AFI

‘Bincang Filsafat’ HMPS AFI 2022: “How the Ancient Greeks thought of Nature?”

‘Bincang Filsafat’ HMPS AFI 2022: “How the Ancient Greeks thought of Nature?”

Sukoharjo (25/02) — HMPS AFI mengadakan diskusi mingguan ‘Bincang Filsafat’, yang  pada edisi kali ini mengusung tema “How the Ancient Greeks thought of Nature?” sebagai lanjutan dari ‘Bincang Filsafat’ edisi pertama HMPS AFI periode 2022. Di mana dalam diskusi ini bermaksud menilik sekaligus mencoba memahami kembali pikiran-pikiran para filsuf Yunani Kuno yang dalam orientasi pemikirannya berpusat pada alam (Phylosophy of Nature). Diskusi yang bertempat di Jona Coffee tersebut dipantik oleh Ahmad Miftahudin Thohari, Mahasiswa AFI 2019.

Belajar tentang pemikiran filsafat tentunya tidak bisa melupakan begitu saja warisan pemikiran-pemikiran yang ditinggalkan oleh para filsuf di era Yunani Kuno. Sebab bagaimanapun juga, perjalanan pemikiran filsafat yang berkembang pada masa modern hingga sekarang ini tentu adalah lanjutan dari paradigma berpikir warisan filsafat Yunani Kuno. Pikiran-pikiran para filsuf Yunani Kuno bisa dibilang adalah sebagai pondasi dasar dari berkembangnya rancang bangun pemikiran filsafat di kemudian hari. Dan, demi menjaga tradisi Filsafat Barat, menilik kembali corak pemikiran para filsuf Yunani Kuno adalah sesuatu yang penting untuk dilakukan.

Hujan deras yang mengguyur daerah Pucangan nyatanya tidak lantas menghambat antusiasme mahasiswa untuk hadir guna belajar filsafat—khususnya belajar kembali tentang Yunani Kuno. Diskusi dimulai dari membuka dan membaca kembali pemikiran Thales, Anaximandros, Anaximenes, Heraklitos hingga model pemikiran dari seorang Phytagoras, dan tak ketinggalan pula para filsuf mahzab ‘eleatic school’, yakni Permenides, Zeno, termasuk juga Xenophanes.

Diskusi berlangsung kondusif. Forum dengan seksama mencoba memahami: apa itu arche (baca: ‘prinsip tunggal’) sebagai asal mula pembentukan alam dari buah pikiran para filsuf Yunani Kuno, berikut dengan segala argumentasinya. Apakah air atau api atau udara atau sesuatu yang tak terhingga dan tak terdefinisi yang menjadi asal mula alam dibentuk? Perbincangan demikian itulah yang di kemudian hari menjadi basis ontologis terkait pembahasan tentang hakikat alam.

Di akhir diskusi, tak lupa pula pemantik berpesan di dalam forum supaya tetap terus menjaga tradisi berfilsafat, untuk tetap terus belajar ilmu dan senantiasa berpikir kritis. Karena pada dasarnya, “berfilsafat adalah berpikir, dan hidup yang berpikir adalah pangkal kebahagiaan.” [hmps2022]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*