkan berbagai media sosial untuk menambahkan pemahaman tentang virus Covid-19 serta menghimbau untuk tetap mematuhi protokol kesehatan.

Mahasiswa sebagai agen perubahan tentunya memiliki peran vital dalam ikut berpartisipasi untuk mengatasi penyebaran Covid-19 di Indonesia. Apabila hanya berpatok kepada bantuan pemerintah, tentunya sangat tidak memungkinkan penyebaran Covid-19 akan teratasi, lebih-lebih dalam waktu yang dekat. Oleh karena itu, mahasiswa dapat berperan memulihkan keadaan dengan membantu pemerintah dalam mengatasi penyebaran Covid-19.

Mahasiswa: Berkarya Sesuai Bidang

Masa pandemi seharusnya tak menghalangi mahasiswa untuk terus berkarya, banyak sekali kegiatan bermanfaat untuk mengisi waktu luang. Salah satunya adalah membuat karya, zaman yang semakin berkembang membuat kita dituntut untuk memiliki kemampuan lebih agar tidak tertinggal oleh lainnya, membuat karya dapat menjadi solusi kita untuk menyampaikan aspirasi–aspirasi yang kita miliki diruang publik sebingga karya kita bisa dinikmati dan dapat bermanfaat untuk semua orang.

Hadirnya pandemi merupakan cobaan berat yang diberikan Allah swt kepada kita, berbagai problematika kehidupan yang ada disekitar membuat kita harus berikhtiar melakukan berbagai anjuran kesehatan serta bertawakal kepada Allah Swt. Covid-19 telah mewabah sejak maret 2020 dan sudah menyebar hampir keseluruh Indonesia, serta mengubah hampir seluruh tatanan kehidupan manusia.

Mahasiswa sebagai aset negara yang memiliki pengetahuan serta keterampilan lebih. Tentunya harus mampu menghadapi problematika yang ada disekitar. Lebih dari itu, mahasiswa harusnya mampu menjadi garda terdepan dalam mengatasi virus Covid-19. Mahasiswa yang memiliki pengetahuan intelektual tentunya mempunyai gagasan dan inovasiinovasi untuk menekan lanu pandemi. []