AFI

Day: September 19, 2021

Kaliboto Green Institute Ajarkan Mahasiswa AFI Budidaya Tanaman Sehat dan Manajemen Ternak


Denah lokasi Kaliboto Green Institute (KGI) seluas 8,5 hektare

Kegiatan PPL yang di selenggarakan di Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) resmi dimulai pada hari Selasa 7 September 2021, pukul 10:30-12:00 WIB, bertempat di Jl. Raya Palur Km. 5 Tegal Asri, Rt 04/Rw 06, Jurug, Ngringo, Kec. Jaten, Kab. Karanganyar.

Kaliboto Green Institute adalah salah satu investasi LPTP yang berada di dusun Karang, desa Kaliboto, kecamatan Mojogedang, kabupaten Karanganyar. Dengan luas 8.5 hektare lahan ini dimanfaatkan untuk pertanian dan juga peternakan. Dengan fokus kedua kegiatan tersebut maka akan tercipta sistem integritas dimana antara pertanian dan peternakan saling berhubungan. Yaitu peternakan membutuhkan makan ternak dari pertanian sedangkan pertanian memerlukan pupuk dari peternakan.

Hari pertama, 7 September 2021 acara penyerahan PPL di Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) ini berjumlah 9 orang mahasiswa yang semuanya dibagi menjadi 3 kelompok dan ditempatkan dicabang LPTP lainnya, Yaitu 3 Laki-laki ditempatkan di LPTP cabang Klaten, 3 Perempuan ditempatkan di LPTP cabang Kaliboto Green Institute (KGI) Kab. Karanganyar dan 3 Perempuan ditempatkan di LPTP cabang Boyolali.

Hari kedua, 8 September 2021 kegiatan PPL di Kaliboto Green Institute (KGI) Kab. Karanganyar Mahasiswa melakukan Orientasi di tempat PPL yaitu di Kaliboto Green Institute KGI. Disana diajarkan tentang tiga Prinsip Dasar Pertanian yang ada di LPTP yaitu: Budidaya Tanaman Sehat, Bibit, mencakup beberapa aspek yaitu harus di airi , memilih bibit unggul, bibit lokal, dll. Yang menguntungkan bagi petani. Pola tanam, jika di dataran rendah di tanami tanaman yang sama secara terus menerus maka tingkat hama lebih besar. Contoh: padi, palawija. Padi, palawija, padi. Bagi yang tadah hujan bisa palawija, palawija, palawija.

Pada tanaman Padi, LPTP mengembangkan sistem tanam SRI (Sistem Rice Intertenfikasi). Dengan sistem organik atau non organik. Tanam bibit muda. 18 ,15, 12 hari setelah sebar kering . Karena dengan media ini bibit nya akan kuat (kaku) dengan tanamnya 1 lubang 1 bibit. Tanam dangkal. Max. lubang sedalam 1 cm, dengan pemberian air secara berkala. Sistem tanam jajar legowo ( di beri spase ½  ). Perairan Hanya dilakukan dengan irigasi atau tekhnik. Ada juga yang setengah tekhnis. Ada juga yang memakai air tadah hujan.

Cara pengolahan tanah dengan menggunakan Bajja, Traktor. TOL (Tanpa Olah Lahan) dengan menyemprotkan insektisida baru bisa ditanami jagung. Pengendalian gulma, Hama pokok pada tanaman dapat ditanami dengan sistem iwir (berjarak lebih renggang). Pengendalian Hama dan Wereng dan walang sangit itu termasuk hama. Tomro termasuk penyakit pada tanaman yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop. Pupuk. Organik dan an- organik. Organik. Bisa dalam bentuk padat dan cair. Media yang paling cocok untuk fermentasi adalah air kelapa, dan limbah pabrik tahu, Leri ( air cucian beras ). Menggunakan pestisida nabati yaitu lengkuas,Mindi. Untuk mendapatkan pupuk organik yaitu dari hasil hewan ternak yang dikelola di LPTP.

An- organik. Kimiawi. Subsidi dan non-subsidi. Contoh : Urea, ZA, SP, 36, PONSKA (NPK). Bedanya pupuk subsidi. Dan non subsidi Subsidi : Petrokimia, Gresik, Pusri, Kujang, Mandan, Iskandar muda. Yang sudah teruji didalam Laboratorium. Non-subsidi : PONSKA plus, urea plus. Pengelolaan paska panen, Pengamatan rutin menggunakan jeda waktu mingguan. Contoh : Jumlah hama, jumlah musuh alami, tinggi tanaman, panjang daun, air, matahari. Maka diperlukan pengamatan mingguan untuk tanaman untuk menyimpulkan tanaman sehat atau tidak. Pendayagunaan ( Pengamatan dari musuh alami ), Predator : hewan makan hewan, Serangga makan serangga, Mencetak petani ahli, Ahli di bidang penelitian, Ahli di bidang organisir Petani, Kefasilitasan Dll.

Hari ketiga, 9 September 2021 Mahasiswa melakukan Orientasi Lapangan di bidang Pertanian tempat PPL yaitu di Kaliboto Green Institute (KGI). Dalam observasi lapangan ini Mahasiswa ditugaskan menghitung jumlah pohon yang ada di KGI, potensi, masalah, dan rekomendasi. Begitu juga dengan hari selanjutnya yaitu Peternakan Mahasiswa PPL disuruh menghitung jumlah ternak Sapi, Kambing, dan Domba yang mana nantinya akan dicari potensi, masalah, dan rekomendasi.

Dihari selanjutnya, 12-13 September, Mahasiswa mencari potensi, masalah, dan rekomendasi. Setelah itu mereka mempresentasikan hasil observasi lapangan yang telah dilaksanakan selama dua hari. Kemudian memilih fokus belajar yang akan dipelajari lebih lanjut. Dihari selanjutnya Mahasiswa PPL UIN Raden Mas Said Surakarta menekuni fokus masing-masing. Dan ketiga Mahasiswa PPL UIN ini terfokus dalam Peternakan Kambing, namun dalam sudut pandang yang berbeda. Septi Qomariyah fokus pada Manajemen Kambing, Siti Maimunah fokus pada kesehatan Kambing, dan Tiara Salsa Khorisma fokus pada Pakan Kambing.

Jam masuk Mahasiswa PPL dimulai dari jam 08:00-04:00 WIB selama kegiatan berlangsung Mahasiswa UIN membantu pekerja yang sedang membersihkan kandang, mengambil rumput, dan memantau perkembangan kambing yang sehat maupun yang sedang menjalani proses pemulihan dari sakit belek (sakit mata). Sewaktu awal Mahasiswa dari UIN datang sudah disambut dengan kabar gembira dengan kelahiran bayi kambing yang keduanya terlahir dengan jenis kelamin jantan. Dan kami selaku Mahasiswa merasa sangat senang dengan kabar gembira tersebut, harapan kami semoga anak kambing yang lahir tepat diawal kedatangan kami membawa berkah untuk LPTP ataupun pemilik dari kambing tersebut. [SM/SQ/TSK]

Mahasiswa AFI Pelajari Seni dan Budaya Jawa di Rumah Budaya Kratonan Surakarta

Pada hari Selasa, 07 September 2021 pukul 14.00 WIB dilaksanakan penyerahan mahasiswa PPL Prodi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) UIN Raden Mas Said Surakarta kepada Rumah Budaya Kratonan Surakarta. Kegiatan ini diawali dengan pembukaan oleh Ibu Siti Nurlaili selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sekaligus Kaprodi AFI, didampingi oleh Ibu Alfina Hidayah selaku sekprodi. Selanjutnya Ibu Sita sebagai Manajer Pengelola yang menerima mahasiswa PPL.

Setelahnya mahasiswa dikenalkan dengan lingkungan Rumah Budaya Kratonan dan kegiatan yang ada di sana. Kemudian hari berikutnya dilakukan pembagian kelompok yang menggunakan jadwal shift yaitu shift pagi dan shift siang, yang mana setiap shift terdapat tiga mahasiswa. Setelah pembagian jadwal masing-masing mahasiswa diberi tugas di tempat-tempat yang sudah ditunjukkan yaitu Galeri, Perpustakaan, dan Kantor. Pada hari-hari berikutnya dilakukan kegiatan yang sama sehingga para mahasiswa saling merasakan masing-masing bidang. Setelah itu, mahasiswa melakukan diskusi bersama dengan pengelola Rumah Budaya Kratonan Surakarta untuk menyampaikan ide-ide mengenai hal-hal yang dilakukan dalam beberapa hari kedepan.

Pada hari Jumat, 10 September 2021 pukul 10.00 mahasiswa PPL mulai melaksanakan ide-ide yang telah disepakati bersama. Memulai pembagian fokus bidang-bidang tertentu yaitu pertama bidang galeri yang beranggotakan Irfan Rahmat Kurnia dan Taufik Aprianto Adi. mereka melaksanakan kegiatan di sekitar galeri dan fokus menyelesaikan ide-ide tentang galeri. Yang kedua dalam bidang perpustakaan beranggotakan Rosa Nur Laili dan Ratna Ida Khumaeroh. keduanya melaksanakan kegiatan disekitar perpustakaan dan berfokus menyelesaikan ide-ide tentang perpustakaan. Yang terakhir diluar ruangan yang meliputi banyak bidang mulai dari taman, aula, mading, dan lain-lain yang beranggotakan Desqy Alvian Rahmaputra dan Indah Maulida. mereka melakukan kegiatan-kegiatan sekitar Rumah Budaya Kratonan Surakarta.

Kegiatan PPL ini berlangsung selama 2 minggu mulai dari tanggal 7 September sampai dengan 21 September 2021, yang mana pada hari terakhir diisi dengan kegiatan presentasi masing-masing mahasiswa terkait kegiatan yang telah dilakukan selama berada di Rumah Budaya Kratonan Surakarta. [IR/RIK]

Bersama LPTP, Mahasiswa AFI Ikuti Program Konservasi di Desa Pagerjuang dan Desa Mriyan


Foto bersama dengan Bapak Muslim dan mahasiswa IAIN Salatiga di rumah Bapa Jinu selaku Ketua Kelompok Sekar Aji yang memproduksi Teh Piles Dusun Kayu Lawang Desa Mriyan

Pada tanggal 7 September 2021, Mahasiswa AFI UIN Raden Mas Said bersama dengan Dra. Hj Siti Nurlaili Muhadiyatiningsih, M.Hum (Kaprodi) melakukan prosesi Pelepasan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di kantor Lembaga Pengembanagan Teknologi Perdesaan (LPTP) Palur dengan disambut oleh Rahadi selaku ketua yayasan bersama Zamzaini . Selain luring acara tersebut juga dilakukan secara daring di ruang zoom meeting. Dalam ruang virtual itu diikuti juga Alfina Hidayah, M. Phil (Sekprodi) dengan Dr. Raden Lukman Fauroni. S.Ag., M.Ag. (DPL PPL).

            Mahasiswa-mahasiswi itu bernama M. Fatkhur rahman, Abdul Wahid, Maulana Kurniawan, Berliana Iswari Cempaka, Ilvia Aulia Rahma, Ega Maya Naftalia yang ditempatkan di Cabang Klaten. Sedangkan Tiara Salsa Khorisma, Siti Maimunah dan Septi Qomariyah ditemptakan di Kaliboto Green Institute yang berada di Karanganyar.

            Khusus mahasiswa yang berada di cabang Klaten dengan koordinator Titik Susana Ristiawati memiliki fokus program konservasi yang terletak di desa Pagerjurang Keamatan Musuk Kabupaten Boyolali dan Mriyan Kecamatan Tamansari Kabupaten Boyolali. Di Pagerjurang, Maulana Kurniawan memiliki fokus pada kajian biogas, Ilvia Aulia Rahmah fokus pada rorak dan Ega Maya Naftalia fokus pada Green House. Sedangkan di Desa Mriyan, M. Fatkhur Rokhman memiliki fokus pada budidaya anggrek di dusun Gumuk, Berliana Iswari Cempaka fokus pada produksi kopi di Dusun Gumuk, dan Abdul Wahid fokus pada produksi teh di Dusun Kayulawang.

            Pada 8 September 2021 mahasiswa yang di tempatkan di cabang Klaten melakukan orientasi lapangan dengan didampingi oleh MuslimAfandi, S.Sos., M.Si selaku fasilitator. Mereka diperkenalkan beberapa program yang bekerja sama dengan LPTP dan orang-orang Desa Pagerjurang dan Mriyan yang mengelola program-program tersebut.

            Kemudian pada  9 sampai 14 September kegiatan difokuskan pada kajian Sustainable Livehood Approach (SLA) dengan mencari data-data seperti SDA, SDM, SDE, SDI, dan SDS yang berkaitan dengan desa Pagerjuang dan Mriyan. Kajian tersebut bertujuan untuk mempermudah mahasiswa mengolah data tentang kajian yang mereka fokuskan

.           Setelah itu di tanggal 17 dan 18 September mereka memploting Penampung Air Hujan (PAH) yang terletak di Dusun Kayulawang Desa Mriyan. Mereka memploting 15 rumah yang masih memiliki PAH dengan jumlah KK sebanyak 35 dan 87 jiwa. Dari hasil ploting tersebut terdapat 2 PAH yang rusak yang dimiliki oleh Suyoto dan Sardiyem, sedangkan yang lain masih dalam kondisi baik. PAH itu digunakan untuk kebutuhan mencuci dan ternak.

Mereka melakukan sesi pengamatan dan wawancara dengan Sudarsono selaku koordinator yang mengelola Green House dan pemilik biogas. Menurut Sudarsono Green House yang dikelola oleh BUMDES yang bekerja sama dengan LPTP tersebut berfungsi sebagai tempat untuk pembibitan dan sarana peningkatan taraf ekonomi masyarakat desa, sedangkan biogas sebagai pengganti dari tabung gas elpiji. Biogas itu di buat dengan menggunaka kotoran sapi baik feses maupun urin dengan ditampung di digester sebagai penampung feses dan urin sapi, sedangkan slurinya digunakan untuk pupuk tanaman. Sudarsono juga mengatakan bahwa semenjak ia menggunakan biogas untuk memasak dirinya tidak pernah membeli elpiji selama 10 tahun.   

Kemudian beralih ke Rusdiyono selaku koordinator pengelola rorak. Rorak berfungsi sebagai penjebak air hujan agar tidak langsung mengalir ke bawah, dengan kedalaman 0,5 M, panjang1,5 M dan lebar  0,5 M dapat menampung air hujan dengan curah tertentu. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan air tanaman ladang atau kebun.

Dari hasil wawancara yang dilakukan M. Fatkhur Rokhman dengan Joko selaku pengelola tanaman anggrek bahwa tanaman tersebut merupakan salah satu tanaman yang dimiliki dan sebagai hasil budidaya yang menjadi sumber pencaharian ekonomi masyarakat Dusub Gumuk Desa Mriyan.

Sedangkan teh piles merupakan teh yang diproduksi oleh komunitas sekar aji, produksi tersebut baru dimulai pada tahun 2020 dengan dikoordinatori oleh Jinu selaku ketua kelompok. Teh piles ini merupakan teh peninggalan dari jaman Belanda yang oleh warga awalnya untuk dikonsumsi sendiri. dinamakan teh piles karena menggunakan metode piles yang memiliki arti dikucek, teh ini juga memiliki kekhasan aroma sangit karena di sangrai. Teh peninggalan Belanda itu oleh  masyarakat Kayulawang disebut dengan krifik, namun hingga saat ini LPTP masih dalam tahap penelitian Laboratorium jenis teh apa dan memiliki kandungan apa teh Piles tersebut.

Setiap tempat yang kita tempati pasti memiliki sumber dayanya masing-masing. Desa Pagerjurang dan Mriyan merupakan salah dua desa yang memiliki cukup banyak sumberdaya. Oleh adanya sumber daya itu kita harus bersyukur dengan cara menggunakan sebaik mungkin dan menjaganya. Dengan menggunakan, memanfaatkan, dan menjaga sumber daya itu masyarakat mensyukuri rahmat dan nikmat-Nya. [MK/AW/MFR]

Produksi Teh Piles
Ilvia Aulia Rahmah sedang melakukan wawancara mengenai rorak bersama dengan Bapa Rusdiyono di Desa Pagerjurang

           

Mengecek kondisi PAH di Dusun Kayulawang Desa Mriyan

Wawancara mengenai biogas dengan Bapa Sudarsono di Desa Pagerjurang