AFI

Day: July 8, 2021

Matinya Filsafat Modern

Oleh: Satrio Dwi Haryono

Sumber foto: https://pixabay.com/photos/books-shelves-door-entrance-1655783/

Seperti ungkapan para sejarawan bahwasanya perubahan zaman pasti disyaratkan dengan proses dialektika. Suatu zaman pasti memimpikan suatu tatanan kehidupan yang lebih baik dibanding zaman yang telah dilalui. Akan tetapi, suatu zaman akan mati dengan sendirinya atas kebudayaan dan peradabannya yang saling berdialektika setiap waktunya.

Bangsa Yunani ketika belum mengenal pemikiran logis masih bergumul dengan dewa-dewa dengan kata lain masih erat kaitanya dengan mitologi atau mitos. Lalu ketika tersebarnya ilmu pengetahuan yang berpusat di Mesir dan Mesopotamia yang dapat merangsang para pemikir untuk menanyakan ulang mitologi tersebut. Lahirlah berbagai pemikiran yang ingin mengetahui rahasia alam semesta tanpa campur tangan dewa-dewa. Munculah Thales dan para filosof lainya yang berusaha mengungkap hakikat alam semesta.

Ketika pemikiran kritis dikenal berbagai kalangan pada masyarakat Yunani terdoronglah kesadaran pendidikan yang dipelopori oleh “Kaum Sofis”. Dengan kehadiran kaum sofis munculah kejahatan intelektual yang beranggapan bahwa para Sofis adalah orang yang suka berbohong, suka menipu, pandai menggunakan argumen yang tidak sah, mengajar untuk mendapatkan uang, dan menjual kebijaksanaannya.

Lalu munculah Socrates sebagai antitesis dari kaum sofis yang berusaha mendobrak kejahatan intelektual yang dilakukan Kaum Sofis. Poros kajianya pun melebar pada manusia. Socrates juga mengilhami pemikiran muridnya, yakni Plato, terutama pada masalah-masalah etika yang tertuang pada pemikiran plato tentang “Yang Baik.” Plato pun mengilhami pemikiranya kepada Aristoteles yang menjadi murid terpandainya. Sehingga, Aristoteles ditugaskan untuk mengajar logika dan retorika di akademia.

Ketika kebudayaan Yunani berdialog dengan kebudayaan Romawi yang cenderung mewarisi gagasan-gagasan Plato yang berbau intelek-mistik menghasilkan kebudayaan yang dinamakan Skolastik yang melahirkan sekolah-sekolah bernuansa platonik. Dengan muatan religi yang begitu kental beimplikasi menjadikan Tuhan sebagai poros pemikiran pada waktu itu. Sehingga zaman ini memusatkan perhatian pada Tuhan dan disebut sebagai “Teosentris”.

Terlebih terjadi penyelewengan atas nama Tuhan. Seakan pendeta memiliki kuasa penuh atas langit. Tidak hanya langit, gereja pun membelenggu segala lini kehidupan manusia termasuk ilmu pengetahuan. Maka dari itu, dunia keilmuan barat pada abad pertengahan mengalami kemunduran dan disebut dengan Abad Kegelapan.

Setelah dunia intelektual dipenjara oleh otoritas gereja pada abad pertengahan munculah percikan-percikan gerakan perlawan terhadap otoritas gereja. Gerekan tersebut dimulai di Italia yang disebut Rennaisans. Gerakan ini pada mulanya adalah gerakan kecil sekelompok sarjana dan seniman yang didukung oleh Medici dan paus-paus yang humanis. Pada akhirnya menghasikan orang-orang besar seperti Leonardo, Michelangelo dan Machiavelli.

Bangkitlah ilmu pengetahuan di segala bidang khususnya sains yang dimotori oleh Copernicus, Kepler, Galileo dan Newton. Meskipun nuansa gereja masih begitu kental menyudutkan para saintis bahkan sampai membunuhnya, namun sains tetap mengepakkan sayapnya. Hal itu beriringan dengan kemajuan di bidang filsafat dengan kajiannya tentang jiwa yang dimotori oleh Rene Descartes di Perancis, logika yang dimotori Francis Bacon di Inggris, dan lain sebagainya.

Lalu munculah aliran-aliran filsafat yang memusatkan kajian pada ilmu pengetahuan seperti Rasionalisme, Empirisme, dan lain-lain. Belakangan muncul Materialisme dan Idealisme yang turut mewarnai dunia filsafat di Barat. Yang beriringan dengan zaman pencerahan yang terdapat dua peristiwa besar yakni, Revolusi Inggris dan Revolusi Perancis.

Manusia yang hidup pada zaman itu memiliki keyakinan bahwasannya mereka mempunyai masa depan yang cerah dan berkat rasio mereka sendiri. Dengan semboyan yang dicetuskan oleh Kant, “Sapere Aude!”, yang berarti: “Beranilah berpikir sendiri!”.

Pemikiran filsafat modern berkecimpung pada masalah manusia seperti halnya gagasan rasio dan ego dalam pemikiran Rene Descartes, ide absolutnya Hegel, Kritisismenya Kant, objektivitasnya saintis, emansipasi ala Marx, kemajuan linier dan lain-lain. Di dunia ilmu dan kebudayaan, modernitas diidentikan dengan berkembangnya teknologi yang sangat pesat, kejayaan kapitalisme, penemuan-penemuan teori ilmu alam, serta di bidang politik mulai subur konsep nation-state, dan-lain-lain.

Dalam penampilanya yang mutakhir  modernisme menimbulkan berbagai persoalan-persoalan dan berseberang dengan gagasan awal atau ide awal modernisme. Banyaknya ditemukan kontradiksi semisal, humanisme yang dibangun pada awal modern yang justru pada akhirnya memnjungkirbalikan manusia itu sendiri, kemajuan yang digaung-gaungkan justu melakukan pembakuan secara ketat pada bidang pengetahuan. Ditambah dengan lahirnya berbagai problematika, dehumanisasi, diskriminasi, alienasi, pengangguran, rasisme, termasuk lahirnya distingsi antara kaya dan miskin.

Jean Francis Lyotard seorang filsuf Prancis dalam bukunya, The Postmodern Condition: A Report On Knowledge (1984), menolak  filsafat modern yang berpijak pada prinsipya, yakni kesatuan ontologis yang pada akhirnya dipengaruhi teknologi sehingga denganya kekuasaan akan tersebar dan terbagi. Untuk itu, Lyotard menawarkan ide paralogi atau pluralitas (Indriyana: 2017:27). Dengan kata lain, manusia harus membuka kesadarnya dan menerima realitas yang sifatnya plural.

Lebih radikal lagi Lyotard melontarkan kritik pada prinsip-prinsip modernisme: ego, rasio, ide absolut, teleologis, emansipasi, oposisi biner, kemajuan, disebutnya sebagai Narasi Besar (Grand Narrative) telah mati dan tak lain hanyalah kedok belaka, mistifikasi, eksploitatif, ideologis, semu dan dominatif.

Derrida seorang filsuf Perancis menyerang dari sisi lain. Ia mencoba mendekontruksi asumsi-asumsi modernisme. Dekontruksi berusaha membongkar pandangan tentang fondasi, pusat, prinsip, dan dominasi. Sehingga dekontruksi menjungkirbalikan kondisi semula dan berusaha menelusuri makna-makna yang tidak dijamah oleh Modernisme.

Dekontruksi mencoba mempertanyakan, menyingkap ide-ide modernisme dan memunculkan paradoksnya (Hidayat: 2012). Seperti Humanisme Modern yang digadang-gadang dapat menyelesaikan masalah kemanusiaan, justru malah memunculkan berbagai permasalahan kemanusiaan seperti kelompok etnis, kaum feminis, ras kulit hitam dan lain-lain.

Foucault membombardir modernitas dengan lebih tajam. Ia mengawali dengan mengamati realitas mikro yang berkebalikan dengan modernisme yang berpusat pada realitas makro atau ke-universalitas-an. Ia juga berpandangan bahwa pengetahuan tentang kebenaran akan selalu terikat dalam sosio-historis yang sifatnya temporal. Berlawanan dengan modernisme yang berpegangan dengan konsep kebenaran obyektif dan universal.

Foucault mencoba memberedel relasi kuasa dan pengetahuan, dalam anggapan modernisme pengetahuan murni dan pengetahuan kuasa berjarak dan bukan suatu realitas yang tunggal. Namun, dalam anggapan Foucault dua pengetahuan tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang sama. Dalam pandangan Foucault, suatu pengetahuan akan diproduksi dan diseleksi guna mempertahankan kekuasaan dan melindungi dari berbagai ancaman serta dari upaya yang melemahkanya.

Disisi yang lain Jean Baudrillard mengkritik modernitas dari ranah kebudayaan masyarakat. Dalam hematnya, realitas sudah tidak lagi menampilkan wajahnya yang asli melainkan telah menampilkan wajah-wajah tipuan. Antara yang asli dan palsu sudah bertubrukan dan menjadi samar.

Wajah realitas yang samar terbukti seperti yang ditampilkan dalam media tentang Islam di dunia barat yang hanya mencitrakan Islam sebagai agama teroris. Namun apakah benar demikian? Seberapa besar kesesuaian realitas yang ditampilkan media dengan realitas yang asli? Semisal, amerika dalam membuat film Rambo yang memerankan tokoh heroik dalam memenangkan pertempuran, tetapi apa yang ada di balik film favorit berbagai kalangan itu? Yakni untuk menutupi fakta atas kekalahan dalam Perang Vietnam,

Dalam hal jual-beli pun demikian, iklan produk yang menampilkan sisi indahnya produk meskipun banyak ditemukan kecacatan bahkan kepalsuan ketika menerima produk atas apa yang dibeli dari daya tarik iklan, lebih parah lagi filter foto yang tersedia di berbagai aplikasi yang merekayasa kecantikan seseorang. Dalam bahasa Baudrilard ini disebut dengan Hyperealitas, dimana antara fakta dan citra saling bertubrukan.

Hyperealitas telah melampaui realitas, sehingga realitas, kebenaran, fakta, dan obyektivitas kehilangan eksistensinya (Hidayat : 2012). Realitas yang tak nyata terus dikendalikan dan terus menerus diproduksi. Sehingga fenomena hyperealitas ini diikuti oleh fenomena hyper-hyper yang lainnya seperti, hypermarket, hypersexuality, hypersensibility, dan lain-lain.

Di atas telah dijabarkan bahwasanya paradigma kebenaran obyektif dan universalitas yang diusung filsafat modern telah mengalami kepunahan. Apa yang dijanjikan ideologi-ideologi besar malah menimbulkan berbagai anomali-anomali baru. Teori-teori sosial maupun alam telah kehilangan koherensinya. Teori-teori filsafat modern pun telah ditinggalkan. Semuanya telah hancur berkeping-keping. Mulailah paradigma baru, yakni paradigma postmodernisme. []

Zaman Sedang Berpuisi

Oleh: Ahmad Miftahudin Thohari

Sumber foto: https://pixabay.com/photos/zadar-sunset-ship-mast-ship-masts-253489/

Di titik sebelah manakah engkau memijakkan kaki, sehingga kuat kuda-kuda kakimu untuk tetap tegak berdiri supaya tak terombang-ambing kehidupanmu di tengah hantaman badai kebingungan zaman? Dan, dengan posisi seperti apakah engkau menegakkan diri, supaya bola matamu tepat berada dalam garis lurus sehingga engkau dapat melihat kehidupan secara jernih dan akurat?

Bencana zaman sudah sedemikian menari-nari. Di satu sisi, engkau dapati arus informasi seperti banjir bandang yang berhasil menghanyutkan dan menenggelamkan akal kesadaran hidup.

Manusia menjadi semakin dungu, justru pada saat buah-buah informasi begitu mudah diakses—didapatkan. Engkau bisa melihat media-media tiap saat terus saja bergulat dengan berita-berita yang memusingkan kepala. Media sosial atau ragam sosmed-sosmed juga semakin mendukung gerak laju kepandiran zaman. Dan, para manusia semakin gandrung menyetubuhinya tanpa rasa hina. Hari demi hari, tanpa pernah berhenti.

Sedang di sisi lain, banjir, tanah longsor, gempa bumi dan sebagainya kian meluluh-lantakan bangunan kehidupan.

Para penguasa kini tak hanya bersikap berkuasa. Para pemimpin menjadi contoh sosok yang ampun sekali untuk dijadikan figur di depan—ia menjadi sebuah contoh perilaku yang tak layak ditiru. Sedangkan di lain pihak, para cendekia, tokoh intelektual, sarjana akademisi, pun tokoh-tokoh agama, budayawan dan sastrawan juga lebih memilih mengartikulasikan nada ucapannya atas realitas zaman dengan pilihan lapis retorika yang paling lembut—yang sulit dipahami. Dan, aku di sini akan pula memilih memahami itu dengan tatapan anggapan bahwa: zaman sedang memuisi, di mana dunia sedang menggurat puisi-puisi yang menggambarkan dirinya sendiri, di hari ini.

Engkau bisa saksikan ornamen-ornamen sketsa, guratan dan goresan menyatu padu menjadi sebuah abstraksi semesta yang lusuh. Engkau bisa saksikan warna-warni telah menjadi adonan yang bercampur aduk. Engkau bisa saksikan wajah dunia tampil dengan rona yang lucu dan rancu. Engkau bisa saksikan tubuh dunia dihias sedemikian rupa dengan nilai-nilai yang ditata oleh sistem dan struktur tak pada tempat semestinya. Engkau juga bisa saksikan, bahwa dulu para manusia begitu sibuk mencari kebenaran di dalam dirinya dengan cara mengoreksi setiap hitungan-hitungan langkahnya dengan sangat teliti. Dan, kini engkau saksikan sesuatu yang berbeda, di mana manusia telah berhasil memadukan antara keduanya mengakulturasi secara lembut sehingga harga dari nilai sebuah kebenaran hanya bisa diperdebatkan dan dipertentangkan.

Dan lagi, engkau bisa saksikan pula posisi-posisi dan penyikapan terhadap nilai agama, politik, kebudayaan serta hukum sudah semakin kehilangan kemungkinannya untuk bisa benar-benar sampai di sebuah titik ujung kutub acuan yang tepat. Sebab segala akurasi dan orientasinya telah diberlakukan secara kian silang sengkarut. Sehingga nilai-nilai itu demikian melayang-layang dan terombang-ambing di tengah-tengah kebingungan untuk berlabuh pada pijakan yang pas—untuk sungguh-sungguh dapat berhenti di titik kutub yang seharusnya.

Pun, nilai agama, ilmu, moralitas, demokrasi dan cinta kasih sosial menjadi suatu prinsip-prinsip nilai yang sulit sekali menemui esensi makna dan eksistensi implementasinya dalam kehidupan. Serta, akan semakin sukar pula untuk bisa bertemu atau bahkan menemui “sosok”, “seseorang” maupun “manusia” itu sendiri dengan segala mekanisme kubu yang dipilih dan fokus golongannya masing-masing, sebab yang bisa ditemui saat ini hanyalah bentuk-bentukan benda yang sulit sekali dirumuskan apalagi dipahami bahkan dengan khazanah maupun wacana keilmuan model apapun. Hanya sempalan-sempalan dan cabikan-cabikan nilai yang dapat ditemui, dan itupun sebatas dimaknai demi sebuah kepentingan sesaat sesuai kecenderungan selera budaya, grand design politik, orientasi laba dan ketololan spiritual, yang itu timbul dalam diri manusia secara serta-merta.

Zaman sedang memuisi. Para manusia mengekspresikan suasana kekeruhan hati dan kegamangan pikirannya dengan artikulasi ungkapan nada yang bermacam-macam. Satu jenis diantaranya membumikan kata-kata langitnya dengan cara halus dan sedemikian lembut. Satu jenis lagi melangitkan kata-kata buminya dengan sangat lantang, penuh energisitas semesta raya.

Susunan denotasi dirangkai secara apik. Rangkaian konotasi disusun secara indah. Di saat yang sama, denotasi dipahami lewat simbol-simbol konotatif dan konotasi dicerdasi melalui paradigma berpikir serba denotatif. Bahasa hukum dimaknai dengan bahasa sastra, sedang bahasa sastra diartikan justru dengan bahasa hukum yang kaku. Seluruh istilah, idiom maupun terminologi kini saling tumpang tindih dan berjejal-jejal.

Sebagai contoh, kalau hendak mengurai sebuah pohon, umpamanya. Tak diawali metodenya dengan cara menilai bagaimana struktur unsur-unsur zat haranya. Tak juga dipahami jenis tanah dan tipe akarnya. Tak diselami kontruksi batang penopangnya yang lantas menghasilkan dahan dan rating-rating sebagai cabang perwujudkan bentuk selanjutnya. Sehingga terjawab bagaimana sebuah daun bisa menumbuhkan suatu buah yang rasanya manis, masam ataupun pahit. Walhasil, orang sudah semakin kehilangan landasan berpikir dan penilaian yang utuh dan komprehensif atas segala sesuatu.

Contoh lagi, kalau saja temanmu detik ini mendapatimu sedang mengikuti dan melakukan kajian ilmu, di selang beberapa puluh meter selanjutnya temanmu itu bertemu dengan temanmu yang lain yang mengatakan bahwa engkau sedang asyik nongkrong di café sambi rokok’an—maka temanmu akan percaya bahwa engkau sedang berada di café.

Oleh karena itulah, zaman memang benar-benar sedang memuisi. Kehidupan telah tampil di hadapanmu tidak sebagai sebuah “realitas”, tetapi sebagai sebuah reality design yang telah mengalami kristalisasi makna yang teramat sukar dicerna. Para manusia menampilkan dirinya dengan sedemikian rupa tidak sebagai seseorang yang pure present people, tetapi dengan topeng ganda yang penuh citra sosial. Dan, engkau akan dinilai sangat naif, apabila sekadar memahami personality perform tanpa melihat konsep tendesius dibalik retorika aktualisasi cara mainnya. Engkau akan tertipu dan jatuh lumpuh ke dalam jurang kepalsuan budaya.

Pada akhirnya, engkau juga tak bisa mengelak dari itu semua. Mau bersembunyi di dalam tanah bahkan masuk ke alam ghaib sekalipun, engkau tetap akan terpergok oleh semua itu. Satu-satunya jalan untuk selamat adalah mengambil sebuah putusan yang bernilai harga mati. Maka dari itu, engkau tetap harus waspada dalam keadaan apapun. Bahkan, waspada di dalam kewaspadaanmu sendiri.

Aku hanya mampu berharap, bahwa akan lahir nantinya seorang penyair, satrawan atau apapun itu dengan puisi-puisi yang dapat mengembalikan semerbak bau harum dari bunga-bunga segar yang kembali mekar.

Sedang aku sendiri tak lebih hanyalah salah satu peserta lomba marathon yang berlari tertatih-tatih di ujung ekor zaman. Akan tetapi, aku tetap bersyukur sebab Sang Maha Penyair setidaknya telah berkenan memberikan kesempatan kepadaku untuk ikut dalam perlombaan marathon zaman yang amat panjang dan masih demikian jauh ujung garis finishnya ini.

Sedangkan engkau, wahai kawanku  yang budiman. Tidakkah kau berkenan ikut? []

THE TAO OF ISLAM

Kitab Rujukan tentang Relasi Gender dalam Kosmologi dan Teologi Islam

Oleh: Setiyani Eky

Sumber foto: https://id.pinterest.com/pin/360288038929441037/

Penulis             : Sachiko Murata

Tahun Terbit   : Cetakan II, 1996

Penerbit           : Penerbit Mizan

Kota Terbit      : Bandung

Jumlah Halaman: 462 halaman

Nomor ISBN  : 979-433-095-7

Sebuah buku yang berjudul The Tao Of Islam ini merupakan buku karya dari Sachiko Murata seorang profesor studi agama pada Department of Comparative Studies di State University of New York at Stony Brook, Amerika Serikat. Buku ini terdiri dari empat bagian yaitu, bagian I Tiga Realitas; bagian II Teologi; bagian III Kosmologi; dan bagian IV Psikologi Ruhani. Buku ini terdiri dari 10 bab.

The Tao Of Islam adalah sebuah antologi yang lengkap dan kaya dalam bidang pemikiran Islam tentang hakekat hubungan antar Tuhan serta menjelaskan relasi gender dengan memakai perspektif kosmologi Islam dalam batasan-batasan Taoisme. Relasi gender direpresentasikan dengan polaritas antara Yin dan Yang.

Yin digambarkan sebagai sifat feminim (jamal, bumi) dan Yang digambarkan sebagai sifat maskulin (jalal, langit). Kualitas yin (feminis) dan kualitas yang (maskulin) digabungkan akan membentuk suatu kesatuan yang sempurna atau al-kamal. Kemudian polaritas-polaritas ini nantinya akan membentuk hubungan yang saling berkorespndensi antara Tuhan (Teologi), Alam (Makrokosmos), dan Manusia (Mikrokosmos).

Dalam bagian Teologi (Tuhan), polaritas Yin dan Yang digambarkan melalui  nama-nama-Nya (Asmaul Husna) yang sudah tertera dalam nash menjadi dua bagian sifat, yaitu kualitas maskulin dan feminis. Keseimbangan antara kualitas maskulin seperti Allah yang Maha Agung, Kuasa, dan kualitas feminis sebagai yang Maha Pengasih, Penyayang, dan Penerima.

Dari korespondensi dualitas kualitas ini, muncul pluralitas, diferensiasi, keterpisahan yang semuanya dijelaskan secara panjang lebar dalam proses penciptaan jagat raya (alam) sebagai makrokosmos, dan manusia sebagai mikrokosmos.

Dalam bagian Kosmologi, dimulai dari sepenggal QS. Adh-Dhariyat ayat 49 yang artinya “dan segala-galanya Kami ciptakan serba berpasang-pasangan…”. Ayat tersebut menjelaskan adanya zawjan (pasangan) pria dan wanita di antara makhluk-makhluk hidup dan jenis yang berbeda diantara benda mati misalnya langit dan bumi, siang dan malam, dan sebagainya, dari konsep dualitas sebagaimana adanya. Dalam mengemukakan makna yang lebih mendalam dari ayat tersebut, Rasyid Al-Din Maybudi melihat tanda-tanda ganda dalam seluruh benda sebagai indikasi kemustahilan Tuhan untuk diperbandingkan. Tuhan menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan untuk membedakan keesaan-Nya sendiri dengan kejamakan makhluk-makhluk-Nya.

Ciptaan itu mustahil tanpa dualitas, sebab hanya Tuhan saja yang Tunggal. Kemudian, Maybudi melambangkan pendekatan kearifan pada pemikiran kosmologi dengan menekankan kaitan erat antara dua dimensi dasar Tao of Islam, yaitu fenomena perilaku alam dan ketentuan-ketentuan moral dan spiritual dalam kehidupan manusia. Karena kosmos tergantung sepenuhnya pada Tuhan untuk eksistensi dan realitasnya. Dan penciptaan kosmos sendiri berawal dari adanya interaksi antara pasangan Yin dan Yang kemudian memunculkan suatu kehidupan. Dalam Al-Qur’an, keseluruhan kosmos digambarkan sebagai langit dan bumi. Sejumlah ayat menyarankan bahwa segala sesuatu di alam raya (kosmos) dicakup oleh kedua relasi ini yaitu, langit dan bumi. Langit diumpamakan sebagai Yang (maskulin) dan bumi diumpamakan sebagai Yin (feminis).

Langit adalah sesuatu yang tinggi dan memberikan limpahan pada satu tingkat di bawahnya sedangkan bumi adalah sesuatu yang relatif rendah dan menerima limpahan dari satu tingkat diatasnya. Penjelasan mudahnya begini, langit berada di atas, ia menjatuhkan airnya kepada bumi yang ada di bawah. Kemudian bumi mengeluarkan benda-benda yang terkandung di dalamnya. Dalam hal ini, langit memberikan pengaruh, sedangkan bumi menerima pengaruhnya. Proses jatuhnya air dari langit ke dalam bumi adalah sebuah proses perkawinan di mana ada yang memberikan pengaruh dan menerima pengaruh, kemudian menghasilkan suatu pengaruh lain pula.

Meskipun langit yang memberikan pengaruh atau pelimpah dan bumi adalah penerima, tetapi tingkat bumi di atas daripada langit. Jadi, Hawa adalah di atas Adam. Namun, tidak pernah ada waktu ketika tidak ada langit dan tidak ada bumi, sebab selalu ada langit dan bumi, karena keduanya saling melengkapi.

Dalam pembahasan di bagian terakhir yaitu, Psikologi Ruhani, menekankan kesempurnaan penciptaan manusia dengan prinsip ta’wil, pembahasan hati, dinamika jiwa, dan representasi manusia sebagai mikrokosmos yang berhubungan dengan makrokosmos (alam) mewujudkan metakosmos, membuat ketiga realitas tersebut menjadi satu (tauhid).

 Prinsip-prinsip ta’wil atau hermenetisme esoterik. Ta’wil berasal dari akar yang sama dengan kata awwal, “pertama” yang merupakan salah satu nama Tuhan. Kata ta’wil berarti kembali, menyebabkan kembali, mereduksi, menemukan sesuatu yang dapat direduksi. Karena Tuhan adalah yang pertama dalam hubungannya dengan segala sesuatu. Banyak ahli memahami istilah itu bermakna membawa sesuatu kembali kepada yang pertama, menunjukkan hubungan sesuatu dengan yang pertama, mengikat sesuatu kembali pada Tuhan.

Ta’wil sering dikatakan mengacu pada pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dengan memperhatikan implikasi-implikasi yang tersembunyi di bawah atau di balik makna harfiahnya dengan menambahkan dimensi perenungan pribadi.

Bagi kebanyakan Sufi, ta’wil didasarkan atas pengetahuan akan makna esoterik Al-Qur’an yang diberikan oleh Tuhan sendiri. Pengetahuan ini tidak dapat ditangkap melalui pengajaran biasa. Ia dapat diperoleh hanya dengan cara menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan sebagai yang terwujud dalam Al-Qur’an. Begitu seseorang condong hatinya pada Al-Qur’an, maka Al-Qur’an pun menyerahkan dirinya. Pencari itu harus menjadi Yin bagi Yang-nya Al-Qur’an.

Ketika Rumi membandingkan Al-Qur’an dengan seorang mempelai wanita, orang menyangka dia menganggap wanita itu menyerahkan dirinya kepada suaminya. Maksudkannya adalah bahwa suami itu harus menyerah pada kehendak istrinya. Hanya dengan menyerahkan diri pada orang lain saja, maka kita dapat meraih nilai bagi penyerahan diri orang lain itu.

Kemudian dalam pembahasan hati, Allah telah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 179 yang artinya “mereka mempunyai hati, tetapi tidak mempergunakannya untuk memahami. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak mempergunakannya untuk melihat. Mereka mempunyai telinga, tetapi tidak mempergunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi”. Maksud dari ayat tersebut, mereka itu tuli terhadap realitas-realitas, bodoh terhadap hal-hal yang rumit, buta terhadap objek-objek supraindrawi, objek-objek yang dapat dipahami dengan mata hati.

Tuhan tidak bermaksud menyalahkan mereka karena tidak mendengar suara, tidak melihat warna-warna, dan tidak mengetahui permasalahan kehidupan. Tidak, Dia menyalahkan mereka hanya karena mereka tidak memahami urusan kembali pada Tuhan (ma’ad).

Manusia memiliki kualitas langit juga kualitas bumi sehingga manusia adalah makhluk yang sempurna. Manusia adalah representasi dari Yin (jamal) dan Yang (jalal) yang menunjukkan kesempurnaan proses penciptaan. Manusia diciptakan oleh Allah dengan kedua tangan-Nya, dan manusia juga memiliki akal. Manusia memiliki jiwa maskulin yang aktif, yang dapat merusak jiwanya untuk berusaha menguasai suatu hal dan berbuat kejahatan. Dan manusia juga memiliki jiwa feminis yang damai dan sepenuhnya tunduk kepada Tuhannya.

Oleh karena itu, kita sebagai manusia harus menyeimbangkan serta menyelaraskan antara maskulin dan feminis agar kita menjadi manusia yang aktif, kuat namun dengan tetap selalu tunduk pada Tuhan serta senantiasa menahan dan menjaga nafsu kita dari perbuatan munkar.

Maka ketahuilah, bahwa kunci kepada pengetahuan tentang tuhan adalah pengetahuan tentang diri sendiri. Orang yang mengenal dirinya sendiri, maka ia akan mengenal Tuhannya.

Pada akhirnya, Buku ini berupaya untuk menunjukkan adanya kesetaran gender bahwa derajat wanita itu sama dengan laki-laki. Dan dari buku ini, kita dapat memahami hubungan antara 3 realitas berikut seperti, Tuhan (Teologi), Alam (Makrokosmos), dan Manusia (Mikrokosmos). Tiga realitas tersebut menunjukkan hubungan kesatuan. Jika ingin melihat keberadaan Tuhan maka dapat dilihat dari tanda-tandanya dan ini bisa dilihat dari makrokosmos dan dikuatkan dengan ayat Al-Qur’an tentang hal tersebut.

Pembahasan mengenai psikologi ruhani juga mengajarkan kita bahwa kita sebagai manusia diciptakan secara sempurna karena memiliki akal dan jiwa yang disertai dengan hati. Karena manusia sejati itu bergantung pada akal dan hatinya bukan dengan nafsunya.

“Selalu periksa keadaan batinmu menggunakan sang Raja dari hatimu. Tembaga tidak pernah mengetahui dirinya tembaga, sebelum ia berubah menjadi emas. Cinta kasihmu tidak akan mengenal Rajanya, sebelum ia menyadari ketidakberdayaannya. Akhirnya, kebenaran sejati hanya ada pada Allah SWT.” Jalaluddin Rumi.