AFI

Day: July 13, 2021

Mengulas Kembali Pengaruh Filsafat Yunani pada Filsafat Islam

Oleh: Fahmillya Kartika Kusuma Ningrum

Sumber foto: https://indolah.com/inilah-7-ibukota-dengan-desain-arsitektur-paling-indah-di-dunia/

Tokoh filsafat Islam,  Al-kindi pada mulanya sangat susah memperkenalkan tradisi filsafat Yunani ke dalam dunia Islam, karena filosof Yunani bukanlah orang yang memeluk agama Islam. Dalam peradaban manusia, jarang ditemukan suatu kebudayaan asing yang dapat diterima oleh kebudayaan lain, yang kemudian dijadikan landasan pemahaman filosofis. Beberapa orang mengkritik barat tetapi sebenarnya mereka mengikuti gaya barat, cara berpikirnya pun bermodel barat, dan paradigma yang dipakai juga dari barat.

Pada dasarnya, tidak mencela orang yang telah memberi manfaat besar adalah suatu kewajiban. Meskipun para filsuf Yunani tidak berhasil mencapai sebagian kebenaran, mereka adalah orang yang memberikan buah pemikiran bagi manusia setelahnya. Sehingga menjadi jalan dan alat untuk mengetahui banyak hal yang belum dicapai. Masuknya Filsafat Yunani dalam Islam beserta dengan pemikirannya telah membangkitkan umat Islam untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam.

Beberapa ulama menyatakan bahaya filsafat Yunani, filsafat ini terbagi menjadi dua yakni filsafat dunia, seperti sosiologi, fisika, kimia, yang menjadi bahan pemikiran karena objeknya dapat dilihat maka ilmu ini pun diperbolehkan. Namun yang menjadi masalah adalah teologi, yang dianggap berbahaya karena dikhawatirkan jika pemikiran filsafat Yunani ini dianggap benar dan pemikiran tersebut dijadikan pegangan untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah.

Namun di samping itu, pandangan yang lebih moderat dikemukakan oleh Imam Ghozali, beliau mengatakan ilmu filsafat perlu untuk dipelajari, akan tetapi orang yang mempelajari ilmu filsafat haruslah orang yang memiliki kecerdasan yang memadai dan telah memiliki pemahaman yang cukup mengenai Al-Qur’an dan sunah nabi Muhammad SAW. (Ari Satria, 2019:08)

Periode filsafat Yunani adalah sebuah periode yang sangat penting dalam sejarah peradaban manusia, di mana pada mulanya manusia berpikir mengandalkan mitos berubah menjadi logos, yaitu melandaskan pemikiran mereka pada logika yang rasional untuk menjelaskan fenomena alam yang terjadi pada masa itu. Perubahan ini mejadikan  pengenalan bagi filsafat itu sendiri, karena pada dasarnya filsafat adalah ‘cinta akan kebenaran’. Jadi, manusia mulai menggunakan daya berpikir mereka untuk membedakan mana yang benar-benar asli dan mana yang hanya tipu daya.

Pengalihan Filsafat Yunani ke dunia Islam pada dasarnya terdapat upaya rekonsiliasi, bahkan ada persentuhan ekstrim antara pandangan filsafat Yunani seperti filsafat Plato dan Aristoteles, dengan pandangan Islam sering terdapat benturan. Sebagai contoh dapat disebutkan bahwa Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh besar pada mazhab-mazhab Islam, khususnya mazhab eklektisisme. Dalam hal ini, filosof Muslim, yakni Al-Farabi memiliki sikap yang jelas karena ia percaya pada kesatuan filsafat dan bahwa tokoh-tokoh filsafat harus sepakat selagi tujuannya adalah kebenaran.

Lahirnya filsafat Islam tidak lain disebabkan karena aktivitas penerjemahan buku-buku filsafat Yunani sejak masa klasik islam. Menurut C.A. Qadir, proses penerjemahan dan penafsiran buku-buku Yunani di negeri-negeri Arab dimulai jauh sebelum lahirnya agama Islam dan penaklukan Timur oleh bangsa Arab pada tahun 641 M. Jauh sebelum umat Islam dapat menaklukkan daerah-daerah di Timur dekat, pada saat itu Suriah merupakan tempat bertemunya Romawi dan Persia. Atas dasar itu, maka bangsa Suriah disebut memiliki peranan penting dalam penyebaran kebudayaan Yunani ke Timur dan Barat. Di kalangan umat Kristen Suriah, ilmu pengetahuan Yunani dipelajari dan disebarluaskan melalui sekolah-sekolah. (Basari, 2002).

Kegiatan penerjemahan ini disertai pula dengan uraian dan penjelasan seperlunya. Para cendikiawan ketika itu berusaha memasukkan Filsafat Yunani sebagai bagian dari metodologi dalam menjelaskan Islam, terutama akidah untuk melihat perlunya penyesuaian antara wahyu dan akal.

Tentu saja, aktifitas para filosof di atas bersentuhan dengan penafsiran Al-Qur’an. Bahkan, kecenderungan menafsirkan Al-Qur’an secara filosofis besar sekali. Al-Kindi misalnya, yang dikenal sebagai Bapak Filosof Arab dan Muslim, berpendapat bahwa untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, isinya harus ditafsirkan secara rasional, bahkan filosofis. Al-Kindi berpendapat bahwa Al-Qur’an mengandung ayat-ayat yang mengajak manusia untuk merenungkan peristiwa-peristiwa alam dan menyingkapkan makna yang lebih dalam di balik terbit-tenggelamnya matahari, berkembang-menyusutnya bulan, pasang-surutnya air laut dan seterusnya. Ajakan ini merupakan seruan untuk berfilsafat.

Di dalam sejarah, ditunjukkan bahwa lahirnya filsafat Islam tidak dapat dipisahkan dari rantai transmisi filsafat Yunani. Yang meninggalkan beberapa kesan pada sebagian besar sarjana barat bahwa filsafat Islam hanyalah filsafat Yunani yang menyalurkan unsur penting tertentu warisan zaman kuno barat abad pertengahan.

Filsafat Yunani sangat berpengaruh dalam lahirnya filsafat Islam, perlu kita ketahui bahwa filsafat Islam ini terbagi menjadi 2, yaitu corak filsafat yang benar-benar mengembangkan filsafat Yunani dengan sedikit perubahan pada pemikirannya,  dengan tokoh terkenalnya al-Farabi dan Ibnu Sina. Yang kedua yaitu corak filsafat yang mengarah pada pembahasan kalam, yang berhubungan dengan metafisika, dalam hal ini filsafat Islam yang termasuk di dalamnya adalah Al-Mu’tazilah, Ajarniyah, dan Al-Asyairah.

Ibn Rusyd menyatakan bahwa tujuan dasar filsafat adalah memperoleh pengetahuan yang benar dan berbuat benar. Dalam hal ini filsafat sesuai dengan agama, sebab tujuan agama pun tidak lain adalah menjamin pengetahuan yang benar bagi umat manusia dan menunjukkan jalan yang benar bagi kehidupan yang praktis. (Dar al-Mairrif, 1972)

Itulah sebabnya, Nurcholis Madjid menyatakan bahwa sumber dan pangkal tolak filsafat dalam Islam adalah ajaran Islam sendiri, sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Meskipun mempunyai dasar yang kokoh dalam sumber-sumber ajaran Islam sendiri, filsafat banyak mengandung unsur-unsur dari luar, terutama hellenisme atau dunia pemikiran Yunani. Terlihat jelas bahwa di satu sisi, filsafat Islam berkembang setelah umat Islam memiliki hubungan interaksi dengan filsafat Yunani.

Masuknya filsafat Yunani dalam Islam serta pemikirannya membangkitkan umat Islam untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, serta menumbuhkan gairah umat untuk mempelajari ilmu pengetahuan alam dan filsafat. Banyak pemikiran filsafat Islam terpengaruh filsafat Yunani, meskipun demikian bahwa berguru bukan berarti mengekor atau mengutip. Jadi, alur telaahnya ialah amati, tiru, dan modifikasi. Filsafat Islam haruslah sesuai dengan prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam itu sendiri.

Sedikit banyak filsafat Yunani sudah mengajari banyak hal. Orang yang anti filsafat berarti anti kebenaran, dan jika anti kebenaran maka dia kafir. Pada hakikatnya, dalam keadaan apapun orang tidak dapat menolak filsafat. Jika menerima filsafat, ia juga harus berfilsafat untuk membuat argumen tentang kebenaran diri. Argumen tersebut termasuk dalam filsafat, yakni ilmu tentang hakikat dari sesuatu. Kaitannya dengan masa sekarang, di mana kebanyakan orang lebih senang melakukan hal-hal yang bermanfaat dan tujuannya lebih logis, mereka lebih senang berpikir secara logis, dan bertindak secara logis. Maka filsafat Yunani menjadi tolak ukur yang penting untuk dipelajari, utamanya bagi orang-orang yang sudah memimpin dalam bidang agama. Jadi, filsafat Yunani tidak dapat dipisahkan dari filsafat Islam.

Pengaruh terbesar yang diterima umat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat, menurut Ahmad Amin, adalah dari Yunani. Karena kontak umat Islam dengan peradaban Yunani bersamaan waktunya dengan penulisan ilmu-ilmu Islam. Logika Yunani mempunyai pengaruh besar pada alam pemikiran Islam saat itu. []

Muslimah Menyongsong Masa Depan

Oleh: Hamzah Syaifulloh

Sumber foto: https://amp.kompas.com/internasional/read/2021/03/18/012626070/perempuan-berdaya-7-legenda-wanita-bersejarah-dalam-islam

Masalah perempuan, apa yang ada pada benak kalian tentang “perempuan” makhluk yang egois kah atau bahkan  makhluk yang super sensitif, ya terkadang kebanyakan orang pun berfikir demikian, namun tak semua perempuan memiliki sifat yang sama dan bahkan mungkin cenderung terbalik dari apa yang  kita fikirkan. Kaitanya dengan perempuan, tak lepas dari isu kesetaraan gender, bagaimana perempuan seolah–olah tak mampu menuangkan segala bentuk aspirasinya, tak mampu mengasah skilnya, tak mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya, tak mampu berkarya, serta tak mampuan yang lainya.

Berbagai gerakan demi gerakan yang dilakukan demi terciptanya sebuah kesetaraan tanpa memandang rendah kaum perempuan guna membuka mata dunia bahwa perempuan juga manusia yang  diciptaan tuhan dan berhak memperoleh kehidupan yang baik bahkan layak. Dibelahan dunia bahkan, perempuan mempunyai cerita yang sangat memilukan, bagaimana perempuan masih saja menjadi sebuah alat atau bahkan menjadi sebuah permainan bagi kaum lainnya dan mungkin hingga hari ini.

Dipanggung peradaban yang mempunyai banyak cerita dibalik keanggunannya, menyimpan banyak kisah menyedihkan bagaimana zaman dahulu perempuan dijajah dengan semena–mena seakan perempuan berada dalam kasta paling rendah sehingga bisa diperlakukan sedemikian, bahkan di negeri kita sendiri nasib perempuan zaman dahulu bisa dibilang nahas, ambil contoh pada suku Jawa di zaman penjajahan, dahulu masyarakat di Jawa khusunya kaum perempuan seolah tidak diperbolehkan memiliki wawasan ilmu yang luas, dan wawasan yang mestinya dimiliki oleh kaum perempuan Jawa adalah 3M (masak, macak, manak). Namun pada akhirnya muncul sosok perempuan pembela perempuan lainya yaitu R.A Kartini .

Menjadi Khadijah atau Kartini zaman Now, sanggupkah?

            Pada Era di mana islam belum datang masyarkat Arab jahiliah memperlakukan perempuan dengan sangat keji, di mana perempuan hanya menjadi pemuas syahwat dan bahkan bayi – bayi perempuan yang tak berdosa dibunuh hidup – hidup. Sampai pada akhirnya datang ajaran islam yang dibawakan Nabi Muhammad SAW sehingga membawa angin segar bagi kehidupan kaum perempuan Arab. dalam ajaran islam sendiri kaum perempuan mempunyai kedudukan yang sama dengan kaum laki – laki dan bahkan dalam kitab suci Al – Quran menghapus diskriminasi antara kaum laki – laki dan perempuan.

            Khadijah binti Khawailid sosok perempuan pertama Assabiqunal awwalun dan merupakan istri pertama Rasulullah, dia rela berkorban harta, tenaga bahkan nyawa demi menyiarkan Agama Islam, serta merupakan sosok perempuan pemberani bahkan mengalahkan keberanian seorang laki – laki, sampai Rasulullah  menyatakan bahwa Khadijah merupakan perempuan pertama yang masuk surga dan sebagi prempuan ahli surga.

Raden Adjeng Kartini seorang perempuan kelahiran jepara 21 April 1879, merupakan pahlawan emansipsi pribumi. Perjungan serta kerja keras yang tak kenal lelah untuk menyuarakan hak perempuan, dimana perempuan harus memperoleh kebebasan dikehidupan dan bahkan kebebasan hukum. Sampai pada akhirnya R. A Kartini ditetapkan sebagai pahlawan nasional Era Presiden Soekarno, dan pada setiap tanggal 21 April ditetapkan sebagai Hari Kartini guna untuk mengenang jasanya.

Lalu sebagai perempuan zaman Now yang hidup di Era Modern, bagaimana seharusnya perempuan zaman sekarang bisa melanjutkan estafet perjuangan para pahlawan wanita dahulu, mungkin salah satunya dengan menggunakan haknya secara baik, berkarya sesuai bidang, meperbanyak wawasan keilmuan, serta melatih skil yang dipunya.

Tantangan perempuan masa kini

            Sebagai perempuan yang hidup pada zaman modern tentunya banyak sekali tantangan yang harus dihadapi, apalagi teknologi yang semakin berkembang membuat perempuan harus cakap dan cerdas dalam berbagai aspek. Tak hanya itu perempuan juga dituntut punya kemapuan yang menonjol jka tak ingin tertinggal oleh lainnya.

            Selain itu perempuan masa kini sebisa mungkin menimba ilmu dengan setinggi – tingginya, berbeda dengan orang zaman dahulu dimana pendidikan sangat tidak memungkinkan dan bahkan hanya bisa diambil oleh kalangan tertentu, zaman sekarang semua perempuan bisa mengenyam pendidikan dengan tinggi tanpa ada halangan siapapun  dan dapat memilih sekolah dimanapun.

            Selanjutnya perempuan masa kini harus bisa merawat keluarga dengan baik. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa disaat seorang perempuan sudah berkeluarga mereka dituntut untuk merawat keluarga akan tetapi perempuan juga bisa berkarir tergantung bagaimana keadaannya, para perempuan karir sebisa mungkin menyeimbangkan waktu antara karir dan keluarga dimana di dalam keluarga ada anak yang perlu diasuh dan di didik serta ada suami yang perlu disayangi. Disini perempuan di tuntut tak hanya kerja keras namun juga kerja cerdas.

            Setelah mengetahui berbagai kisah kelam yang dialami perempuan kita dapat simpulkan bahwa menghargai hak dan kewajiban itu sangat penting dan sebisa mungkin ditanamkan sejak dini. Berbagai upaya yang dilakukan demi terciptanya sebuah kesetaraan gender untuk lebih menghargai  kaum prempuan membuktikan bahwa perempuan mempunyai hak yang setara dengan laki – laki. Memang tak dapat dipungkiri bahwa perempuan diciptaka dengan fisik tak lebih kuat dari laki – laki maka dari itu kewajiban kaum laki – laki mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan, namun perempuan  memliki hati yang lembut dan sifat yang penyabar untuk mengurus keluarga, mendidik anak dll. Yang dapat kita ketahui bahwa keluarga adalah unitkecil dalam proses sosial yang dapat mempengaruhi kemajuan masyarakat itu semdri.

            Sudah semestinya perempuan masa kini lebih objektif dalam memahami kodratnya, kemudian yang perlu digaris bawahi disini bagaimana perempuan menggunakan haknya dengan semestinya. Bagaimana dia bisa berkarya menuangkan aspirasi – aspirasinya dan sebisa mungin dapat bermanfaat bagi keluarga, Negara dan agama. Untuk maju atau mundurnya perdaban manusia bergantung pada diri kita sendiri sebagai penggeraknya. []

Merengkuh Nikmat Sholat

Resensi Buku

Oleh: Abdul Wahid

Sumber foto: https://mizanstore.com/buat_apa_shalat_ed_70363

Judul Buku : Buat Apa Sholat? Menggali Makna Batin, Mereguk Ajaran Para Sufi

Penulis       : Haidar Bagir

Penerbit     : Penerbit Mizan

Cetakan      : Edisi ketiga, Cetakan ke-I

Tebal          : 284 halaman

ISBN           : 978-602-441-208-1

Sholat merupakan rukun Islam yang kedua sesudah dua kalimat syahadat. Ini menandakan pentingnya sholat bagi mukmin dan muslim, karena setelah kita beriman dan bersyahadat jika kita tidak menjalankan sholat, maka akan sia-sia iman dan islam kita. Sebagaimana Hadits Nabi :

“Iman itu dipercaya dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan (H.R. Ibnu Majjah)”.

Perintah sholat juga terdapat dalam firman Allah SWT dalam Surat Al-Ankabut, ayat 45: “Bacalah kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah sholat. Susunggunya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar. Dan ketahuilah mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S Al-Ankabut :45).

Dalam firman Allah SWT tersebut, selain perintah sholat, juga disebutkan bahwa sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, apabila dilakukan dengan sebenarnya sholat serta keutamaanya melebihi ibadah yang lain. Jadi secara logis, orang yang melakukan sholat tetapi masih berbuat keji dan munkar, berarti orang itu tidak menjalakan sholat dengan benar. Inilah problem yang banyak terjadi. Karena orang yang melakukan sholat dengan benar harus didahului dengan iman yang benar dan orang yang beriman dengan benar akan berusaha menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Walakin, masih banyak orang yang sholat hanya untuk menggugurkan kewajiban tanpa tahu dan tak mau tahu tentang makna dan keutamaanya. Buku Haidar Bagir ini mencoba mengulik makna batin dan keutamaan sholat lewat cercahan ajaran sufi serta menambah bagi kita yang tak tahu dan belum tahu tentang kemantapan dan kenikmatan dari sholat.

Dan, buku ini juga menyuratkan kritik terhadap kesalah-kaprahan tentang tasawuf, yang menyatakan iman tetapi meninggalkan sholat dengan alasan bahwa ketika sudah mencapai hakikat, maka ritual-ritual tidak perlu bahkan tidak boleh dilakukan karena dianggap ritual hanya sebatas bentuk fisik belaka.

Dalam pengantarnya M. Quraish Shihab mengurai makna sholat. Yaitu do’a, permohonan dari yang rendah ke yang tinggi, amr (perintah)-permintaan yang tinggi ke yang rendah sedangkan permintaan di antara pihak yang setara disebut iltimas (hal, 15).

Sholat adalah do’a, makna ini menandakan sungguh betapa kecil dan hina dinanya kita, yang patut selalu merefleksi dan introspeksi diri. Tanpa kegagahan, tanpa kekuatan-Nya, yang ada hanya ketakberdayaan kita dihadapan-Nya.

Bagian awal buku ini membabarkan ruh sholat yang dapat kita petik dan ambil hikmahnya. Mulai dari syarat dan rukunnya. Seperti misalnya, sholat bisa menambah kreatifitas, efektifitas kerja dan pencerahan.

Orang yang sholat dengan benar, tidak akan sombong dan merendahkan orang lain bahkan dalam pikiran sekalipun. Haidar Bagir mengambil contoh dari kisah Imam Shodiq. Ketika A’bid (orang yang taat beribadah) dan Fasiq (orang yang selalu berbuat keburukan) masuk masjid  dan melakukan sholat, mereka keluar menjadi terbalik.

Ternyata, ketika Fasik masuk masjid dan melihat A’bid, hatinya hancur, sebaliknya, ketika A’bid melihat Fasiq, Ia malah bergumam dalam hati tentang si Fasiq yang memasuki masjid, yang menurutnya milik orang mukmin (hal, 55).

Dalam sholat kerendahdirian pun itu diaplikasikan. Ini penting untuk mengendalikan ego yang dapat merusak diri sendiri ataupun hubungan dengan orang lain. Maka dari itu orang yang sholat tidak akan merusak hubunganya dengan orang lain.

Juga, manusia memiliki empat nafsu, yaitu amarah, lawwamah, sufiyyah yang ketiganya itu memiliki dampak negatif jika tidak diminimalisir oleh sifat yang keempat yaitu muthma’innah, yang ternyata memiliki akar kata yang sama dengan thuma’ninah.

Thuma’ninah merupakan salah satu rukun sholat yaitu berdiam sejenak. Diam di sini berarti tenang serta fokus. Maka sholat dengan thuma’ninah bisa menjadi latihan dan sarana guna meningkatkan jiwa kita sehingga mencapai derajat jiwa yang tenang (hal, 73).

Di bagian kedua, kita diajak merangsek ke dalam, untuk menghayati, menggali makna batin dari cercahan ajaran sufi. Kita akan merasakan nikmat serta hikmah dari cercahan ajarannya.

Di sini Haidar Bagir mengambil cercahan ajaran atau kitab yang telah ditulis oleh para Sufi. Pemaknaan sholat masuk lebih dalam keranah batin, seakan, kita pembaca diajak untuk menggalinya.

Bagi orang yang tak tahu dan belum tahu, seruan keutamaan dan hikmah dari sholat yang sebenarnya bisa kita ambil, baik di dunia maupum di akhirat, sangatlah penting. Penulis atau mungkin kita, pernah mendengar kalimat “jika keutamaan dan hikmah sholat dapat dilihat maka tidak akan ada orang yang meninggalkanya”.

Kalimat itu seakan petunjuk. Walakin, masih banyak orang yang mengabaikan, seakan kalimat itu hanya gurauan belaka. Kalimat itu sebenarnya mengajak kita untuk mencari, menggali, dan merengkuhnya.

Pernyataan-pernyataan para Sufi dalam buku ini dapat kita petik dan gali, melalui penghayatan guna meningkatkan kualitas sholat kita.

Seperti misalnya, Jalaluddin Rumi, ia mengatakan bahwa sholat adalah simbol seluruh kehidupan seseorang. Lewat sholat, kita mendapatkan cahaya petunjuk yang akan membimbing kehidupan kita. Sholat juga merupakan percakapan paling dalam dan mesra antara pecinta dan yang dicinta (hal, 104).

Rumi memaknai sholat sebagai simbol hidup seseorang, seakan tanpa sholat orang itu tak eksis. Lebih dalam, Rumi juga mengungkap bahwa sholat adalah percakapan mesra antara pecinta dan yang dicinta.

Bukan hanya Rumi, dalam buku ini  terdapat penghayatan-penghayatan dari Sufi dan Filsuf lain, seperti Al-Hujwiri, Ibn ‘Arabi, Imam Sya’rani, Imam Al-Ghazali, Abu Tholib Al-Makki, Ibn Al-Qayim Al-Jawziyah, Syah Waliyullah Al-Dihlawi, Ibn Sina, Ayatullah Khomaeni, Muhammad Iqbal, dan Murtadha Muthahhari.

Penghayatan mereka tentang sholat dapat kita petik dan dijadikan pelajaran. Semoga kita dapat terus meningkatan kualitas sholat kita, bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban, melainkan dapat merengkuh nikmat, keutamaan dan hikmahnya.

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku (QS. Ibrahim 40)”.

Wallahu a’lam bisshowaab. []