AFI

Day: September 16, 2021

Dialektika Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Oleh: Ibnu Nurrohim

Sumber foto: https://www.google.com/amp/s/theconversation.com/amp/pentingnya-data-iptek-di-indonesia-bagaimana-meningkatkan-kualitas-dan-kebaruannya-104000

Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia tidak bisa terlepas akan peran suatu ilmu. Bahkan, praktik pola hidup manusia dari waktu ke waktu berjalan seirama dengan perkembangan ilmu itu sendiri. Manusia dan ilmu pengetahuan akhirnya menjadi dua entitas yang tak bisa saling dipisahkan. Selain itu, kemajuan dan perkembangan ilmu juga akan mengakibatkan manusia haus dengan ilmu, karena perkembangan akan selalu memberikan gairah baru bagi umat manusia. Semakin manusia mengerti, maka semakin pula ia mendalami.

Seiring berjalannya waktu, hegemoni ilmu dan pengetahuan telah sukses menghasilkan kemajuan signifikan di bidang teknologi. Adanya teknologi membuat manusia di era modern saat ini tentu akan sangat terbantu aktivitasnya. Kemajuan ilmu dan teknologi dari masa ke masa yang saling ‘kait-mengait’ ini, ibarat mata rantai yang tak terputus satu sama lain. Satu hal dengan hal lainnya dalam proses pemajuannya saling berhubungan. Kemajuan ilmu dan semakin canggihnya teknologi akan senantiasa bersinggungan.

Fakta di era pandemi sekarang ini, tak bisa dipungkiri bahwa teknologi benar-benar mengalami puncak eksistensinya, di mana baik dalam lingkup dunia pendidikan, ekonomi, maupun tata kelola pemerintahan, semuanya menggunakan teknologi sebagai medium paling efektif untuk menjalankan aktivitasnya dalam pekerjaan. Termasuk dalam mekanisme dunia pendidikan.

Tetapi di samping positifnya teknologi dengan segala kemudahan yang ditawarkan, juga memiliki dampak negatif bagi manusia. Meski aktivitas manusia terbantu, tetapi sadarkah kita bahwa teknologi juga memiliki efek candu bagi para pengguna. Candu di sini dalam artian bahwa manusia ketika ia sekali saja telah menggunakan teknologi tersebut, maka ia akan selalu mengkonsumsinya setiap hari, seperti halnya obat ketika ia dikonsumsi terus maka ia mempunyai resiko terhadap organ manusia, terutama dalam wilayah syaraf psikologis manusia (dopamin). Tak beda halnya dengan teknologi, sifat teknologi terkhusus handphone dan sejenisnya ia memiliki radiasi yang akan menggerogoti otak manusia.

Tak hanya itu saja, pastilah di setiap kehidupan manusia terutama di era modernisasi semua orang akan menggunakan media sosial dengan adanya itu kerap banyak orang mengalami depresi dikarenakan pengaruh media sosial. Seperti ketika banyak kabar hoaks tersebar di media sosial.

Teknologi Informasi dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan

Pengaruh dan peranan teknologi terhadap individu maupun kelompok telah menimbulkan berbagai perubahan dalam aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun perubahan yang berhubungan dengan media terhadap masyarakat, tetapi dengan adanya teknologi dapat mempermudah penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan secara universal.

Pada tahun 1937 seorang insinyur dari Amerika bernama Howard Aiken, merancang IBM Mark 7 yang merupakan nenek moyang dari komputer mainframe pada masa kini. Komputer tersebut dahulu hanya menggunakan tabung vakum dan elektromekanik dan bukan tombol-tombol elektronis. Komputer pertama yang sukses secara komersial adalah UNIVAC. Komputer yang dirancang oleh Eckert dan Mauchly yang diperkenalkan pada tahun 1951. Kemudian teknologi komputer, termasuk perangkat komunikasi semakin lama semakin berkembang sampai saat ini.

Komputer juga telah mengubah peradaban barat modern secara drastis sejak tahun 80-an. Pada awalnya komputer hanya sebagai “otak elektronis’’ yang mampu melakukan bermacam-macam kegiatan dengan tingkat kesulitan berbeda-beda. Komputer juga telah memasuki wilayah komunikasi interaktif dalam bentuk internet, penggunaan internet ini berawal dari adanya kebutuhan militer pada masa perang dingin sekitar tahun 1969 di mana Departemen Pertahanan Amerika Serikat membutuhkan sebuah jaringan untuk menghubungkan semua komputer untuk mengantisipasi adanya serangan nuklir.

Namun, di saat perkembangan selanjutnya banyak dari universitas bergabung, sehingga dilakukan pengklasifikasian dua bagian yaitu untuk sistem para militer dan non militer, kemudian keduanya digabungkan dan awalnya disebut DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency) internet dan kemudian setelah berkembang akhirnya dikenal sebagai internet saja. Kemudian internet pun dikembangkan hingga saat ini dengan berbagai perlengkapan dan fasilitasnya yang terdapat di dalamnya.

Dengan adanya perkembangan teknologi tersebut ilmu pengetahuan pun mulai menemukan penemuan penemuan baru, terutama dalam dunia sains, berkat bantuan teknologi yang sebenarnya hasil ciptaan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ini menarik, di satu sisi ilmu pengetahuan menciptakan teknologi sedangkan di sisi lain teknologi itulah yang membuat ilmu pengetahuan berkembang pesat.

Jika melihat perkembangan ilmu yang semakin pesat dengan melihat temuan para ilmuwan sains di dalam berbagai bidang salah satu contoh dalam bidang partikel elementer. Di mana pada abad ke-5 sebelum masehi, Democritus, filosof Yunani telah menemukan bahwa semua jenis materi dapat dipecah menjadi partikel yang kecil yang disebut sebagai “atom”. “Atom” adalah sebuah kata dari Yunani yang memiliki arti ‘tidak dapat terbagi’ .

Perkembangan ilmu pun semakin maju dan beberapa percobaan dilakukan kemudian teori teori baru mulai bermunculan untuk menguatkan bahwasanya atom adalah partikel paling kecil, tetapi pada faktanya ditemukan bahwa atom bukanlah partikel paling kecil. Dalam atom masih terdapat sejumlah partikel dasar atau yang lebih kecil yaitu elektron, proton, dan neutron. Bila ingin melihat lebih jauh lagi, maka sekarang ditemukan pula yaitu quark sebagai bagian dari proton dan neutron sehingga saat ini yang disebut sebagai partikel elementer adalah  quark  dan  elektron.

Dengan ditemukannya partikel lebih kecil dari atom tersebut adalah salah satu contoh bagaimana teknologi membantu untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, sebenarnya, teknologi yang membantu berkembangnya ilmu ataukah ilmu pengetahuan yang membantu agar teknologi maju dengan pesat? Atau ada sintesa lain? Mari kita pikirkan bersama-sama. []

Post Truth : (Dis)Informasi Di Masa Pandemi

Oleh: Abdul Wahid

Sumber foto: https://www.suaramerdeka.com/nasional/pr-04386927/lawan-hoaks-di-tengah-pandemi-kominfo-medsos-sumber-disinformasi?page=all

Sekarang menimbang fakta seakan menimbang sesuatu yang nihil. Pun jika mencarinya kita dituntut untuk menyelam ke dasar lautan informasi. Informasi yang dilahap dengan emosi melahirkan kejumudan dan kekerdilan. Informasi menenggalamkan manusia. Siapa pun yang tidak mau belajar berenang akan mati (kehendaknya) olehnya  diarahkan untuk kepentingan – kepentingan terselubung.

Saat ini, informasi datang dan pergi silih berganti, benar dan salah tergantung emosi, fanatisme mengarahkan kebenaran golongan, menyalahkan liyan. Benar dan salah tak mempunyai demarkasi yang jelas. Abu-abu. Hanya emosi golongan dan liyan yang ditonjolkan. Hanya aku dan bukan aku, kita dan mereka.

Fitnah, ujaran kebencian, hoax, kebohongan, hasutan berseliweran di kehidupan kita. Lewat teknologi dan media yang sekarang mudah diakses membuatnya mudah dikonsumsi secara mentah. Kementahan itu yang mengakibatkan racun (informasi) diserap otak membuka pintu emosi (nafsu) dan menggerak tindak.

Kita ingat di tahun 2016 ketika Donald Trump memenangi pemilihan presiden. Ia membuat disinformasi yang masif dan terus menerus diulang. Teknik agitasi ini terbukti ampuh. Di tahun yang sama pula kata Post Truth dalam kamus Oxford menjadi kata yang paling populer.

Kata Post Truth pertama kali dicetuskan oleh Steve Tesich pada tahun 1992. Kemudian Ralph keyes dengan komedian Stephen Colber pada 2002 kurang lebih sama mencetuskan kata truthines yang mengacu pada “sesuatu yang dianggap benar, padahal tidak sama sekali”.

Kamus Oxford mendefinisikan kata Post Truth dengan “kondisi dimana fakta tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini individu atau masyarakat ketimbang emosi dan keyakinan”. Tak pelak hoax yang tak lain merupakan disinformasi menurut Haryatmoko SJ sebagai anak kandung dari Post Truth. (Irwan Julianto, Kompas, 28 Juni 2021).

Tidak salah juga kita menamai jaman yang “banjir” informasi (dan disinformasi) ini dengan jaman Post Truth. Jaman dimana informasi yang salah atau disinformasi yang terus menerus diulang bisa menjadi benar mempengaruhi bawah sadar. Kebenaran pada jaman yang disebut Post Truth ini terlampaui atau bisa disebut pasca-kebenaran sehingga yang ada hanya ngapusi semata.

Disinformasi yang deras mengalir dan dengan mudah didapat melalui tekonologi dan media ini menjadikan kita terombang-ambing. Orang – orang yang terbawa arus akan mudah sentimen dan menambah disinformasi yang lain sehingga menambah kekeruhan.

Disinformasi dan Pandemi

Saat ini dunia sedang dilanda pandemi akibat covid – 19. Informasi mengalir deras. Di Indonesia sendiri masih banyak yang menyangkal virus ini. Akibatnya hingga saat ini klaster penularan di Indonesia terbilang masih cukup banyak. Parahnya banyak disinformasi yang ditelan oleh kita mengakibatkan penanganannya sulit.

Kita dibuat bingung dan panik. Pandemi yang di barengi disinformasi mengakibatkan fakta akan kebenaran kabur, keruh dan terkubur. Kita dibuat jeri, percaya dan tidak percaya akan covid – 19 ini bercampur baur meninggalkan keruetan.

Saat ini disinformasi yang masif meriap dan dengan frekuaensi yang tinggi menyebabkan bahaya pandemi terkalahkan oleh bahaya disinformasi. Selain harus menghadapi ancaman pandemi, kita dihadapkan dengan ancaman kejiwaan kita yang mulai tidak tenang dan kedegilan tersebab disinformasi.

Ketika vaksin sudah ada dan vaksinasi mulai digaungkan, kita masih dibingungkan dengan keamanannya. Jean Couteau dalam Kompas 27 Juni dan 18 Juli 2021 mendedarkan bagaimana pentingnya vaksinasi. Tulisannya yang berjudul “Tangkislah Serangan Covid” dan “Dapatkah Vaksinasi Seperti Dua Ratus Tahun Lalu” ini secara persuasif mengajak kita untuk melakukan vaksinasi.

Pada tulisannya yang pertama, ia secara metafor menggambarkan pentingnya vaksin. Dan di tulisannya yang kedua, ia membandingkan wabah cacar yang terjadi pada dua ratus tahun lalu dengan pandemi yang sekarang. Pada tulisannya yang kedua ini, Jean Couteau membawa keluh akibat masih banyak orang indonesia yang takut vaksin.

Di era pandemi ini, informasi yang kredibel sangat dibutuhkan. Tetapi laiknya mata uang yang memiliki sisi baik dan buruk, informasi yang deras akan membaurkan fakta yang benar dan salah. Oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mudah menyebarkan hoax (disinformasi) secara mudah. Saat ini kita dihadapkan dengan Pandemi dan disinformasi.

Menyaring Informasi Dengan Logika

Saat ini kita mengahdapi lawan pandemi dan disinformasi. Informasi yang semakin deras ini mengakibatkan kita jadi linglung dan bingung. Adanya media elektronik yang semakin masif menjadikan hoax atau kidzib (disinformasi) mudah meriap dan terdisrupsinya informasi yang kredibel.

Dalam Islam pun disinformasi atau kidzib merupakan perbuatan yang nista. Kidzib merupakan lawan dari Siddiq yang merupakan sifat wajib yang dimiliki Rasulullah. Maka dari itu kita sebagai umat islam mengharuskan mempercayai yang haq (benar) secara mutlak.

Ibnu Sina mengatakan bahwa kebenaran hakiki itu harus dibuktikan pada sesuatu wujud (yang ada) melalui kebenaran wahyu dan akal (logika). Maka kita dituntut untuk berhati – hati terhadap informasi yang kita dapat. Tidak secara mentah ditelan.

Dengan logika kita dituntut untuk menyaring informasi yang kita dapat. Berpikir secara jernih dan tidak tergesa-gesa membuat kita lebih bisa untuk membedakan informasi yang benar dan salah.

Peran emosi dalam menanggapi sebuah informasi sebaiknya  tidak dijadikan sebagai titik pijak. Karena disinformasi memainkan emosi sehingga menciptakan ilusi. Ilusi ini akan menghalangi logika bekerja dengan baik. Sehingga kecermatan kita untuk memahami informasi jadi tidak keruan.

Orang – orang yang tidak menggunakan logikanya saat mendapat informasi akan dibawa pada waham dan delusi yang tidak berdasar. Membuat pandemi dan disinformasi semakin ruet tertangani. Tenggalam dalam banjir informasi dan mengambang hanyut terbawa olehnya.

Logika harus menjadi penyelamat kita menghadapi pandemi dan disinformasi ini. Kita harus bisa melampaui Post Truth atau yang menurut Haryatmoko SJ disebut dengan “Post “-Post Truth atau “Pasca” – Pasca kebenaran. Hal ini tidak menjadi utopis belaka jika kita bisa menggunakan logika untuk menyaring (dis)informasi yang kita dapat.

Orang – orang yang mengesampingkan logika dan menggunakan emosi dalam menyikapi informasi akan mudah terhasut dan terpedaya dengan ilusi dan delusi. Sehingga informasi–yang belum tentu benarnya–ditelan mentah dan dipercaya saja. []